Istilah "Kaum Rebahan" Sudah Basi di China, Kini Muncul Lagi Tren Baru

Merdeka.com - Merdeka.com - Tren ‘rebahan’ sempat naik daun di kalangan anak-anak muda Indonesia beberapa waktu lalu. Istilah ‘kaum rebahan’ yang memilih tiduran dan menghindari tanggung jawab pun lebih dipilih dibandingkan bekerja dan bersosialisasi.

Namun berbeda dengan anak-anak muda di China. Rebahan bukan lagi tren, tapi ‘letting it rot’ atau ‘membiarkan membusuk’ lebih dipilih pemuda-pemuda China.

Dikutip dari laman South China Morning Post, Selasa (4/10), ‘biarkan membusuk’ adalah tren anak muda China yang mencoba untuk tidak berpartisipasi dalam masyarakat dan lebih memilih untuk meninggalkan pekerjaan.

Tren 'biarkan membusuk' itu diikuti oleh Yan Jie, seorang pemuda China berumur 28 tahun yang bekerja di perusahaan teknologi.

"Ketika saya diberi tugas di tempat kerja, saya berusaha menghindarinya. Jika saya dipaksa untuk melakukan pekerjaan itu, saya akan melakukannya tetapi tidak selesai," jelas Yan.

Yan pun meninggalkan tulisan di pintu kamar apartemennya jika dia melakukan aksi ‘bailan’ atau "biarkan membusuk". Bahkan saat Yan ditanya orang tuanya kapan dia akan menikah, Yan tidak menjawab pertanyaan itu.

"Ketika orang tua saya bertanya kepada saya tentang kapan saya akan menikah, saya memberi tahu mereka bahwa saya akan membiarkannya begitu saja," jelas Yan.

Kata ‘balian’ sendiri mengacu pada sikap menyerah di situasi yang sedang memburuk. Kata ‘balian’ makin terkenal di kalangan pemuda China karena mereka tidak sanggup lagi hidup di tengah tekanan sosial yang tinggi.

Jadi daripada mereka menghabiskan tenaga, kalangan pemuda China lebih memilih agar mereka ‘dibiarkan membusuk.’

Tren ‘balian’ yang semakin meningkat membawa kata itu kerap digunakan pemerintah China.

Yu Hai, profesor di Departemen Sosiologi Universitas Fudan, Shanghai, China menjelaskan jika ada perubahan pada mentalitas pemuda yang awalnya ‘lying flat’ atau 'rebahan' hingga menjadi ‘allowing things to rot’ atau membiarkan hal membusuk.

"Rebahan adalah ekspresi netral, pilihan yang tidak berbahaya untuk berjuang tidak lebih dari apa yang penting untuk kelangsungan hidup mereka. Tapi ungkapan ‘biarkan membusuk’, yang menunjukkan bagaimana orang benar-benar menyerah dan bersedia menerima situasi yang lebih buruk, menunjukkan konotasi negatif, sesuatu yang tampaknya secara moral tercela," jelas profesor Hai.

Menurut Hai, tren biarkan membusuk itu adalah strategi anak muda untuk melindungi diri mereka dari persaingan yang ketat dan tekanan sosial yang meningkat.

“Tidak ada yang suka digambarkan oleh orang lain sebagai ‘busuk’, tetapi ketika orang menempatkan diri mereka pada posisi yang sangat rendah dan menyebut diri mereka seperti itu (busuk), mereka menyelamatkan diri dari kritikan,” jelas Hai.

Mentalitas biarkan membusuk diyakini terbentuk karena sifat kompetitif pemuda China yang selalu ingin menjadi pemimpin dan memiliki banyak uang.

Yan sendiri mengungkap dia mengikuti tren biarkan membusuk karena harga rumah dan ekspektasi kencan yang tinggi.

Hal yang sama juga dirasakan jutaan pemuda di China, bahkan media sosial China, Xiaohongshu menunjukkan 2,3 juta hasil pencarian dari kata ‘balian’. Kata itu juga terkenal di Bilibili, jejaring sosial video China mirip YouTube.

Semakin terkenalnya kata ‘balian’ sendiri menunjukkan rasa pesimisme dan kekecewaan di kalangan generasi muda Tiongkok. Para ahli pun memperingatkan tren itu dapat membawa dampak buruk bagi pertumbuhan ekonomi China.

Kompetisi yang makin ketat pun menjadi salah satu alasan penyebaran tren "biarkan membusuk".

“Beberapa dekade lalu, ketika kami pertama kali memulai reformasi dan kebijakan keterbukaan, banyak pekerjaan dan peluang tersedia karena ambang batas untuk pekerjaan rendah. Orang-orang merasa menghasilkan uang itu mudah. Tetapi periode ini telah berakhir setelah sekitar 40 tahun,” jelas profesor Shi Lei.

“Sekarang ini resume yang lebih baik untuk memenuhi permintaan pertumbuhan ekonomi yang tinggi diperlukan, yang mempersulit beberapa orang untuk mencari pekerjaan, dan telah menciptakan lonjakan jumlah mahasiswa pascasarjana,” lanjutnya.

Bagi Lei, tren "biarkan membusuk" berlebihan dan memenuhi atmosfer sosial media sehingga mampu membawa dampak. Namun bagi anak muda China yang ikut tren itu, ‘bailan’ memungkinkan mereka untuk hidup nyaman dan mengikuti hobi-hobi mereka.

“Sejak kecil saya diajari untuk rajin dan pantang menyerah. Tapi saya menemukan di masa dewasa ini sangat melelahkan. Mengapa kita tidak bisa melambat? Mengapa kita harus selalu berjuang untuk maju?,” jelas Yan.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]