Isu Kasal Yudo Margono jadi Panglima TNI, Begini Prediksi Anggota DPR

Merdeka.com - Merdeka.com - Anggota Komisi I DPR Fraksi Partai Golkar Dave Laksono menanggapi isu Kasal Laksamana Yudo Margono menjadi calon Panglima TNI menggantikan Jenderal Andika Perkasa. Dia menilai semua perwira tinggi TNI bakal mampu menjalankan tugas sebagai Panglima TNI baru.

"Semua itu adalah perwira terbaik dan kami yakin para perwira tinggi tersebut mampu melaksanakan tugas," kata Dave di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (13/9).

Dave mengungkapkan harapan kepada Panglima TNI baru yakni dapat meremajakan alutsista dan menyelesaikan segala ancaman baik dari dalam dan luar Indonesia.

"Harapan kami adalah perwira TNI yang akan datang akan terus memperbarui meremajakan alutsista, meningkatkan moralitas, dan bisa menyelesaikan segala situasi permasalahan baik di tubuh TNI maupun ancaman yang dihadapi Indonesia," ungkapnya.

Soal peluang Yudo menjadi Panglima TNI, Dave mengatakan tak mau mengandai-andai. Keputusan calon Panglima TNI tersebut tetap menjadi hak prerogatif.

"Itu kembalikan ke hak prerogratif presiden lah, biar presiden yang menentukan. Jangan kita yang membahas, nanti memperuncing permasalahan atau membuat masalah yang tidak ada. Jadi kembali kan presiden, biar presiden yang menentukan," kata Dave.

Respons Yudo Margono

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono enggan berandai-andai apabila dirinya ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai Panglima TNI. Ia mengaku hal itu merupakan hak prerogative presiden.

"Kembali lagi saya sampaikan itu adalah hak prerogative presiden. Jadi jangan disebut-sebut, jangan diandai andai ya, sudah kita serahkan pada bapak presiden yang memiliki kewenangan yang memiliki hak prerogative untuk menunjuk panglima TNI ke depan," kata Yudo dalam acara Fun Run dalam rangka memperingati HUT TNI Angkatan Laut ke-77 Tahun di Balai Samudera.

"Sudah jangan berandai-andai serahkan pada bapak presiden, tanya pada bapak presiden. Loh wong belum kok program bagaimana ditunjuk belum kok program. Ya serahkan bapak presiden," sambungnya ketika disinggung program bila menjadi panglima TNI.

Kendati demikian, Yudo mengaku siap apabila dirinya ditunjuk Jokowi melanjutkan posisi Andika Perkasa. Pasalnya, kesiapan itu merupakan yang harus dijalankan oleh seluruh prajurit.

"Prajurit saya sampaikan, prajurit bukan saya saja, kalau diperintah, ditunjuk pasti akan siap. Saya yakin jawabannya semua prajurit ini ditanya siap, pasti siap. Ya sudah itu, memang yang ada prajurit untuk diperintah dan melaksanakan tugas pasti akan siap," pungkasnya.

Kandidat Calon Panglima TNI

Jenderal TNI Andika Perkasa akan memasuki pensiun sebagai prajurit pada Desember 2022. Sesuai tanggal lahir, 21 Desember 1964, jenderal berbintang empat itu akan memasuki usia 58 tahun. Dengan demikian, maka masa jabatannya sebagai Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) juga akan berakhir.

Siapa pengganti Andika, sesuai aturan, calon Panglima TNI yang akan diajukan oleh Presiden kepada DPR untuk diuji dalam hal kompetensinya adalah perwira tinggi yang pernah menduduki kepala staf angkatan dan belum memasuki masa pensiun.

Dengan ketentuan itu, maka yang berpeluang dipilih oleh Presiden Joko Widodo saat ini adalah Kepala Staf TNI Angkatan Darat (AD) Jenderal TNI Dudung Abdurachman, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (AL) Laksamana TNI Yudo Margono dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (AU) Marsekal TNI Fadjar Prasetya.

Untuk melihat peluang ketiga perwira tinggi itu akan dipilih oleh Presiden Joko Widodo, dapat menggunakan sejumlah parameter, yakni usia para kandidat dan sistem bergilir antar angkatan.

Dari sisi umur, ketiganya memiliki peluang yang sama, karena hingga Desember 2022 masih memiliki waktu aktif antara satu hingga dua tahun. Jenderal Dudung Abdurachman, lahir pada 19 November 1965 atau berusia 57 tahun, Laksamana Yudo Margono lahir 26 November 1965 atau berusia 57 tahun dan Marsekal Fadjar Prasetyo lahir 9 April 1966 atau berusia 56 tahun.

Marsekal Fadjar Prasetyo adalah calon yang usia aktifnya paling lama, sekitar dua tahun. Meskipun ketiganya berbeda usia, namun mereka sama-sama merupakan lulusan Akademi TNI angkatan tahun 1988.

Sementara dari sisi sistem bergiliran antar angkatan, jika saat ini Panglima TNI dijabat oleh perwira tinggi dari Angkatan Darat, maka pada periode selanjutnya adalah peluang bagi perwira tinggi dari TNI Angkatan Laut atau TNI Angkatan Udara. [ray]