Isu Konflik Sudahi 'Bulan Madu' Singkat Gubernur Kepri dan Wakilnya

Merdeka.com - Merdeka.com - Hubungan Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ansar Ahmad dengan wakilnya, Marlin Agustina diterpa isu keretakan. Keduanya santer dikabarkan sedang berkonflik. Pastinya, dimulai tidak lama setelah keduanya dilantik sebagai pemimpin provinsi pada 25 Februari 2021.

Setidaknya ada dua isu besar yang menyudahi masa-masa 'bulan madu' Ansar dan Marlin sebagai pemimpin provinsi. Pertama soal bagi-bagi jabatan. Dan kedua soal Pilkada 2024.

Ansar merespons isu tersebut. Dia mengaku harus berlaku adil dalam menempatkan seseorang sebagai pejabat di lingkup pemerintahan daerah, termasuk posisi sekretasi daerah.

"Sekarang kerja saja dulu untuk masyarakat. Kalau soal Pilkada 2024 masih lama dan jabatan pun demikian, kita berlaku adil untuk mencari pejabat berkompeten dari semua kabupaten/kota untuk diajak kerja sama membangun Kepri," kata Ansar. Dikutip dari Antara, Kamis (12/8/2021).

Ansar mengaku bekerja sesuai undang-undang, sedangkan masing-masing sudah tahu terhadap tugas pokok dan fungsinya. Dia menegaskan tidak pernah membatasi Wakil Gubernur Marlin menghadiri suatu acara.

Bahkan, dia kerap melakukan disposisi ke Marlin jika ada temuan-temuan dari BPK, BPKP, hingga Inspektorat.

"Kalau ke Batam, saya selalu undang Ibu Marlin. Tapi tidak pernah hadir, mungkin beliau sibuk mendampingi Pak Rudi," ujarnya kala itu.

Ansar pun berulang kali mengajak Marlin agar fokus bekerja mengemban amanah sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Kepri hingga masa akhir jabatan.

Sementara itu, dalam suatu kesempatan, Marlin mengutarakan hubungannya dengan Ansar terjalin dengan baik.

Dia mengakui memang jarang terlihat bersama Ansar, namun bukan berarti keduanya tidak harmonis.

"Kami punya tanggung jawab masing-masing, jadi wajar kalau tidak bisa terus berdampingan satu sama lain," ujarnya.

Marlin pun meminta masyarakat memahami statusnya sebagai istri wali kota sekaligus Ketua PKK Batam, sehingga lebih banyak ambil peran dalam menghadapi pandemi di daerah tersebut.

"Jadi jangan heran, kalau saya bolak-balik Tanjungpinang dan Batam," ucap dia.

Marlin yang juga istri Wali Kota Batam Muhammad Rudi ini juga tidak membeberkan alasan kenapa ia jarang hadir ketika diundang mendampingi Ansar pada acara-acara pemerintahan di Batam.

"Saya, no comment," ucap Marlin.

Hubungan Ansar dan Marlin ini disayangkan anggota DPRD Kepri Wahyu Wahyuddin. Menurutnya, keduanya harus kompak dalam menjalankan roda pemerintahan daerah.

"Habis pilkada, kepala daerah tidak kompak. Bagaimana Kepri ini mau maju dan sejahtera," kata Wahyu.

Politikus PKS itu mengikuti informasi sejak Ansar-Marlin dilantik sebagai kepala daerah oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara Jakarta, 25 Februari 2021. Keduanya kerap diterpa kabar tidak harmonis, bahkan belakangan ini semakin mencuat ke permukaan publik.

Kendati begitu, ia enggan berkomentar lebih jauh mengenai penyebab ketidakharmonisan pasangan dengan tagline "AMAN" pada Pilkada 2020 tersebut.

Dia turut menyesalkan ketika mengikuti salah satu acara pemerintah bersama Ansar Ahmad di Kota Batam, namun tidak satu pun unsur jajaran Pemkot Batam, mulai tingkat kelurahan, kecamatan hingga pemkot datang.

"Termasuk Wali Kota Batam Muhammad Rudi dan istrinya, Marlin Agustina, yang notabane seorang Wakil Gubernur Kepri," katanya.

Dia berharap, baik Ansar maupun Marlin menyudahi polemik keretakan hubungan keduanya. Mereka harus bersatu dan bekerja sama demi kemajuan Kepri.

"Kalau kiranya ada yang perlu diselesaikan. Bisa dibicarakan secara baik-baik," ucapnya.

Bantah Konflik Meluas

Ansar menegaskan roda pemerintahan tetap berjalan normal dan sama sekali tidak terganggu dengan isu konflik politik, antara dirinya dengan Marlin.

"Pemerintahan tetap berjalan normal, tidak seperti yang disampaikan ada kubu-kubu sana dan kubu sini. ASN tidak terlibat konflik politik. Mereka bekerja profesional sehingga pemerintahan tetap berjalan optimal," kata Ansar di Tanjungpinang, Minggu (13/11).

Dalam perspektif pemerintahan, politikus Golkar itu menjelaskan bahwa hubungan dia dengan Marlin berjalan dengan baik. Isu keretakan hubungannya dengan Marlin itu sudah lama terdengar, meski Ansar maupun Marlin berupaya menepisnya.

"Sudah banyak isu soal itu, yang mungkin belakangan menyudutkan diri saya. Saya hanya ingin sampaikan bahwa kami lahir dari amanah rakyat, tentu kami bekerja sesuai dengan keinginan rakyat dan peraturan," tegasnya.

Ansar juga ingin mengingatkan bahwa konstitusi dan peraturan lainnya mengatur secara jelas tugas dan wewenang gubernur dan wakil gubernur. Tugas dan wewenang yang diberikan negara itu merupakan amanah suci yang dipercayakan rakyat kepada pemimpinnya.

Hasil Pilkada

Gubernur dan wakil gubernur akan mampu memberi kontribusi yang berarti untuk masyarakat, dan merealisasikan janji politik saat pilkada bila seluruh peraturan dilaksanakan.

Peraturan itu pula mendorong gubernur dan wakil gubernur berjalan seirama agar program pembangunan yang dicanangkan dapat berjalan optimal. Jika tidak seirama, memungkinkan ada peraturan yang dilanggar.

"Saya hanya ingin sampaikan bahwa banyak pekerjaan sebagai kepala daerah yang harus dilaksanakan. Tentu setiap organisasi perangkat daerah harus dievaluasi, membutuhkan masukan dari kepala daerah agar program pemerintahan terlaksana secara maksimal," ujarnya.

Dia juga mengingatkan para ASN bekerja profesional, dan tidak terlibat politik prajtis menjelang pemilu dan pilkada.

"Pemilu dan pilkada masih jauh. Saya pikir yang harus dilakukan sekarang adalah melaksanakan tugas semaksimal mungkin," pungkasnya.

Sebelumnya, pasangan Ansar-Marlin menang pada Pilgub Kepri tahun 2020. Pasangan calon nomor urut 03 yang didukung oleh empat partai politik yaitu, Golkar, NasDem, PPP dan PAN ini meraih 308.553 suara atau sebesar 39,97 persen.

Pasangan ini menang di lima kabupaten/kota, yaitu di Ibu Kota Provinsi Kepri, Kota Tanjungpinang sebanyak 49.921 suara dari 92.825 pemilih yang memberikan suara; di Kabupaten Bintan mendapatkan 54.050 suara dari 87.095 pemilih; di Kabupaten Anambas memperoleh 12.135 suara 26.502 pemilih.

Berikutnya, di Kabupaten Lingga sebanyak 26.560 suara dari 57.231 pemilih; di Kabupaten Natuna sebanyak 18.929 suara dari 46.196 pemilih.

Sementara itu, di Kota Batam dan Kabupaten Karimun, paslon yang disingkat dengan sebutan "AMAN" itu dinyatakan kalah.

Di Batam mereka meraih 110.980 suara dari 377.388 pemilih, sedangkan di Karimun meraih 49.921 suara dari 113.663 pemilih.

Anggota KPU Provinsi Kepri Arison menyebutkan dari hasil pleno rekapitulasi, paslon nomor urut 01 Soerya-Iman meraih 183.317 suara; paslon nomor urut 02 Isdianto-Suryani mendapatkan 280.160 suara; dan paslon nomor urut 03 Ansar-Marlin meraih 308.553 suara. [cob]