Isu Pembekuan Darah, Menkes Tunda Vaksinasi COVID-19 AstraZeneca

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 1 menit

VIVA – Vaksin COVID-19 AstraZeneca ditangguhkan untuk sementara oleh Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin. Hal ini terkait adanya laporan gangguan pada darah terhadap penerima vaksin di beberapa negara Eropa.

Dikatakan Menkes Budi, kaitan antara pembekuan darah dan efek samping vaksin AstraZeneca sebagai kejadian luar biasa itu, masih terus diteliti. Beberapa negara di Eropa juga telah menghentikan sementara pemberian vaksin meski otoritas kesehatan Inggris dan Uni Eropa belum memberi konfirmasi lebih lanjut.

"AstraZeneca ini memang sempat keluar di beberapa negara Eropa mengamati adanya gangguan di darah kemudian mereka menghentikan, sampai sekarang berita yang kami terima dari WHO mereka masih teliti," kata Menkes dalam rapat bersama Komisi IX DPR, Senin 15 Maret 2021.

Dengan masih diteliti kaitan antar keduanya, maka Menkes Budi menyebutkan hal itu yang menjadi dasar penundaan distribusi dan penggunaan vaksin tersebut di Tanah Air. Penundaan ini akan dilakukan hingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan konfirmasi.

"Konservatif BPOM menunda dulu implementasi AstraZeneca menunggu konfirmasi WHO," ujarnya.

Menkes Budi berharap, konfirmasi dari WHO bisa segera diterima secepat mungkin. Sebab, Menkes Budi menyebut, tanggal kadaluwarsa menjadi sorotan utamanya.

"(Konfirmasi WHO) Mudah-mudahan bisa keluar. AstraZeneca expired di akhir Mei," tutur Menkes Budi.

Persoalan kadaluwarsa ini, kata Menkes Budi, cukup janggal lantaran vaksin AstraZeneca baru tiba di Tanah Air. Seharusnya, pihak produsen memikirkan jarak kadaluwarsa dengan adanya interval pemberian vaksin sebanyak dua kali

"AstraZeneca sudah datang, biasanya itu ada enam bulan sampai satu tahun, ini kita baru tahu expired akhir Mei, padahal kita tahu bedanya (pemberian dosis) 9 sampai 12 minggu, dan kita juga menunggu rilis dari BPOM (mengenai pembekuan darah)," ujar dia.

Sebelumnya, BPOM telah memberi izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (UEA) terhadap vaksin AstraZeneca pada pekan lalu. BPOM mencatat, vaksin itu efektif hingga 62,1 persen untuk COVID-19, yakni diatas standard WHO.