Isu Penggumpalan Darah Pasien, Pakar: Vaksin Apapun Punya Risiko Itu

Donny Adhiyasa, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVAVaksin COVID-19 AstraZeneca masih menjadi sorotan lantaran dianggap berisiko terhadap dampak penggumpalan darah. Beberapa negara di Eropa menangguhkan pemberiannya, yang berimbas pada penundaan vaksin tersebut di Tanah Air.

Ahli vaksin pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Profesor Sri Rezeki Hadinegoro, mengatakan bahwa vaksin apapun pasti memiliki risiko dan efek samping terhadap tubuh.

Terlebih, isu penggumpalan darah atau dalam dunia medis disebut sebagai tromboemboli, sudah cukup umum ditemukan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menurut Sri, sudah menyatakan aman.

Kecuali, penggumpalan darah itu merupakan gejala yang kerap terjadi pada lansia dan penderita penyakit komorbid, seperti penyakit jantung, diabetes dan hiperkolesterol. Tidak divaksin saja, penderita berisiko mengalami penggumpalan darah.

“Vaksin apa saja (bukan hanya vaksin COVID-19) juga punya risiko tromboemboli,” tuturnya, dalam keterangan tertulis Kemenkes.

Ia meminta jangan sampai vaksinasi jadi tertunda-tunda akibat isu penggumpalan darah. Angka kasus penggumpalan akibat vaksin COVID-19 juga terbilang sedikit, sekitar 1 persen.

“Lain halnya jika kasus penggumpalan darah meningkat 2 kali setelah divaksinasi. Kita perlu khawatir,” katanya lagi.

Di sisi lain, adanya mutasi corona juga menjadi perhatian saat ini lantaran penyebarannya dianggap lebih cepat. Sri menegaskan bahwa masyarakat tak perlu khawatir, apalagi dengan tersedianya vaksin COVID-19 yang tetap dianggap efektif terhadap mutasi tersebut.

Sampai sekarang sekitar 40 juta dosis vaksin sudah masuk ke Indonesia, baik dalam bentuk dosis maupun berbentuk bulk atau bahan baku. Tentu saja dengan jumlah dosis sebanyak itu diharapkan proses vaksinasi COVID-19 berjalan lancar.

Terlebih lagi berbagai fasilitas dan akses vaksinasi makin bertambah banyak, seperti bertambahnya lokasi vaksinasi dan adanya vaksinasi drive thru yang melibatkan usaha swasta.

“Aksesnya dan sarananya sudah bagus. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya, sudah berjalan lancar. Pemda-pemda juga sudah menjalankan dengan baik,” imbuhnya.

Masalahnya terletak pada warga masyarakat. Masih banyak warga yang masih malas dan memilih menunggu dipanggil untuk menjalani vaksinasi. Padahal sekarang sudah tersedia jalur untuk pendaftaran. Begitu pula pada lansia. Sejauh ini masih banyak lansia yang belum divaksin.

Ini karena lansia belum banyak mendapatkan bantuan agar bisa divaksinasi. Padahal di luar negeri, vaksinasi lansia dibantu oleh swasta. Maka, anggota keluarga yang lebih muda sebaiknya membantunya, karena vaksinasi lansia hanya berlangsung dua hari saja: pada saat suntikan dosis pertama dan kedua.

“Nggak ada yang bantu ngurus dari keluarganya. Untuk itu, pihak keluarga yang lebih muda bisa membantu kelompok lansia untuk mendapat suntikan vaksin ini,” saran Prof Sri Rezeki.