Isu Tsunami Resahkan Warga Saparua dan Nusalaut

Ambon (ANTARA) - Isu akan terjadi gelombang pasang (tsunami) melanda Pulau Saparua dan Nusalaut, Maluku, pada 25-26 Juni 2012 meresahkan warga setempat sehingga sebagian kini membangun rumah darurat di daerah pegunungan.

"Memang guncangan gempa tektonik sejak awal Juni 2012 tidak lagi terasa, namun isu akan ada tsunami masih terus beredar mengakibatkan masyarakat resah sehingga ada yang membangun rumah darurat di pegunungan," kata salah seorang warga Desa Sirisori Amalatu, Yani Seipatirattuw yang dihubungi melalui telepon dari Ambon, Senin.

Isu tsunami ini terkait dengan sebaran pesan singkat (sms) bahwa akan terjadi patahan besar akibat munculnya gunung api baru di laut perbatasan pulau Nusalaut dan Desa Ouw, Pulau Saparua.

"Akibatnya masyarakat memutuskan untuk menyelamatkan diri ke hutan," ujar Yani.

Kepala Desa Leinitu, Pulau Nusalaut, Decky Tanasale yang wilayahnya terjadi retakan tanah menyatakan telah menyosialisasikan pantauan seismograf Stasiun Geofisika Ambon kepada masyarakat soal guncangan gempa melanda daerah tersebut sejak awal Juni 2012.

"Warga di Leinitu tidak lagi resah setelah dijelaskan hasil pantauan seismograf yang saya saksikan di kantor Stasiun Geofisika Ambon pekan lalu sehingga tidak membangun rumah darurat di kawasan pegunungan sebagaimana warga desa tetangga," ujarnya.

Kadis Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Maluku, Bram Tomasoa dan staf Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ronny Tomasoa telah melakukan penelitian di Leinitu pada 20 Juni 2012, sekaligus melakukan sosialisasi sehingga masyarakat jangan terprovokasi isu - isu menyesatkan.

Bram Tomasoa mengakui telah meninjau terjadinya amblasan (penurunan tanah) di desa Leinitu berukuran 2 X 3 meter akibat gempa menguncang pulau Nusalaut sejak 1 Juni 2012.

"Itu bukan patahan sebagaimana isu berkembang karena sebenarnya terjafi amblasan yang wajar dengan tekstur tanah di bawahnya batu karang," katanya.

Dengan demikian terjadi pelarutan sehingga bila guncangan gempa tektonik, maka pasti terjadi amblasan.

Apalagi Provinsi Maluku merupakan pertemuan tiga lempeng besar yakni Pasifik, Indo Australia dan Eurasia.

Lempeng Indo Australia masuk ke bawah Eurasia, bertemu dengan Lempeng Pasifik sehingga memungkinkan terjadi amblasan hingga patahan yang tidak beraturan.

Kepala Stasiun Geofisika Ambon Abraham Mustamu memastikan gempa tektonik di pulau Nusalaut intensitasnya berdasakan catatan seismograf terhenti pada Sabtu (23/6) setelah guncangan hanya tiga kali.

"Guncangannya sangat menurun, bahkan pada Minggu (24/6) tidak tercatat apa pun di seismograf. Namun, petugas disiagakan 24 jam untuk memantau kemungkinan lain yang sewaktu - waktu bisa saja terjadi," katanya.

Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu menyesalkan beredarnya isu menyesatkan soal ancaman tsunami di pulau Saparua maupun Nusalaut yang tidak bertanggung jawab.

"Itu provakasi yang tidak benar karena penelitian tim ternyata patahan yang di Desa Leinitu itu sebenarnya amblasan (penurunan tanah) saja yang secara geologi biasanya terjadi karena pengaruh tekstur tanah," katanya.(rr)



Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.