ITN Sangkal Foto Pelecehan Seksual di Media Sosial  

TEMPO.CO, Malang - Selain menyingkap kasus kekerasan yang menyebabkan mahasiswa bernama Fikri Dolasmantya Surya tewas, Organisasi Daerah Mahasiswa-Mahasiswi Tastura Lombok (MATUR) Malang juga mengungkap adanya indikasi pelecehan seksual dalam kegiatan Kemah Bakti Desa (KBD) oleh mahasiswa senior Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Pelecehan itu dilakukan mahasiswa senior kepada mahasiswi baru Jurusan Planologi.

"Panitia memaksa para mahasiswi mengulum singkong berbentuk seperti alat kelamin laki-laki," kata Lalu Haq Mustaqim, ketua organisasi tersebut, Senin, 9 Desember 2013. Sejumlah saksi, ujar Lalu, telah menjelaskan kegiatan yang diselenggarakan di Gua Cina, Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, itu. Kegiatan tersebut, kata dia, tak hanya melukai secara fisik, tapi juga menyebabkan para mahasiswa baru mengalami traumatis mendalam.

Apalagi foto-foto kegiatan tersebut telah beredar di jejaring sosial, termasuk di Twitter. Dala foto tersebut, terlihat aksi kekerasan yang dialami mahasiswa baru. Nampak seorang mahasiswi telentang dan tubuhnya ditindih sejumlah lelaki. Foto tersebut  menunjukkan bahwa telah terjadi indikasi pelecehan seksual. (Mahasiswa ITN Diduga Tewas Dipelonco)

"Dari fotonya ya terlihat seperti itu," kata Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan ITN Malang, I Wayan Mundra. Kegiatan tersebut, kata dia, telah mendapat persetujuan dan izin dari Rektorat. Bahkan ketua Jurusan Planologi juga mendampingi kegiatan yang dilakukan untuk pengenalan jurusan yang dipilih para mahasiswa baru.

Sekretaris Jurusan Planologi ITN Malang, Arief Setiyawan, mengaku telah melihat foto yang tersebar di media sosial. Namun, ia menilai aksi dalam foto tersebut bukanlah kegiatan di lapangan yang dilakukan mahasiswa ITN. "Dilihat wajah dan kulitnya, bukan mahasiswi ITN. Bahkan sepatunya terlihat mahal, bukan mahasiswi sini," katanya.

Jika saat itu terjadi tindakan asusila, katanya, warga Desa Dadaprejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, pasti tak akan tinggal diam. Sebab, kegiatan dilakukan di tengah-tengah perkampungan yang dihuni 40 keluarga. "Kalau benar ada pelecehan seperti itu warga pasti marah dan menghentikan tindakan para mahasiswa itu," katanya.

Kegiatan tersebut juga dilakukan untuk menguji mental mahasiswa baru. Ia juga menyangkal terjadi kekerasan fisik hingga menyebabkan korban Fikri tewas. Menurutnya, Fikri kelelahan karena padatnya kegiatan yang dilakukan mulai subuh sampai pukul 12 malam. Kegiatan tersebut menguras fisik peserta. Apalagi, bobot tubuh Fikri 110 kilogram sehingga dia cepat mengalami kelelahan.

EKO WIDIANTO

Berita populer:

Artijo, Hakim 'Killer' di Mata Koruptor

Ini Koleksi Vila Para Jenderal di Citamiang

Tabrakan Kereta Ulujami Mirip Tragedi Bintaro

Kerusuhan Pecah di Little India Singapura

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.