Ivan Fairuz Taher, Anak Muda Indonesia Berprestasi

·Bacaan 4 menit

VIVA – Menekuni bidang olahraga yang disukai memanglah sangat menyenangkan. Apa lagi bisa mengharumkan nama Negara sendiri. Hal ini seperti yang dijalanin oleh Ivan Fairuz Taher, Atlit karate muda, kelahiran Bekasi, 15 Mei 2001.

Ivan Fairuz Taher, biasa dikenal dengan panggilan Taher ini, sangat menyukai olaharaga karate. Karena kesukaannya pada dunia karate, membuat ia berlatih dari sejak kecil hingga menghantarkan taher menjadi seorang atlet timnas karate Indonesia.

Taher mengaku, ia mulai menyukai olahraga karate dari usia 4 tahun. Bagaimana tidak, anak muda yang satu ini lahir dalam keluarga yang berjiwa olahraga. Ia lahir dari kedua orang tua yang juga berkecimpung didunia karate.

Bahkan tidak hanya taher dan kedua orang tuanya yang terjun di dalam dunia karate, adiknya pun juga turut mengikuti jejak Taher dan kedua orang tuanya. Hal uniknya, mereka bisa dibilang keluarga karateka yang semuanya berkecimpung di dunia olahraga karate.

Memiliki darah karate dari kedua orang tuanya, membuat Taher selalu bertekad menghasilkan yang terbaik untuk Indonesia. Memenangkan banyak kejuaraan, salah satunya merebut emas di kejuaraan karate Asia Tenggara pada 2019 lalu. Ia berhasil memperoleh medali emas di kata perseorangan putra junior.

Berbagai Juara, Menjadi Bukti Totalitas Dalam Dunia Karate

Kejuaraan karate SEAKF CHAMPION 2019 (Sumber foto: darI narasumber)
Kejuaraan karate SEAKF CHAMPION 2019 (Sumber foto: darI narasumber)

Kejuaraan karate SEAKF CHAMPION 2019 (Sumber foto: darI narasumber)

Bagaimana awal mula menyukai karate?

Pertama berawal dari orang tua. Kebetulan orang tua saya seorang atlet karate juga. Mereka berdua ketemu di timnas Sea Game. Mereka pacaran lalu menikah dan muncul lah saya. Mulanya sekitar umur 4 tahun saya sudah mulai latihan karate dan sudah mulai bertanding di tahun 2007 sekitar umur 6 tahun. Dan ketika mulai suka dan yakin ini passion saya itu di saat ketiga kalinya juara dan alhamdulillahnya itu juara satu semua dan itu membuat saya semakin bersemangat.

Masih ingat kapan pertama kali tampil di kejuaraan karate?

Masih, itu saat saya diumur 6 tahun. Itu kejuaran se kabupaten dan kota Bekasi dan Alhamdulillahnya juara satu.

Berapa lama proses yang dibutuhkan untuk mahir dalam olahraga karate sampai sekarang ini?

Waduh, kalau dibilang mahir sih belum merasa mahir banget. Masih terus belajar. Tetapi, berapa lamanya mungkin kalau dalam persiapan pertandingan itu tergantung pertandingannya. Bisa sekitar 1 bulan, 2 bulan. 6 bulan juga pernah dan bahkan 1 tahun juga pernah.

Sudah berapa kali memenangkan kejuaraan?

Alhmdulillah lumayan. Mungkin dimulai dari kejuaran nasional resmi seindonesia itu Alhamdulillah sudah mempertahankan emas 11 kali. Dan untuk internasional, se Asia tenggara sudah pernah 5 kali. Se Asia sudah pernah emas 2 kali. Dan sedunia itu pernah sekali.

Pengalaman berharga, keterpurukan, hingga bangkit dari keterpurukan

(Sumber Foto: Dari Narasumber)
(Sumber Foto: Dari Narasumber)

(Sumber Foto: Dari Narasumber)

Apakah ada pengalaman yang paling berkesan?

Ada, sebenarnya semua berkesan. Menurut saya pengalaman itu lebih ke momen. Berarti momen yang paling berkesan bagi saya itu pada saat pengalungan medali. Dan kalau juara satunya itu misal juara satunya diluar negeri dan kita bisa mengumandangin lagu Indonesia raya dan bisa mengibarkan bendera merah putih di Negara orang. Itu sih yang menurut saya paling berkesan dan menyenangkan.

Suka duka menjadi atlet karate?

Kalau suka tentunya saat juara. Tetapi, untuk dukanya lebih ketekanan sebelum bertanding terus juga latihannya cape setiap hari sampai makan aja bisa telat. Itu sih yang paling parah tekananannya. Dan apalagi untuk mewakili Indonesia, tentu bebannya lebih berat.

Harapan dari kamu sendiri sebagai atlet karate?

Tentunya bisa juara dan bisa membanggakan keluarga dan Indonesia dan juga orang-orang yang mendo’akan. Dan tentunya harapan terbesarnya, disaat sudah mewakili nama Indonesia dan berhasil membawa prestasi yang gemilang, berharap pemerintah memberikan apresiasi yang luar biasa seperti kesejahteraan, dan mungkin pekerjaan.

Adakah pengalaman yang paling pahit?

Ada tentunya. Itu disaat kalau kita sudah bertanding ke luar negeri dibiayai oleh Negara namun kita belum mencapai hasil yang terbaik atau belum meraih prestasi yang gemilang. Itu menurut saya pengalaman yang paling pahit.

Pernah merasa terpuruk? Jika iya, bagaimana kamu bangkit dari ketepurukan?

Pernah, itu tadi ketika disaat kita sudah dibiayai oleh Negara dan harus membawa nama Indonesia namun belum bisa memberikan hasil yang maksimal untuk Negara, itu membuat saya menjadi terpuruk dan down. Putus asa juga pernah ada dan merasa hanya menjadi beban Negara aja.

Untuk bangkit dari keterpurukan, balik lagi kepada do’a orang tua. Saya selalu inget do’a dari orang tua, motivasi dari orang tua, kelurga, dan teman-teman yang mendo’akan. Karena aku juga punya moto hidup yang paling aku inget banget yaitu, berikanlah hasil kepada orang yang mendo’akan kamu bukan yang menghina kamu. Jadi, aku bangkit untuk orang yang mendo’akan aku.

Apa mimpi terbesar dalam hidup selama di dalam duni karate? Ingin meraih prestasi di dalam kejuaraan apa?

Untuk mimpi terbesar, ini sebenarnya mimpi saya dari kecil, yaitu ingin sekali mengikuti PON. Aku pengen banget bisa dapet juara satu di PON. Karena kebetulan papa sama mamah juga mantan juara PON, terus juga keluarga aku atlet semua mereka sudah pernah juara PON. Jadi, aku sendiri mimpi terbesarnya adalah kejuaraan PON. Dan kalau dikasih lebih oleh Allah, ya bearti itu adalah bonus. Tetapi, tetap target terbesar adalah PON.

Fuji Ratnasari

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel