WHO Izinkan Vaksin Buatan BioNTech-Pfizer, Prancis Percepat Vaksinasi

Mohammad Arief Hidayat, DW Indonesia
·Bacaan 2 menit

Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam pernyataan pada hari Kamis (31/12), telah memberikan izin darurat untuk penggunaan vaksin COVID-19 BioNTech-Pfizer.

Keputusan tersebut memungkinkan negara-negara untuk segera menyetujui impor dan distribusi vaksin.

Vaksin COVID-19 buatan BioNTech-Pfizer merupakan vaksin pertama yang menerima persetujuan tersebut.

"Ini adalah langkah yang sangat positif untuk memastikan akses global ke vaksin COVID-19. Tetapi saya ingin menekankan perlunya upaya global yang lebih besar untuk mencapai pasokan vaksin yang cukup untuk memenuhi kebutuhan populasi prioritas di mana pun," kata Kepala Program Medis WHO Dr. Mariangela Simao dalam sebuah pernyataan.

"WHO dan mitra kami bekerja siang dan malam untuk mengevaluasi vaksin lain yang telah mencapai standar keamanan dan efikasi. Kami mendorong lebih banyak lagi pengembang untuk memajukan (vaksin) guna ditinjau dan dinilai. Sangat penting bagi kami untuk mengamankan pasokan penting yang diperlukan untuk melayani semua negara di dunia dan membendung pandemi."

Prancis akan mempercepat vaksinasi

Otoritas kesehatan Prancis berjanji untuk memberikan vaksin COVID-19 yang lebih cepat kepada kelompok pekerja medis yang lebih banyak mulai minggu depan, di tengah kritikan dan dorongan inokulasi yang lambat di negara itu.

Dalam pidato tahun barunya pada Kamis (31/12) malam, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan dia tidak akan membiarkan "penundaan yang tidak dapat dibenarkan" dalam upaya untuk mengimunisasi warga dari virus corona.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Olivier Veran mengatakan pemberian vaksin akan mencakup petugas kesehatan yang berusia 50 tahun ke atas mulai Senin (04/01). Macron - yang baru saja sembuh dari COVID-19 - berada di bawah tekanan untuk mempercepat peluncuran vaksinasi. Sejauh ini, rencana vaksin hanya mencakup petugas kesehatan yang berusia di atas 65 tahun dan penghuni panti jompo.

Sejak Prancis memberikan suntikan vaksin pertama kepada warganya, seorang nenek berusia 78 tahun pada Minggu (27/12), negara itu baru memberikan vaksin BioNTech-Pfizer kepada kurang dari 200. Jumlah ini jauh dibandingkan Jerman yang telah memberikan vaksin kepada 78 ribu warganya.

Pemerintah membantah langkah lambat tersebut, dengan mengatakan bahwa mereka memberi orang waktu untuk mempertimbangkan pilihan, dalam upaya untuk membujuk orang-orang yang skeptis terhadap vaksin.

rap/ha (AFP,AP,dpa, Reuters)