Jabar menuju transportasi hemat dan ramah lingkungan

Bersama dengan sejumlah komunitas sepeda motor listrik, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menjajal kendaraan ramah lingkungan ini dengan mengambil rute menuju kawasan wisata Ciwidey, Kabupaten Bandung, akhir pekan lalu.

Seusai menjajal sepeda motor listrik dengan rute Glamping Legok Kondang-Jembatan Rengganis Suspension Bridge, Ciwidey, ia menghadiri Temu Pemimpin untuk Aspirasi Masyarakat bertema "Wisata Asyik Memakai Kendaraan Listrik" di Jembatan Rengganis Situ Patenggang.

Kang Emil, sapaan Ridwan Kamil, lantas menceritakan pengalamannya berkendara sepeda motor listrik. Mengendarai sepeda motor listrik ternyata nyaman dan aman digunakan untuk berwisata. Oleh karena itu, menggunakan kendaraan listrik saat ini dan pada masa mendatang merupakan keniscayaan.

Saat ini dunia memang sedang mengalami guncangan hebat yang dibarengi dengan disrupsi di semua lini kehidupan sehingga mengubah semua sendi kehidupan.

Disrupsi itu dipicu oleh pandemi COVID-19 kemudian melesatnya teknologi digital serta pemanasan global yang disusul dengan krisis energi fosil akibat invasi Rusia ke Ukraina.

Guna merespons disrupsi tersebut, terutama ancaman pemanasan global dan krisis energi berbahan fosil (bahan bakar minyak), masyarakat di seluruh dunia harus mulai mengurangi karbon yang menjadi ancaman nyata polusi dan perubahan iklim dunia.

Salah satu caranya, mengganti kendaraan berbahan bakar minyak dengan kendaraan listrik.

Selama ini, hampir semua orang beranggapan bahwa SPBU masih ada dan seolah terus mengucurkan BBM. Padahal suatu saat SPBU bakal lenyap seiring dengan habisnya energi fosil.

“Ini hanya menunggu waktu,” kata Kang Emil mengingatkan.

Masyarakat saat ini harus melihat SPBU seperti warung internet atau warung telekomunikasi pada 15-20 tahun lalu, yang keduanya sekarang nyaris tidak bisa lagi dijumpai.

Sebagai Ketua Asosiasi Daerah Penghasil Migas dan Energi Terbarukan (ADPMET), Emil menuturkan bahwa Indonesia memiliki semua sumber energi terbarukan dan paling lengkap di dunia, mulai dari air, angin, sinar Matahari, hingga panas Bumi.

Apabila semua potensi energi terbarukan tersebut dikelola secara optimal, Indonesia bakal menjadi salah satu negara dengan produksi energi baru terbarukan terbesar di dunia.

Pemerintah Provinsi Jabar bersama University of Nottingham sudah menandatangani kesepakatan atau letter of intent (LoI) tentang kerja sama penurunan emisi di bidang transportasi lewat konversi ke kendaraan listrik dan penggunaan energi baru terbarukan (EBT).

Penggunaan energi terbarukan tersebut diyakini bakal didukung warga Jabar karena EBT memiliki banyak keunggulan dibanding energi fosil yang tidak ramah lingkungan dan mahal.

Dukungan tersebut menjadi bukti kesiapan warga Jabar dalam menyongsong transportasi masa depan yang ramah lingkungan.

Selain kendaraan listrik, Pemerintah Provinsi Jabar juga sedang menggencarkan pemakaian kompor listrik induksi dengan tujuan penghematan energi.

Lebih jauh lagi, Pemprov Jabat saat ini tengah berupaya menghadirkan terobosan berbasis listrik untuk memfasilitasi aktivitas nelayan setelah pihaknya melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Indramayu.

“Kami sedang mencari informasi tentang (mesin) perahu berpenggerak solar cell atau sinar Matahari,” katanya.

Komitmen Jabar

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jabar Ai Saadiyah Dwidaningsih mengatakan, Jabar terus berupaya menghadirkan fasilitas penunjang kendaraan listrik seperti stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) maupun stasiun penukaran baterai kendaraan listrik umum (SPBKLU).

Komitmen lain, Pemprov Jabar juga sudah menerbitkan Perda Nomor 2 Tahun 2019 tentang Rencana Umum Energi Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2018-2050.

Melalui perda tersebut, Pemerintah Provinsi Jabar memiliki target-target terukur dan realistis terkait energi baru terbarukan (EBT) yang mencakup semua sektor, seperti transportasi dan industri.

Sebagai bentuk kampanye dukungan penggunaan energi baru terbarukan dan implementasi Inpres Nomor 7/2022 tentang Penggunaan Kendaraan Listrik Menjadi Kendaraan Dinas Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah, sebanyak 26 instansi di lingkungan Pemprov Jabar akan mulai menggunakan mobil listrik sebagai kendaraan dinas mulai tahun 2023.

Dalam APBD Provinsi Jawa Barat Tahun 2023, Pemprov Jabar sudah mengalokasikan anggaran untuk menyewa 26 mobil listrik sebagai kendaraan dinas.

Pilihan untuk menyewa kendaraan listrik diambil karena Menteri Keuangan belum memberikan perubahan standar biaya mobil dinas.

Kendaraan listrik yang disewa pun akan dilakukan bertahap dan tidak seluruh pejabat organisasi perangkat daerah menggunakan mobil ramah lingkungan tersebut.

Kendaraan listrik memang memiliki sejumlah keuntungan dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil karena lebih efisien dan ramah lingkungan karena itu pemerintah terus mendorong peralihan ke teknologi ramah lingkungan tersebut.

Pemerintah Provinsi Jabar juga akan berkolaborasi dengan PLN dan pihak lainnya, termasuk UMKM, terkait pengadaan SPKLU maupun SPBKLU.

Selain itu, Pemprov Jabar telah melakukan banyak kerja sama terkait ekosistem kendaraan listrik. Untuk keperluan tersebut, Pemprov Jabar mendapat bantuan dari Badan Dunia untuk Program Pembangunan atau UNDP.

Pemprov Jabar juga mendapatkan dukungan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan karena ditunjuk sebagai salah satu dari tiga provinsi yang bakal menjadi percontohan penggunaan kendaraan dinas. Selain Jabar, yakni DKI Jakarta dan Bali. Ketiga provinsi itu akan mendapat bantuan tujuh SPKLU dan lima SPBKLU.


Penghematan besar

Donny Ariyanto, pegiat modifikasi motor custom, menceritakan bahwa setelah kurang lebih 14 tahun bergelut di dunia modifikasi sepeda motor, dirinya mencoba mengembangkan sepeda motor listrik pada 2020.

Bisnis konversi kendaraan tersebut memang masih butuh waktu karena proses sertifikasinya melibatkan Kemenhub terkait dengan peraturan tentang persyaratan melegalkan kendaraan BBM ke listrik.

Oleh karena itu, untuk memberi kemudahan bagi modifikator sepeda motor listrik, perlu didukung regulasi, agar kendaraan hasil kreasi anak bangsa tersebut mendapatkan legalitas ketika digunakan di jalan umum.

Seorang pengguna sepeda motor listrik, Yusuf, mengaku bisa memangkas biaya besar setelah “hijrah” dari sepeda motor berbahan fosil ke kendaraan listrik. Ia mengaku hemat hingga Rp6 juta per tahun. Penghematan ini diperoleh dari biaya yang dikeluarkan untuk beli bensin, perawatan kendaraan, dan oli motor.

Penghematan serupa juga dirasakan oleh Asri. Setidaknya setiap bulan bisa memotong pengeluaran Rp300 ribu demi menunjang aktivitasnya sebagai guru SD di Kawasan Cimahi.

Yusuf dan Asri sudah membuktikan betapa hemat sepeda motor listrik. Pekerja kreatif seperti Donny siap menyongsong era baru EBT. Pada saat bersamaan, Pemprov Jabar menunjukkan komitmennya menyediakan ekosistem kendaraan listrik.

Beberapa tahun mendatang lagi langit di Jawa Barat bakal makin biru sehingga masyarakat bisa menghirup udara yang bersih dan sehat.