Jabar Tinggi Kasus Thalasemia, Begini Cara Cegahnya

Lutfi Dwi Puji Astuti, Isra Berlian
·Bacaan 2 menit

VIVAThalasemia adalah penyakit keturunan dengan gejala utama pucat, perut tampak membesar karena pembengkakan limpa dan hati, dan apabila tidak diobati dengan baik akan terjadi perubahan bentuk tulang muka serta warna kulit menjadi hitam

Thalasemia terjadi akibat gangguan pembentukan rantai globin yang merupakan komponen sel darah merah. Gangguan pembentukan rantai globin alfa disebut sebagai thalasemia alfa, sementara gangguan pembentukan rantai beta disebut thalasemia beta.

Berdasarkan data yang diungkapkan oleh Ketua POPTI (Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassemia Indonesia) Pusat, Ruswandi tercatat dari tahun 2014 hingga 2020 sebanyak 10.647 penyandang thalasemia. Dari data itu diketahui bahwa Jawa Barat menempati posisi pertama dengan penyandang Thalasemia terbanyak di Indonesia.

“Jawa Barat 39,1 persen atau hampir 40 persen dengan angka 4.164, kemudian yang kedua Jawa Tengah 14,6 persen atau 1.449, ketiga DKI Jakarta 8,1 persen atau 864,” kata Ruswandi dalam virtual conference Hari Talasemia, Rabu 5 Mei 2021.

Lebih lanjut, Ruswandi menjelaskan bahwa thalasemia ini harus dicegah, mengingat jika penyandang thalasemia meningkat akan mempengaruhi stok darah untuk para penyandang thalasemia yang harus menjalani transfusi darah sepanjang hidupnya.

“Saat ini 10 ribuan jumlahnya, berarti darah yang dibutuhkan adalah sekitar 24 juta darah kalau dalam bentuk kantong dibutuhkan 261 ribu kantong darah. Kalau darah harganya RP 360 ribu maka pengeluaran untuk kantong darah hampir Rp 100 miliar setiap tahunnya. Kalau penyandangnya bertambah menjadi 100 ribu dikhawatirkan akan sulit mendapatkan darah, saat ini 10 ribu saja sudah kesulitan terutama di beberapa daerah,” jelas dia.

Maka dari itu, penting untuk mencegah kelahiran bayi dengan thalasemia. Dijelaskan Cut salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan tidak menikahi pasangan dengan pembawa sifat thalasemia yang dapat meningkatkan kelahiran bayi dengan thalasemia. Selain itu juga penting untuk melakukan screening sebelum menikah.

Penting untuk mengenal Thalassemia

Pasalnya, masyarakat mesti mengenal tentang klasifikasi penderita thalasemia. Seseorang yang perlu transfusi darah seumur hidup akibat thalasemia dikatakan sebagai pasien thalasemia mayor; sedangkan penderita thalasemia minor belum sampai harus menjalani transfusi darah karena tubuhnya sehat, tetapi menyimpan gen pembawa sifat penyakit ini.

Anak yang dilahirkan oleh pasangan talasemia mayor dan orang normal kemungkinannya 100 persen jadi pembawa sifat.

Lalu, apabila penderita thalasemia minor menikah dengan individu normal maka akan memunculkan peluang anak sehat 50 persen, dan 50 persen lainnya mengidap thalasemia minor.

Lantas jika seorang dengan thalasemia minor berkeluarga dengan pengidap thalasemia minor, maka peluang anaknya sehat 25 persen, anak dengan thalasemia mayor 25 persen, dan anak dengan thalasemia minor yakni 50 persen.