Jadi Andalan RI, Produksi Blok Rokan 2021 Optimistis Ditingkatkan

·Bacaan 4 menit

VIVASKK Migas dan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) yakin usai alih kelola Blok Rokan, produksi blok dengan 8.000 sumur itu akan meningkat. Terlebih blok yang ada di Riau itu telah menjadi tulang punggung produksi minyak nasional selama 70 tahun sejak berproduksi pertama kali pada 1951.

Hal itu terungkap dalam diskusi virtual yang dilakukan oleh Energy and Mining Editor Society (E2S) berjudul “Menjaga Keandalan Operasi Wilayah Rokan” yang diselenggarakan pada Kamis 22 Juli 2021.

Diskusi virtual kali ini dihadiri oleh Wakil Kepala SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman, Direktur Utama PHR Jaffee Arizon Suardin, dan Sekjen Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Hadi Ismoyo.

Wakil Kepala SKK Migas, Fatar Yani mengatakan, meski pandemi COVID-19 telah memukul seluruh industri, tapi industri hulu migas tidak separah lainnya, sehingga tetap bisa berkontribusi terhadap penerimaan negara.

“Kinerja hulu migas yang dapat dijaga, memberikan kontribusi yang besar pada penerimaan negara yang saat ini sangat membutuhkan pembiayaan dalam penanggulangan COVID-19,” kata Fatar.

Menurut dia, blok migas yang berkontribuasi paling lama di Indonesia dan masih memiliki potensi yang menarik adalah Blok Rokan. Nasib blok tersebut telah ditentukan sejak 2018. Saat itu masih top producer sehingga proses transisi dimulai dalam waktu yang panjang.

“Maka transisi yang panjang ini dapat dilakukan secara seamless dan tidak ada kendala. Blok Rokan juga memiliki potensi cadangan dalam bentuk unkonvensional. Sumur yang paling banyak dioperasikan di Rokan, ada 10.000 sumur, yang beroperasi saat ini sekitar 8 ribuan,” ujarnya.

Menurut Fatar, strategi dalam pengelolaan blok Rokan pasca transisi untuk jangka pendek pada 2021 adalah mempertahankan produksi dan transisi yang sukses ke PHR.

Lalu, kata dia, pada periode 2022-2025 adalah upaya peningkatan produksi dengan investasi yang signifikan termasuk telah berproduksinya Chemical EOR di Minas. Dan jangka panjang pada 2026 adalah produksi yang tinggi sesuai long term plan (LTP) PHR Rokan.

“Mengingat kontribuasi blok Rokan yang sangat besar, Pemerintah bersama SKK Migas telah memberikan perhatian ketika blok ini dalam proses peralihan dari kontraktor Chevron Pacific Indonesia (CPI) ke PHR. Untuk menjaga agar produksi blok Rokan tetap tinggi dan bisa dijaga secara optimal, telah ditandangani Head of Agreement (HOA) antara SKK Migas dan CPI pada 28 September 2020,” ujar Fatar.

Di sisi lain, lanjut Fatar, Production Sharing Contract (PSC) Rokan tidak mengatur pencadangan Abandonment and Site Restoration (ASR). Sehingga, guna menjaga tingkat produksi sangat bergantung kepada pengembalian biaya investasi dengan adanya perjanjian HOA, akan menjamin ketersediaan dana ASR serta pengembalian biaya investasi dapat dijamin. Jumlah program pemboran pada masa alih kelola di HOA berjumlah 192 sumur.

“Namun melihat perkembangan yang ada, target pemboran tidak tercapai. SKK Migas telah melakukan koordinasi dengan PHR agar menggenjot pemboran sumur agar target produksi dan lifting 2021 dapat dicapai,” ujar Fatar.

Sementara, Direktur Utama PHR, Jaffee Arizon Suardin, menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan dan kontribuasi SKK Migas dalam proses alih kelola.

Dengan dukungan dari SKK Migas tersebut, proses alih kelola ini menjadi lebih pasti dan ada jaminan, hal ini bisa dilihat proses saat ini yang dirasakan sangat membantu ketika dikelola oleh PHR.

“Pengeboran adalah salah satu upaya menjaga produksi blok Rokan, dari target 192 sumur yang tadi disampaikan Wakil Kepala SKK Migas tadi, yang tidak bisa direalisasikan oleh existing operator akan dilanjutkan oleh PHR, termasuk sumur-sumur yang direncanakan oleh PHR. Kami perkirakan dengan asumsi 70 sumur belum bisa diselesaikan saat alih kelola, jumlah sumur yang bisa dibor sampai Desember 2021 akan mencapai sekitar 164 sumur,” katanya.

Jaffee mengatakan Blok Rokan berbeda dengan blok lainnya karena menyumbang 24 persen produksi minyak nasional. Serta ada 104 lapangan yang tersebar dari utara sampai ke selatan.

“Ini yang harus kita manage agar produksi bisa dipertahankan. Ada sembilan bidang prioritas alih kelola. Kami akan teruskan apa yang belum diselesaikan, mulai 9 Agustus yang tujuannya agar pada 2021 jumlah sumur tidak kurang sesuai rencana,” ungkap Jaffee.

Mantan Deputi Perencanaan SKK Migas itu juga mengatakan, PHR akan mengebor dan menyiapkan resources untuk 161 sumur dengan asumsi 77 sumur yang belum sempat diselesaikan oleh eksisting operator.

Saat ini, persiapan terus dilakukan. Pertamina sudah menyiapkan sekitar 16-17 rig dan material. Bahkan, rig dan material bisa digunakan sebelum 9 Agustus untuk membantu sumur yang sedang dikerjakan eksisting operator.

Menurut Jaffee, Pertamina berkomitmen untuk menggali semua potensi yang ada secara masif, agresif, dan efisien. Serta menyiapkan tidak hanya sumur yang dibor pada 2021, namun juga pada 2022.

“Bukan mengejar jumlah sumur, maunya jumlah sumur paling sedikit tapi produksi paling besar. Di blok ini memang dibutuhkan sumur yang banyak,” ungkapnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel