Jadi Bos Telkom Diminta Perbaiki Indihome, Fajrin Rasyid: Insya Allah

Lazuardhi Utama, Novina Putri Bestari

VIVA – Mantan Presiden Bukalapak, Fajrin Rasyid, mengaku siap belajar cepat di kantor barunya. Asal tahu saja, ia resmi menjabat sebagai direktur Digital Business PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk atau Telkom.

"Tentu saja sebagai direktur yang baru harus banyak belajar tentang perusahaan ini secara keseluruhan," kata dia, usai konferensi pers virtual RUPST Telkom, Jumat, 19 Juni 2020.

Saat ditanya apakah penunjukkannya bisa berdampak terhadap layanan Indihome dan permasalahan di dalamnya, Fajrin hanya menjawab hal tersebut bisa menjadi masukan yang baik bagi perusahaan. Ia pun akan banyak berdiskusi dengan Direktur Consumer Service Telkom, FM Venusiana R.

"Untuk sekarang saya hanya bisa bilang insya Allah. Saya siap membantu Ibu Venus, yang banyak mendengar komplain dari masyarakat," ungkapnya.

Menurut Direktur Utama Telkomsel, Ririek Adriansyah, penunjukan Fajrin sejalan dengan keinginan Telkom untuk mengembangkan layanan, khususnya platform digital.

"Kami ingin mengembangkan layanan tidak hanya di connectivity (jaringan), tapi juga platform digital ke depannya. Karena itu, kami butuh membawa BOD (board of director) yang memiliki kompetitif di industri digital," kata Ririek.

Penempatan talenta muda atau milenial dalam jajaran direksi BUMN mencerminkan keinginan Kementerian BUMN untuk mendorong munculnya inovasi serta terobosan-terobosan baru dalam bisnis perusahaan.

Untuk perusahaan pelat merah seperti Telkom misalnya, kehadiran talenta muda di emiten berkode saham TLKM ini dimaksudkan untuk menghadirkan inovasi akan terobosan baru, sehingga Telkom bisa mengimbangi bisnis pendapatan dari bisnis jaringan dengan pendapatan yang besar dari bisnis-bisnis lainnya, seperti misalnya jasa over the top (OTT).

Sebagai informasi, Fajrin Rasyid merupakan pendiri Bukalapak bersama Ahmad Zaky. Ia menjadi presiden salah satu unicorn (perusahaan rintisan dengan valuasi minimal US$ 1 miliar) itu sejak 2018.

Bukalapak mengklaim menghimpun 5 juta pelapak daring dan lebih dari 3 juta pelapak luring (offline). Valuasi perusahaan itu pada tahun lalu diperkirakan US$ 2,5 miliar, dengan masuknya investor antara lain Emtek, GIC, Ant Financial, Naver, dan 500 Startups.