Jadi Fans Italia, Kiper Bali United Mengenang Momen Terburuk Piala Dunia 2002

Bola.com, Jakarta - Kiper Bali United, Muhammad Ridho, ternyata pernah memiliki momen terburuk sebagai seorang fans Timnas Italia. Ridho mengenang momen terburuknya sebagai penggemar Gli Azzurri, di mana ia mengaku masih kesal jika harus mengingat Gli Azzurri tersingkir di 16 besar Piala Dunia 2002.

Kiper Bali United berusia 31 tahun itu tak akan bisa memaafkan wasit Byron Moreno yang memimpin pertandingan kala itu. Sejumlah kontroversi hadir dalam pertandingan yang dihujani sembilan kartu kuning dan satu kartu merah tersebut.

Bersama asistennya, wasit asal Ekuador tersebut membuat serangkaian keputusan kontroversial yang menguntungkan tuan rumah, Korea Selatan. Dua gol Cristian Vieri dkk. dianulir karena dianggap berada di posisi offside.

Puncaknya ketika Francesco Totti mendapat kartu kuning kedua pada menit ke-103. Ia dianggap melakukan diving di kotak penalti Korea Selatan. Padahal legenda AS Roma itu benar-benar dilanggar keras oleh Kim Tae-yong.

"Momen di Korea Selatan ketika Italia kalah lawan tuan rumah di perpanjangan waktu, itu yang paling bikin kesal. Padahal Totti jelas-jelas dilanggar di kotak penalti tetapi malah kartu merah, itu yang sangat gemas," ujar kiper Bali United itu.

 

Golden Goal Tamatkan Perlawanan Italia

Italia sudah di ambang kemenangan dengan memimpin hingga menjelang akhir laga. Namun pada menit ke-88 Korea Selatan berghasil menyamakan skor 1-1 melalui gol Seol Ki-hyeon. Laga pun berlanjut dengan perpanjangan waktu dengan menganut aturan golden goal. (AFP/Kim Jae-hwan)
Italia sudah di ambang kemenangan dengan memimpin hingga menjelang akhir laga. Namun pada menit ke-88 Korea Selatan berghasil menyamakan skor 1-1 melalui gol Seol Ki-hyeon. Laga pun berlanjut dengan perpanjangan waktu dengan menganut aturan golden goal. (AFP/Kim Jae-hwan)

Ridho, yang kala itu masih duduk di bangku sekolah dasar, merasa sangat terpukul dengan momen tersebut. Apalagi, tim favoritnya itu tersingkir lewat golden goal yang diciptakan Ahn Jung-hwan.

Saat itu, turnamen sepak bola dunia masih menggunakan format golden goal dalam menentukan pemenang saat pertandingan normal berjalan sama kuat. Tim yang mencetak gol pada masa perpanjangan waktu langsung dianggap pemenang di laga tersebut.

"Italia akhirnya kalah. Ahn Jung-hwan yang saat itu main di Perugia, sudah enggak boleh main lagi di klub Italia manapun," imbuh kiper Bali United itu.

 

Terbayar Lunas pada 2006

Timnas Italia saat menjuarai Piala Dunia 2006. (AFP/Nicolas Asfouri)
Timnas Italia saat menjuarai Piala Dunia 2006. (AFP/Nicolas Asfouri)

Namun, kedongkolan kiper Bali United asal Pekalongan tersebut terbayar lunas pada edisi selanjutnya. Dalam Piala Dunia 2006 yang berlangung di Jerman, Andrea Pirlo dkk. berhasil merebut supremasi tertinggi.

Tim asuhan Marcelo Lippi itu berhasil mengandaskan perlawanan Prancis yang sejatinya lebih diunggulkan. Mereka berhasil menang lewat drama adu penalti setelah tembakan David Trezeguet membentur mistar.

"Alhamdulillah edisi selanjutnya Italia jadi juara dunia dan pemain yang saya kagumi saat itu adalah Del Piero dan sang kiper pastinya, Gianluigi Buffon," jelasnya.

 

Prediksi di Piala Dunia 2022

Kiper Timnas Indonesia, Muhammad Ridho, tampak kecewa usai dikalahkan Thailand pada laga Piala AFF 2018 di Stadion Rajamangala, Bangkok, Sabtu (17/11). Thailand menang 4-2 dari Indonesia. (Bola.com/M. Iqbal Ichsan)
Kiper Timnas Indonesia, Muhammad Ridho, tampak kecewa usai dikalahkan Thailand pada laga Piala AFF 2018 di Stadion Rajamangala, Bangkok, Sabtu (17/11). Thailand menang 4-2 dari Indonesia. (Bola.com/M. Iqbal Ichsan)

Sayangnya pada perhelatan tahun ini, Ridho terpaksa harus mencari jagoan lain di Piala Dunia 2022. Italia yang saat ini dilatih Roberto Mancini, untuk kali kedua secara beruntun gagal menembus putaran final Piala Dunia.

Ketiadaan tim favoritnya di turnamen ini membuatnya bisa lebih obyektif. Ia pun mendaulat Brasil bakal merebut trofi keenam mereka di Qatar nanti.

"Memang penyerang mereka bagus-bagus tetapi lini belakangnya kurang. Jadi saya pikir enggak. Kalau yang lolos final, saya rasa Brasil dan Prancis. Itu final ideal sih. Tetapi saya pilihnya Brasil (yang juara)," tandasnya.