Jadi Inisiator Perubahan Sistem Skor ke BWF, Ini Alasan PBSI

Pratama Yudha
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) bersama Federasi Bulutangkis Maladewa secara resmi mengajukan perubahan sistem skor pertandingan bulutangkis kepada BWF.

PBSI dan Federasi Bulutangkis Maladewa ingin format 3x21 menjadi 5x11.

Wacana perubahan skor bulutangkis menjadi 11x5 itu akan dibahas BWF dalam acara Rapat Umum Tahunan (Annual General Meeting/AGM) ke-82 yang akan berlangsung secara virtual pada 22 Mei 2021 mendatang.

Sebenarnya, wacana perubahan sistem skor ini sudah sempat digulirkan BWF saat Rapat Umum Tahunan, 2018 silam. Tetapi saat itu mayoritas peserta rapat menolak perubahan tersebut, termasuk Indonesia.

"Saat voting tahun 2018, kami memang menolak wacana perubahan sistem skor tersebut. Itu karena saat itu BWF mau mengubah format secepat mungkin. Hanya ada tiga atau empat uji coba di turnamen kecil, lalu langsung diterapkan. Padahal, saat itu kualifikasi Olimpiade 2020 akan dimulai," kata Kepala Bidang Hubungan Luar Negeri PP PBSI, Bambang Roedyanto, dikutip situs resmi PBSI.

"Bila menggunakan format baru, para pemain tidak punya banyak waktu untuk beradaptasi. Selain itu, saat itu BWF juga mengajukan usulan tidak boleh ada pelatih yang mendampingi saat pertandingan. Tentu kita tolak," lanjutnya.

Pria yang akrab disapa Rudy ini mengatakan perubahan sistem skor akan memberi dampak positif bagi seluruh pihak yang terlibat dalam dunia tepok bulu. Sebab, akan membuat duel menjadi lebih seru.

"Saat itu beberapa negara menolak dan inginnya pembahasan ini dilanjutkan setelah Olimpiade. Lalu kami melakukan rapat dengan pengurus dan pelatih, ternyata format sistem skor 5x11 akan cocok bagi bulutangkis ke depannya. Seperti para pemain tidak hanya mengandalkan stamina, durasi pertandingan bisa ditekan menjadi lebih singkat dan dipastikan laga akan seru dari awal," ujar Rudy.

"Maka dari itu kami mengajukan kembali wacana perubahan skor 5x11 untuk mengganti format 3x21. Tentunya setelah Olimpiade Tokyo mendatang, dimulai Januari 2022 dan uji coba selama satu tahun di seluruh level turnamen. Setelah satu tahun, kami juga mengusulkan harus ada feedback dari para pemain," tutur dia.

Rudy menambahkan jika sistem ini sudah dicoba di China. Dan hasilnya bisa dibilang memuaskan.

"Badminton China juga sudah mencoba di kejuaraan nasional mereka bulan November 2020 dan statistiknya cukup baik," ucap Rudy.