Jadi Kultur, Ternak Sapi Jadi 'Cara' Menabung dan Investasi Masyarakat Banyuwangi

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Kabupaten Banyuwangi sejak dulu terkenal sebagai sentra penghasil bibit sapi unggul, jenis simental dan limousin. Dari total populasi 140 ribu sapi di Banyuwangi, 80 persennya merupakan sapi betina.

Sementara produktivitas bibit sapi di Banyuwangi bisa mencapai 47-60 ribu ekor per tahun. Setiap bulan, terdapat ribuan ekor bibit sapi yang di kirim ke Jombang, Mojokerto dan luar pulau Jawa seperti Kalimantan.

Kabid Budidaya dan Kelembagaan Ternak, Dinas Pertanian dan Peternakan, Banyuwangi, Nanang Sugiharto mengatakan kondisi tersebut didukung faktor kultural masyarakat Banyuwangi yang suka menabung dan investasi melalui hewan ternak, seperti sapi. Kondisi tersebut berbeda dengan masyarakat mataraman wilayah barat yang lebih ke penggemukan.

"Bayuwangi Terkenal dengn sapi bibitnya. Sudah sangat lama. Itu karena kultur budaya dan letak geografis mendukungkultur, masyarakat bayuwangi suka menabung, kalau induknyapunya anak betina tidak akan dijual, jadi dijadikan induk kembali. Beda dengan wilayah barat, mataraman lebih ke agribis, menguntungkan, kalau kita konsepnya tabungan. Semacam tabungan keluarga," kata Nanang Rabu (18/11).

Selain faktor kultural, kondisi geografis Banyuwangi juga sangat mendukung keberlangsungan peternakan sapi. Banyuwangi memiliki hutan yang luas, kebun rakyat hingga areal persawahan yang mencapai 65 ribu hektar.

"Kalau secara geografis sangat mendukung, banyuwangi tekenal bagus, lahan hutan banyak, pertanian mendukung, petani otomatis peternak. Sumber daya pakan melimpah, total luasa sawah 65 ribu hektar, belum kawasan sekitar hutan, kebun," ujarnya.

Setiap bulan, kata Nanang, terdapat ribuan bibit sapi dari Banyuwangi yang dikirim ke sejumlah daerah. Nanang belum bisa memastikan total bibit sapi yang keluar daerah setiap bulannya, sebab belum semua terlapor dan terdata di dinas pertanian dan peternakan.

Populasi Sapi di Banyuwangi.
Populasi Sapi di Banyuwangi.

"Hari ini mensuplai dalam dua bulan sekitar 5000 ekor, kawasan perkebunan sawit. Itu yang terdata, sementara bayak pedagang di pasar pasar sapi yang langsung menjual ke luar, itu tidak tercatat," terangnya.

Salah satu bukti kuatnya budaya menabung dan investasi lewat hewan ternak, selain 80 persen populasi sapi di Banyuwangi betina, pada tahun 2009 saat harga sapi anjlok, populasi di Banyuwangi tetap stabil.

"Tahun 2008-2009 itu harga sapi murah sekali, tapi populasi di Banyuwangi tetap stabil, masyarakat tidak mudah menjual sapinya ke orang lain, karena itu jadi investasi, tabungan, jadi harus ada indukan yang dirawat. Kultur kita membibit, bukan penggemukan, kultur kita menabung," jelasnya.

Dari 140 ribu populasi sapi di Banyuwangi, sebagian besar peternak sapi berada di Kecamatan Kalipuro dan Wongsorejo. Salah satu peternak sapi, asal Kalipuro, Munaju (75) mengatakan, sejak usia 15 tahun dia sudah diberi satu ekor sapi betina oleh ayahnya untuk dirawat sendiri. Pendidikan merawat sapi sejak dini tersebut terus dia jalani hingga saat ini.

"Beternak sapi ini ibarat menabung, kalau di bank, uang kita sedikit masih kena potongan. Tapi kalau pelihara sapi, tambah besar, beranak akan bertambah pula nilai jualnya," kata Munaju.

Selain itu, memiliki sapi juga menjadi tanda orang mampu dan tidak di Kalipuro. Selain itu, memiliki sapi juga merasa hidupnya lebih tenang bila sewaktu waktu membutuhkan pengeluaran biaya hidup yang besar.

"Misalkan untuk berbenah rumah, ini uang dari jual sapi. Kemudian belikan motor anak, itu juga dari uang pelihara sapi. Tapi sapi saya tidak saya jual semua, hanya anakannya saja, induknya tidak. Kecuali yang sudah berusia tua," ujarnya.

(*)