Jadi negara kepulauan tak membuat RI kalah bersaing hadapi pandemi

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menyatakan bahwa menjadi negara kepulauan yang besar, tidak membuat Indonesia kalah bersaing dengan negara tetangga untuk menjadi yang terbaik dalam menghadapi pandemi COVID-19.

“Ini adalah prestasi yang patut diapresiasi. Kita tetap mampu memanfaatkan dan menggerakkan seluruh komponen bangsa untuk tetap berkontribusi dalam menurunkan laju kasus COVID-19,” katanya dalam Konferensi Pers Perkembangan Penanganan COVID-19 per 2 Juni 2022 di Indonesia yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis.

Ia menuturkan kondisi pandemi COVID-19 di Indonesia terus mengalami pelandaian kasus dan jumlah penambahan pada kasus positif hariannya konsisten selalu rendah bila dibandingkan dengan sejumlah negara tetangga lainnya.

Bila dilihat dari persentase kasus aktif per totalnya, kumulatif kasus positif di Indonesia hanya menyentuh 0,05 persen. Angka itu lebih rendah dibandingkan negara tetangga di kawasan Asia Tenggara, seperti Vietnam 11,44 persen, Singapura 6,01 persen, dan Filipina 0,07 persen.

Baca juga: Wiku: PPKM tetap diberlakukan hingga kasus COVID-19 terkendali

Meskipun sudah menyelenggarakan banyak kegiatan berskala internasional, hal utama yang menyebabkan kenaikan kasus tidak terjadi secara signifikan adalah seluruh warga Indonesia bahu-membahu untuk disiplin dan patuh terhadap kebijakan ataupun protokol kesehatan yang telah diterapkan.

“Terselenggaranya kegiatan-kegiatan berskala internasional tanpa adanya kenaikan kasus yang signifikan menunjukkan resiliensi bangsa Indonesia dalam beradaptasi dengan COVID-19 dan tetap mampu melaksanakan kegiatan dengan tetap aman,” ujar dia.

Menurut Wiku, dengan karakteristik negara yang terdiri atas berbagai pulau, suku, bangsa, dan karakter masyarakat yang berbeda-beda, bahkan sempat mengalami berbagai keterbatasan sumber daya dalam penanganan pandemi, Indonesia mampu bersatu menghadapi pandemi COVID-19.

Dengan demikian, katanya, negara bisa secara bertahap bertransisi memasuki fase endemi.

Namun, ujar dia, setiap pihak tidak boleh lengah dan berpuas hati. Selama Badan Kesehatan Dunia (WHO) belum mencabut status pandemi secara global, semuanya tetap harus terus disiplin melakukan protokol kesehatan, baik memakai masker, mencuci tangan, atau menjaga jarak, termasuk melakukan vaksinasi.

“Ada kemungkinan untuk di waktu yang akan datang terjadi kembali kenaikan kasus, terlebih masih ada ancaman munculnya varian-varian baru COVID-19. Selain mempertahankan kedisiplinan protokol kesehatan, upaya pencegahan juga penting dimaksimalkan dari segi vaksinasi COVID-19 bagi masyarakat,” kata Wiku.

Baca juga: Satgas sebut jumlah orang yang dites COVID-19 terus alami penurunan
Baca juga: Wiku: Cakupan vaksinasi booster lansia nasional baru 27,2 persen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel