Jadi Perhatian Jokowi, Seberapa Bahaya Penyakit Mulut dan Kuku pada Hewan?

Merdeka.com - Merdeka.com - Penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak menjadi sorotan Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu. Kepala Negara meminta jajarannya memiliki kepekaan tinggi terhadap penyakit tersebut.

Ahli Kesehatan Masyarakat Veteriner IPB (Institut Pertanian Bogor), drh Denny W Lukman mengatakan penyakit mulut dan kuku sangat menular. Namun, risiko mematikan bagi hewan relatif kecil.

"Tingkat sakit (morbiditas) PMK pada hewan yang peka 100 persen. Tetapi kematian relatif kecil, kecuali pada hewan muda," katanya kepada merdeka.com, Rabu (11/5).

Menurut Denny, hewan terjangkit penyakit mulut dan kuku yang tak bisa bertahan hidup biasanya akibat tidak mendapatkan asupan makanan karena adanya lepuh dan erosi sekitar mulut.

"Hewan mati karena tidak mau makan akibat mulutnya penuh, sariawan," ucapnya.

Denny menegaskan penyakit mulut dan kuku bukan Zoonosis. Zoonosis merupakan jenis penyakit yang dapat ditularkan hewan ke manusia.

"Organisasi atau institusi kesehatan hewan menyatakan virus PMK tidak menular ke manusia," ujarnya.

Virus Penyebab Penyakit Mulut dan Kuku

Denny menjelaskan penyakit mulut dan kuku disebabkan virus Aphtovirus dari famili Picornaviridae. Ada tujuh setotipe virus yakni O, A, C, SAT 1, SAT 2, SAT 3, dan Asia 1. Virus penyebab penyakit mulut dan kuku yang pernah ada di Indonesia tahun 1983 hanya serotipe O.

Menurutnya, hewan yang terserang penyakit mulut dan kuku ialah Ruminansia (sapi, kerbau, kambing, domba, rusa), babi, unta, dan beberapa hewan liar. Secara percobaan, virus penyakit mulut dan kuku dapat menginfeksi antara lain kelinci, marmut, tikus, dan hamster.

Bagi hewan yang terjangkit penyakit mulut dan kuku, gejala klinis yang muncul seperti demam tinggi bisa mencapai 41 derajat Celcius, pembengkakan limfoglandula mandibularis, dan hipersalivasi (air liur berlebihan). Kemudian adanya lepuh dan erosi sekitar mulut, moncong hidung, lidah, gusi, kulit sekitar kuku dan puting ambing.

Denny mengatakan daya tahan virus penyebab penyakit mulut dan kuku sangat bervariasi. Namun umumnya mereka bertahan pada air yang tergenang hingga 50 hari, rumput 74 hari, tanah 26 sampai 200 hari, feses kering 48 hari, dan feses basah 8 hari. Lalu cairan feses (manur) 34 sampai 43 hari, bahkan dalam limfonodus, sumsum tulang, tetesan darah, jeroan bisa bertahan beberapa bulan.

Virus penyebab penyakit mulut dan kuku banyak terdapat dalam jaringan, sekresi dan eksresi sebelum dan pada waktu timbulnya gejala klinis. Penyakit ini bisa menular ke hewan lain. Penularannya melalui kontak dengan hewan atsu bahan tercemar, jalur inhalasi (pernafasan), ingesti (mulut/makan) dan melalui perkawinan alami ataupun buatan.

Meski sangat menular, penyakit mulut dan kuku dapat dikendalikan. Upaya pengendaliannya antara lain, jika ada hewan demam tinggi atau sakit segera laporkan ke Dokter Hewan atau Puskeswan atau Dinas. Kemudian jika hewan sakit dipisahkan dan jangan dijual, tidak memotong hewan sakit, menjaga kebersihan kandang, alat, dan orang yang menangani hewan.

Denny menjelaskan, secara ilmiah telah dibuktikan oleh penelitian yang telah dipublikasi bahwa virus penyakit mulut dan kuku tidak dapat bertahan hidup dalam daging (deboned and deglanded) yang telah mengalami rigor mortis. Namun, masih bertahan hidup pada hati, ginjal, rumen, dan darah yang dibekukan.

Sepanjang daging deboned and deglanded serta telah dilayukan (pH<6.0), risiko="" adanya="" virus="" di="" daging="" dapat="" diabaikan="" atau="" negligible="" risk="" p="">

"Jika ingin memastikan bahwa pada daging tidak ada virus yang aktif, maka harus dilakukan pengujian secara biakan bukan uji PCR," katanya.

Tips untuk Konsumen Rumah Tangga

Denny mengatakan penyakit mulut dan kuku banyak terdapat dalam darah, air liur, dan jeroan hewan seperti sapi, kambing, domba, dan babi yang sakit dan sangat potensial menularkan ke hewan yang peka.

Bagi konsumen, daging dan jeroan yang dibeli jangan dicuci agar tidak terjadi cemaran virus. Daging harus langsung dimasak dengan merebus pada air (kuah) yang mendidih selama minimal 30 menit atau daging langsung disimpan dalam kulkas minimal 24 jam agar pH (keasaman) daging mencapai di bawah pH 6 yang dapat menginaktivasi virus penyakit mulut dan kuku.

"Jika daging akan dibekukan maka daging wajib dimasak (rebus mendidih minimal 30 menit) terlebih dahulu atau disimpan dalam kulkas minimal 24 jam," jelasnya.

Sementara untuk susu sapi atau kambing harus dimasak mendidih minimal 5 menit sambil diaduk perlahan (supaya tidak ada bagian yang hangus di dasar panci). Kemudian talenan, pisau, wadah yang kontak dengan dagung dan jeroan mentah harus dicuci dengan deterjen.

"Kebersihan tangan dan tempat sebelum, selama, dan setelah menangani daging dan jeroan atau memasak harus senantiasa dijaga," tutupnya. [ray]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel