Jadi Sosok Kartini di Hati, Pilihan Ibu Yakinkan Ketua ITAGI Sri Rezeki untuk Jadi Dokter

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Ketika vaksinasi COVID-19 dimulai, Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Prof. Dr. Sri Rezeki Hadinegoro menjadi salah satu nama yang kerap memberikan informasi seputar imunisasi di berbagai media.

Dalam siaran pers yang diterima Health Liputan6.com pada Jumat (23/4/2021), Sri Rezeki sudah menjadi dokter umum sejak 1972. Ia mulai berdinas di RSU Kabupaten Sumedang dan dua puskesmas di Sumedang.

Sri Rezeki mengatakan bahwa masyarakat yang jauh dari fasilitas kesehatan menjadi perhatian utamanya yang kala itu baru menjadi seorang dokter.

"Dokter menjadi orang yang dapat menolong bukan saja di bidang kesehatan perorangan tetapi lebih ke kesehatan masyarakat," kata Sri Rezeki.

Kiprah Sri Rezeki sebagai seorang dokter tak lepas dari peran sang ibu, yang menurutnya adalah sosok Kartini di hatinya. Dia sendiri telah memiliki minat di bidang kesehatan sejak masih kecil.

Ia mengungkapkan bahwa saat kecil, dia sering melihat sang ayah yang juga seorang dokter, dan membuka praktik di rumah mereka. Seringkali, ia juga ikut ke rumah sakit bersama ayahnya.

Hal ini membuat wanita yang memiliki gelar dokter spesialis anak itu sering merasa kasihan jika melihat orang yang sakit. Ada dorongan ingin menolong, ungkap Sri Rezeki.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Sempat Ingin Perdalam Dunia Pertanian

Ketua Indonesian Technical Advisory Group of Immunization (ITAGI) Prof. Dr. dr. Sri Rezeki S. Hadinegoro Sp.A(K) dan General Manager Sanofi Pasteur Indonesia Joko Murdianto
Ketua Indonesian Technical Advisory Group of Immunization (ITAGI) Prof. Dr. dr. Sri Rezeki S. Hadinegoro Sp.A(K) dan General Manager Sanofi Pasteur Indonesia Joko Murdianto

Sri Rezeki sempat kehilangan ketertarikan di dunia kesehatan ketika menginjak remaja. Kesenangannya bercocok tanam malah membuatnya ingin memperdalam dunia pertanian.

Namun, setelah lulus SMA, sang ibu menganjurkan Sri Rezeki untuk mendaftar ke fakultas kedokteran, dengan harapan mampu menggantikan ayahnya yang mengalami stroke dan tidak bisa berpraktik lagi.

Sri Rezeki saat itu yakin akan pilihan ibunya. Benar saja, dia diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Jakarta, dan Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung. Karena tinggal di Kota Kembang dan harus merawat sang ayah, ia pun memilih Unpad.

Sri Rezeki sudah banyak makan asam garam sebagai seorang dokter. Dia menceritakan dirinya pernah menolong ibu melahirkan dengan peralatan sederhana, melakukan visum nenek korban pembunuhan, hingga mengobati narapidana yang usai sembuh malah melarikan diri.

Dia juga pernah menolong korban kecelakaan bus yang masuk jurang, mengirim pasien dengan nyeri perut hebat karena peradangan usus buntu ke RSHS Bandung menggunakan truk, serta membangun ruangan ICU dan mendirikan sekolah perawat di Sumedang.

Setelah pindah ke Jakarta bersama suaminya, Sri Rezeki bekerja di Puskesmas Mampang Prapatan, Pela Mampang, dan Kuningan Barat di Jakarta Selatan.

"Dalam masa 4 tahun bekerja di Puskesmas saya mulai tertarik pada kesehatan anak dan pada tahun 1979 sampai 1983 saya mengambil spesialis anak di FKUI," ujarnya.

Peran Perempuan dalam Menghadapi Pandemi

Kepala BPOM Penny K Lukito (tengah) menyampaikan keterangan terkait vaksin COVID-19 di Gedung BPOM, Jakarta, Kamis (19/11/2020). Penny mengatakan Emergency Use of Authorization (EUA) vaksin COVID-19 Sinovac diharapkan bisa keluar pada minggu ketiga/keempat Januari 2021. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Kepala BPOM Penny K Lukito (tengah) menyampaikan keterangan terkait vaksin COVID-19 di Gedung BPOM, Jakarta, Kamis (19/11/2020). Penny mengatakan Emergency Use of Authorization (EUA) vaksin COVID-19 Sinovac diharapkan bisa keluar pada minggu ketiga/keempat Januari 2021. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Nama Sri Rezeki semakin banyak disorot di masa pandemi COVID-19, khususnya ketika membicarakan hal-hal terkait vaksinasi.

Menurut Sri Rezeki, perempuan memiliki peran dalam berbagai situasi, termasuk dalam menghadapi pandemi. Ia Mengatakan bahwa perempuan dapat mengerjakan apapun yang berguna menyangkut kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan anak.

Sri Rezeki sendiri bersyukur wanita saat ini sudah bisa berkarya di semua bidang. Para ibu pun juga bisa membantu anak-anak mengerjakan pekerjaan sekolah secara daring, serta tidak lupa memperhatikan anak dan anggota keluarga lain dalam melakukan protokol kesehatan.

"Saat ini, kita banyak waktu untuk berinteraksi dengan anggota keluarga, terutama anak, cucu, dan suami. Bagi para wanita pekerja saat ini mempunyai waktu lebih banyak untuk mengerjakan pekerjaan yang selama ini terbengkalai," katanya.

Pandemi di Mata Sri Rezeki

Petugas menyiapkan vaksin COVID-19 tahap kedua sebelum disuntikkan kepada warga lansia di di RPTA Gajah Tunggal, Jakarta Barat, Rabu (21/4/2021). Berdasarkan data hingga 19 April 2021, total 10.966.934 orang Indonesia telah menjalani vaksinasi Covid-19. (Liputan6.com/JohanTallo)
Petugas menyiapkan vaksin COVID-19 tahap kedua sebelum disuntikkan kepada warga lansia di di RPTA Gajah Tunggal, Jakarta Barat, Rabu (21/4/2021). Berdasarkan data hingga 19 April 2021, total 10.966.934 orang Indonesia telah menjalani vaksinasi Covid-19. (Liputan6.com/JohanTallo)

Bagi Sri Rezeki, pandemi COVID-19 sendiri merupakan sesuatu yang sudah didesain oleh Yang Maha Kuasa, untuk memberikan peringatan bagi umat manusia.

Menurutnya, konsep "One Health" di mana semua harus memperhatikan semua makhluk hidup di dunia, manusia dan makhluk hidup lain termasuk hewan yang sangat kecil pun harus menjadi perhatian bersama.

Ia mengatakan bahwa saat ini, ilmu pengetahuan dan kebersamaan antarnegara di dunia sedang diuji. Selain itu, yang paling penting adalah harus mengembangkan inovasi dalam bekerja sama untuk mengatasi pandemi ini.

"Maka kita di negara ini harus taat mengikuti pedoman yang telah ada serta mengkaji perjalanan pandemi beserta masalahnya dan senantiasa melakukan evaluasi terhadap hal-hal yang perlu diperbaiki," kata Sri Rezeki.

Sri Rezeki pun tidak lupa mengingatkan bahwa vaksinasi menjadi salah satu cara untuk mengakhiri pandemi, selain disiplin protokol kesehatan.

"Jika sudah mendapat kesempatan untuk divaksinasi bersegeralah, takutlah pada penyakitnya dan jangan takut pada vaksinasinya karena efek samping sangat minimal dan cepat hilang dalam 1-2 hari. Insya Allah."

Infografis Vaksinasi Covid-19 Lansia di Indonesia Masih Rendah

Infografis Vaksinasi Covid-19 Lansia di Indonesia Masih Rendah. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Vaksinasi Covid-19 Lansia di Indonesia Masih Rendah. (Liputan6.com/Trieyasni)

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini