Jadi Target Iran, Menlu Israel Batalkan Kunjungan ke Dubai

Liputan6.com, Jakarta Menteri luar negeri Israel, Israel Katz menunda kunjungannya ke Dubai karena alasan keamanan. Beberapa diplomat menghubungkan keputusan tersebut dengan peningkatan ketegangan Iran dan Amerika Serikat.

Katz yang merangkap sebagai menteri intelijen, sebelumnya dijadwalkan melakukan pertemuan pada pertengahan Januari di Uni Emirat Arab menjelang Expo 2020 Dubai di negara Teluk itu. Namun berdasarkan instruksi pejabat keamanan, kunjungan tersebut akan ditunda, menurut seorang diplomat Israel, tanpa menyebutkan tanggal baru.

Sementara itu diplomat lain, yang juga merahasiakan identitasnya, menyebutkan bahwa Israel sedang mengambil tindakan pencegahan agar jangan sampai musuhnya, Iran, mencoba menargetkan Katz di Teluk sebagai bagian dari aksi balasan terhadap sekutu Israel, Amerika Serikat, seperti dilansir Antara, Senin (13/1/2020).

Diplomat itu tak merujuk bukti untuk mengindikasikan ada ancaman spesifik. Iran dan Israel terlibat dalam permusuhan sengit di kawasan sejak revolusi Iran 1979.

Permusuhan selama puluhan tahun antara Teheran dan Washington semakin buruk dalam beberapa pekan belakangan ini setelah AS menewaskan jenderal besar Iran Qasem Soleimani. Iran kemudian melakukan balasan dengan menembakkan roket ke pangkalan udara Irak, yang ditempati pasukan AS.

AS Melunak, Iran Makin Gahar

Banner Infografis Dampak Global Konflik AS Vs Iran. (Liputan6.com/Abdillah)

Sehari setelah Donald Trump seperti menyiratkan ingin mengurangi ketegangan, para pejabat Iran justru bersumpah akan membalas dendam atas pembunuhan seorang jenderal tertingginya. Seraya menggarisbawahi bahwa serangan rudal mereka sebelumnya ke pangkalan militer Amerika tidak dimaksudkan untuk membunuh.

Mengutip The New York Times, selang sehari usai Trump mundur dari konflik militer lebih lanjut dengan Iran, seorang komandan Islamic Revolutionary Guards Corps (IRGC) atau Korps Pengawal Revolusi Islam negara itu menyatakan bahwa Negeri Para Mullah akan segera melakukan "pembalasan yang lebih keras" terhadap Amerika Serikat --atas serangan pesawat tanpa awak pekan lalu yang menewaskan seorang jenderal top Iran. Sedangkan pemimpin militer lainnya mengatakan serangan rudal dari negaranya yang menargetkan warga Amerika di Irak minggu ini tidak dimaksudkan untuk membunuh siapa pun.

Pernyataan itu hanyalah beberapa pesan yang diajukan oleh sejumlah pemimpin Iran pada Kamis 9 Januari setelah serangan rudal Iran, yang menghantam dua pangkalan militer di Irak yang menampung pasukan Amerika.

Kematian Jenderal Qasem Soleimani sang pemimpin Pasukan Quds bergema di seluruh negeri, mendorong seruan untuk membalas dendam dan serangan balasan oleh Iran.

Rentetan rudal pada Rabu 8 Januari tidak menewaskan tentara Amerika, dan tampaknya telah menimbulkan sedikit kerusakan pada pangkalan udara di Asad dan Erbil yang menampung ribuan prajurit serta wanita Irak dan Amerika. Dan meskipun Tehran mengatakan sesudahnya bahwa mereka telah mengambil langkah-langkah proporsional untuk membalas pembunuhan Jenderal Qasem, para pejabat di kawasan itu memperingatkan bahwa Iran mungkin tidak akan melakukan manuver dan tidak meninggalkan tujuannya untuk mengusir Amerika Serikat keluar dari Timur Tengah.

Menurut kantor berita Tasnim Iran, komandan angkatan udara IRGC, Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh, menggambarkan serangan di pangkalan di Irak sebagai awal dari "operasi besar" terhadap Amerika Serikat. Tetapi ia juga mencatat bahwa serangan itu tidak bertujuan untuk membunuh siapa pun. Dia dengan cepat menindaklanjuti dengan klaim bahwa "puluhan orang terbunuh dan terluka," sebuah poin yang diperdebatkan oleh orang Amerika, Irak, dan media internasional lainnya.

Seorang komandan senior IRGC, Abdollah Araghi, mengatakan angkatan bersenjata Iran akan "memaksakan balas dendam yang lebih keras terhadap musuh dalam waktu dekat," menurut Tasnim.

Presiden Iran Hassan Rouhani berbicata dengan Perdana Menteri Boris Johnson dari Inggris pada Kamis pagi, dan memperingatkan tindakan lebih lanjut, menurut kantor presiden. "Jika AS membuat kesalahan lain, negara itu akan menerima respons yang sangat berbahaya," kata Rouhani, menurut pernyataan itu.

Wakil jenderal IRGC, Ali Fadavi, juga berjanji akan membalas dendam, menurut laporan terpisah dari Tasnim versi bahasa Inggris.

"Langkah ini adalah salah satu manifestasi dari kemampuan kami," kata Jenderal Fadavi dalam pidatonya di Provinsi Isfahan. Tidak ada negara yang pernah membuat langkah besar melawan Amerika Serikat seperti yang kita lakukan. Kami menjatuhkan puluhan rudal ke jantung pangkalan AS di Irak dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa," tegas Ali.

Masih menurut Tasnim, pemimpin baru Pasukan Quds, Ismail Qaani, wakil Jenderal Qasem, merilis pernyataan pada hari Kamis yang menguraikan komitmennya sendiri untuk bergerak maju dengan agenda pendahulunya di wilayah tersebut. Jenderal Qaani menambahkan bahwa tujuan utamanya adalah mengusir pasukan Amerika keluar dari wilayah tersebut.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini: