Jadi Tuan Rumah Olimpiade Informatika Internasional, Ini Keuntungan Diraih Indonesia

Merdeka.com - Merdeka.com - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyatakan bahwa penyelenggaraan International Olympiad in Informatics (IOI) merupakan bagian dari pemetaan talenta digital Indonesia.

"Ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mencapai sembilan juta talenta digital Indonesia pada 2035," ujar Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek, Suharti, di Jakarta, Rabu (20/7).

Indonesia untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah pelaksanaan Olimpiade Informatika Internasional tersebut. Pelaksanaan IOI ke-34 tahun 2022 akan diselenggarakan di Yogyakarta pada 7 Agustus 2022 hingga 14 Agustus 2022.

Suharti menjelaskan pelaksanaan IOI tersebut memiliki manfaat luar biasa bagi Indonesia. Tidak hanya bagian dari penyiapan talenta digital nasional, juga mengenalkan potensi pariwisata Indonesia ke peserta IOI dari luar negeri.

Selain itu juga upaya Kemendikbudristek dalam membantu pemulihan ekonomi nasional.

"IOI ini akan diikuti 89 tim dari 90 negara. Kami berharap pelaksanaan IOI ini, dapat menjadi mercusuar yang mana gaungnya dapat menginspirasi siswa di Tanah Air," terang dia lagi.

Sebelumnya Digelar Secara Daring

Host Organizing Committee IOI 2022 sekaligus Alumni Tim Olimpiade Komputer Indonesia, Brian Marshal mengatakan bahwa setelah dua tahun berturut-turut digelar secara daring karena pandemi Covid-19, IOI 2022 di Indonesia akan menjadi kompetisi pertama yang diselenggarakan secara hibrida (daring dan luring).

"Alumni dan Pembina Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI) melalui wadah Ikatan Alumni (IA) TOKI merasa senang dan bangga dapat berkontribusi dan berkolaborasi dengan Kemendikbudristek dalam penyelenggaraan IOI 2022. IOI yang pertama kali dilakukan secara hibrida ini kemungkinan melibatkan tim dan peserta terbanyak sepanjang sejarah," kata Brian.

Sementara itu, Praktisi Teknologi Informatika Ainun Najib mengatakan tren dan peluang besar di bidang informatika serta pentingnya sejak kanak-kanak mempelajari prinsip-prinsip dasar bagaimana caranya menggunakan kecepatan komputer untuk membantu memecahkan masalah.

"Beberapa dekade terakhir banyak bermunculan inovasi teknologi. Kemampuan komputasi, kalkulasi, dan otomasi, kecepatannya tumbuh secara eksponensial dan telah membantu manusia untuk mengambil alih beban pekerjaan yang dulunya manual dengan pikiran dan tangan manusia," kata Ainun.

Dalam kompetisi tahun ini, Indonesia mengirimkan delapan peserta yang terbagi dalam dua tim. Tim A terdiri dari Albert Yulius Ramahalim dari SMA Katolik Ricci I Jakarta Barat, Juan Carlo Vieri dari SMA Intan Permata Hati Surabaya, Maximilliano Utomo dari SMA Xin Zhong Surabaya, dan Joseph Oliver Lim dari SMAK 1 Penabur Jakarta. Sedangkan Tim B terdiri dari Albert Ariel Putra dari SMA Kristen Petra 4 Sidoarjo, Matthew Allan dari SMA Kanisius Jakarta, Andrew dari SMA S Sutomo 1 Medan, dan Vannes Wijaya dari SMAN 8 Pekanbaru. [idr]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel