Jadilah Perempuan yang Bermimpi Tinggi, Ada Doa dan Kerja Keras sebagai Penguat Diri

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

TERKAIT: Tak Ada yang Lebih Indah selain Ketulusan Cinta Ibu pada Anaknya

TERKAIT: Pengalaman Ibu Menjadi Bekalku untuk Masa Depan yang Lebih Baik

TERKAIT: Ibuku adalah Perempuan dengan Sejuta Keahlian

***

Oleh: RENI SOENGKUNIE

Hai, Pak. Aku masih ingat dulu kau pernah menuliskan sebuah puisi untukku. Aku tak mengerti saat itu tentang pesan apa yang ingin kau sampaikan dalam tulisan puisi karanganmu itu. Dalam puisi itu kau menulis bahwa sebagai seorang bapak, dirimu masih jauh dari kata sempurna.

Kau meminta maaf karena tak bisa menjadi seorang ayah yang kaya, sehingga tak bisa membelikan banyak mainan seperti ayah temanku. Kau juga meminta maaf karena dirimu hanya petani kecil yang tidak berpendidikan tinggi seperti ayah teman-temanku. Dalam puisi itu kau sangat banyak sekali meminta maaf, Pak.

Dulu aku masih anak-anak yang tak tahu apa-apa tentang dunia. Ya, aku cukup kesal dengan kehidupan yang serba susah di tengah kemiskinan. Aku suka kesal saat aku ingin membeli buku, tapi bapak bilang kita tak punya uang untuk membelinya. Aku suka kesal saat waktunya membayar biaya sekolah, tapi bapak bilang belum ada uang sehingga aku harus datang ke ruang TU untuk mengurus surat keterangan untuk mengikuti ujian. Aku kesal kenapa aku tak pernah dibelikan sepeda mini warna pink. Bapak berulang kali bilang, kita tak punya uang. Yah, aku akui hidup di kala itu emang susah. Jangankan buat beli buku, buat makan saja kami kesulitan.

Bapak yang Membuatku Berani Bermimpi

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/lingtsyr
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/lingtsyr

Pak, aku memang kesal dengan kehidupan miskin yang kita jalani dulu tapi aku tak pernah kesal dengan kehidupan yang aku miliki. Kau berulang kali meminta maaf karena hal itu, padahal tak sama sekali pun aku menganggap bahwa semua itu karena kesalahanmu.

Aku tak pernah sedikit pun iri dengan kehidupan teman-temanku. Aku juga tak pernah mau untuk bertukar bapak dengan bapak teman-temanku. Meski kehidupan dulu sangat sulit, aku tak pernah sekali pun menyesal telah terlahir menjadi seorang anak dari bapak sepertimu.

Tahukah kau, Pak, aku adalah gadis kecil yang suaranya selalu nyaring dan percaya diri tiap kali bercerita tentang sosok seorang bapak di depan kelas ataupun di depan teman-temanku.

Aku selalu bilang pada semua orang bahwa bapakku adalah seorang penjaga mimpi. Bapakku adalah seorang yang selalu menceritakan dongeng karangannya sendiri sebelum aku terlelap tidur.

Bapak adalah seorang lelaki yang setiap sore mengajakku mainan di depan halaman rumah dengan mainan buatannya sendiri. Bapak adalah seseorang yang selalu duduk dan mendengarkan segala cerita konyolku di sekolah atau tempat ngaji. Seorang bapak yang selalu ada saat aku kesulitan dalam mengerjakan tugas sekolah dan seorang bapak yang selalu bertepuk tangan saat aku belajar pidato di depannya.

Kau tahu, Pak. Semua orang matanya berkaca-kaca mendengarkan ceritaku tentangmu. Bahkan tak sedikit temanku yang iri karena aku memiliki bapak sepertimu. Lihatlah Pak, kekayaan pada akhirnya tak selalu dimaknai dengan kebahagian. Kita yang terlahir dari orang yang tak punya justru diberkahi begitu banyak kebahagian, hingga kita lupa untuk mengeluh dan meratapi hidup yang tak mudah ini.

Kau memang bukan seorang bapak yang berpendidikan tinggi seperti bapak teman-temanku, tapi kau selalu menyempatkan diri untuk membaca majalah bekas yang kau dapat dari Pakde. Kau orang yang mau bertumbuh, mau belajar dan mau membantuku dalam menyelesaikan masalah di duniaku.

Bapak Membantuku Membangun dan Menjaga Mimpiku

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/CandyRetriever
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/CandyRetriever

Kau mengajariku secara tidak langsung akan pentingnya dan sebegitu mengasyikannya kegiatan membaca tanpa pernah menyuruhku untuk membaca. Saat itu kau memang tak mampu membelikan buku padaku, tapi kau menanamkan kecintaan dalam dunia membaca. Hal itulah yang lebih penting daripada memberi ribuan buku tanpa adanya minat baca. Karena dengan minat baca, saat aku besar dan punya uang sendiri aku akan membeli buku-buku itu.

Bapak memang tak bisa membantu dengan materi dalam perjalananku mengejar mimpi, tapi bapak mengajariku bermimpi. Bahwa sebagai orang tak punya, satu-satunya yang aku miliki hanyalah mimpi. Kau selalu bilang menjadi anak perempuan itu harus punya mimpi yang tinggi. Kau menyuruhku melalang buana untuk terbang tinggi, namun kau selalu berkata sayap-sayap yang aku punya itu terbuat dari doa dan kerja keras.

Pak, mungkin kau sangat kuno, tak pernah mengatakan padaku secara langsung bahwa kau mencintai dan menyayangi gadis kecilnya yang kini sudah tumbuh dewasa. Tapi aku tahu, kau adalah lelaki pertama yang mencintaiku.

Kau rela naik pohon kelapa di tengah guyuran hujan yang deras cuma untuk melunasi tunggakan biaya sekolahku. Kau rela membetulkan listrik punya orang di tengah malam, hanya untuk membelikanku seragam sekolah yang sudah lusuh. Kau rela bangun dini hari untuk mencari ikan di sungai agar anakmu tercukupi gizinya.

Kau adalah lelaki yang menyerahkan semua mimpinya hanya untuk membangun mimpi-mimpiku. Lalu bagaimana mungkin aku bisa bilang bahwa kau tak mencintaiku? Aku sangat bangga memiliki bapak sepertimu. Terima kasih sudah membangun dan menjaga mimpi-mimpiku.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel