Jadwal Blue Moon dan Cara Melihatnya

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Fenomena Blue Moon atau Bulan Biru akan terjadi pada hari ini, 22 Agustus 2021. Menurut peneliti Pusat Sains Antariksa LAPAN, Andi Pangerang, fenomena kali ini termasuk dalam kategori Bulan Biru Musiman.

Dikutip dari situs resmi LAPAN, Minggu (22/8/2021), peristiwa Blue Moon ini akan dapat diamati mulai pukul 19.01 WIB atau sejak Matahari terbenam di masing-masing wilayah.

Untuk dapat melihat fenomena ini, masyarakat pun tidak perlu memakai bantuan alat optik khusus, sehingga dapat langsung dipandang mata. Namun perlu diingat, cuaca, termasuk polusi dapat memengaruhi kejelasan saat melihat Blue Moon.

Sebagai informasi, Bulan Biru Musiman merupakan Bulan Purnama ketiga dari salah satu musim astronomis yang di dalamnya terjadi empat kali Bulan Purnama.

Selain Bulan Biru Musiman, ada definisi lain dari Bulan Biru, yakni Bulan Biru Bulanan. Fenomena ini terjadi ketika Bulan Purnama kedua dari salah satu bulan di dalam kalender Masehi yang di dalamnya terjadi dua kali Bulan Purnama.

Bulan Biru Musiman terjadi setiap dua atau tiga tahun sekali, sebelumnya pernah terjadi pada 19 Mei 2019 dan 22 Mei 2016. Lalu, fenomena ini akan kembali terjadi pada 20 Agustus 2024 dan 20 Mei 2027 mendatang.

Fenomena ini sendiri terjadi ketika Bulan Purnama pertama terjadi berdekatan dengan awal musim astronomis, sehingga dimungkinkan dalam sebuah musim astronomis terjadi empat kali Bulan Purnama. Nah, Bulan Pertama Ketiga dari musim astronomis yang mengalami empat kali Bulan Purnama ini lantas disebut Bulan Biru.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Asal Usul Blue Moon

Penampakan fenomena supermoon terlihat dari langit Trebons-sur-la-Grasse di Prancis selatan, Minggu (3/12). Selain dinamai Full Cold Supermoon, Supermoon ini juga disebut Big Spirit Moon atau Blue Moon. (AFP PHOTO / REMY GABALDA)
Penampakan fenomena supermoon terlihat dari langit Trebons-sur-la-Grasse di Prancis selatan, Minggu (3/12). Selain dinamai Full Cold Supermoon, Supermoon ini juga disebut Big Spirit Moon atau Blue Moon. (AFP PHOTO / REMY GABALDA)

Andi menjelaskan, Bulan Biru sebenarnya tidak berarti warna Bulan menjadi biru. Ia menuturkan, asal usul historis ini dan dua defisininya masih simpang siur. Kebanyakan pihak pun menganggapnya sebagai kesalahan interpretasi.

"Banyak orang meyakini istilah “Bulan Biru” yang dimaknai sebagai sesuatu hal yang terjadi sangat langka berasal dari ketika kabut asap dan abu vulkanik dari letusan gunung berapi mengubah Bulan menjadi berwarna kebiruan," ujar Andi seperti dikutip dari situs resmi LAPAN, Minggu (22/8/2021).

Lebih lanjut ia menuturkan, istilah Blue Moon sebenarnya sudah ada sejak 400 tahun lalu. Sementara itu, seorang penutur cerita rakyat berkebangsaan Kanada, Dr. Philip Hiscock sempat mengusulkan penyebutan Blue Moon bermakna ada hal ganjil dan tidak akan terjadi.

Adapun asal usul Bulan Biru Musiman ini juga dapat ditelusuri dari penggunaan Almanak Petani Maine yang sekarang tidak lagi dipakai. Menurut almanak ini, kemunculan purnama ke-13 dalam satu tahun dapat mengacaukan peringatan hari besar umat Kristen, yakni Prapaskah dan Paskah, yang menggunakan Bulan Purnama untuk penentuannya.

Untuk itu, angka 13 pun dianggap sebagai angka sial. Sementara kesulitan perhitungan terjadinya Bulan Purnama yang menyebabkan Bulan Purnama tambahan ini dinamakan sebagai Blue Moon.

Startup Asal Jepang dan Israel Kolaborasi Ingin Hasilkan Oksigen di Bulan

Di sisi lain, baru-baru ini, startup asal Jepang dan Israel bermitra untuk menggarap sebuah proyek eksperimental untuk menghasilkan oksigen di Bulan.

Diharapkan, proyek ini dapat membantu astronaut saat melakukan misi di Bulan atau di luar angkasa.

Startup Israel yang bernama Helios Project Ltd itu akan uji coba mengekstraksi oksigen dengan cara melelehkan tanah Bulan pada suhu tinggi dan mengelektrolisisnya.

Sementara startup asal Jepang, Ispace Inc. akan mengirimkan peralatan untuk eksperimen tersebut ke Bulan sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 2023 dan 2025.

"Kami sangat senang dengan teknologi mereka, dan kami percaya upaya ini akan merangsang lebih banyak pihak untuk memasuki pasar ini," kata CEO Ispace, Takeshi Hakamada, dikutip Kyodo News, Senin (16/8/2021).

Sementara itu, CEO Helios, Jonathan Geifman, mengatakan mengekstraksi oksigen dari tanah Bulan sangat penting bagi manusia untuk terlibat dalam aktivitas di Bulan di masa depan.

(Dam/Isk)

Infografis Fenomena Super Snow Moon

Infografis Fenomena Super Snow Moon (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Fenomena Super Snow Moon (Liputan6.com/Abdillah)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel