Jaga jarak dari Trump? Sejumlah tokoh Republik berbalik mengkritik dia

WASHINGTON (AP) - Selama lebih dari tiga tahun, Presiden Donald Trump menanamkan rasa takut kepada para pemimpin Partai Republik yang sebagian besar memendam kritik terhadap kepemimpinannya yang bergolak atau politik yang tidak sejalan dengan mereka sendiri.

Hal itu mulai berubah.

Empat bulan sebelum para pemilih memutuskan pemilu untuk terpilih kembali presiden dari Partai Republik itu, beberapa tokoh di dalam partai Trump mulai berani bersuara keras ketika Trump kesulitan menavigasi krisis nasional yang menantang dan pesan kampanye yang memecah belah.

"Dia akan kalah," kata mantan Gubernur New Jersey Chris Christie, seorang teman Trump dan orang kepercayaan, Minggu, mengenai prospek terpilihnya lagi Trump dalam program ABC, "This Week." "Dan jika dia tidak mengubah arah, baik dalam hal substansi dari apa yang dia bahas dan cara dia mendekati rakyat Amerika, maka dia akan kalah."

Di luar politik, sekutu Trump - bahkan beberapa dalam pemerintahannya sendiri - berusaha menjaga jarak dari kebijakannya.

Ketika Trump menghindari mengenakan masker di depan umum, Pemimpin Mayoritas Senat Mitch McConnell mengatakan, "Kita tak boleh memiliki stigma -tidak seorang pun- mengenai memakai masker saat kita meninggalkan rumah kita." Wakil Presiden Mike Pence digambarkan akhir pekan ini mengenakan masker dan mendesak warga Amerika lainnya untuk melakukan hal sama. Dan legislator Republik dari Wyoming, Liz Cheney, orang kuat ketiga dari Republik di DPR, mencuitkan foto ayahnya, mantan Wakil Presiden Dick Cheney, dengan mengenakan masker dengan tagar #realmenwearmasks (pria sejati mengenakan masker).

Pada saat yang sama, Trump dikritik oleh beberapa orang Partai Republik karena kepemimpinan yang tidak konsisten selama unjuk rasa nasional menentang kebrutalan polisi. Pada Minggu, sang presiden mencuit dan kemudian menghapus video seorang pendukungnya mengucapkan semboyan supremasi kulit putih "White power."

Senator dari South Carolina, Tim Scott, satu-satunya senator kulit hitam dari Republik, menyebut keputusan Trump untuk membagikan video itu "tak bisa dibela."

Jangan salah, Trump masih memiliki cengkeraman ketat di partainya. Dan kekhawatiran yang semakin meningkat serupa dengan yang muncul pada 2016 ketika Trump mengatasi kekurangan pribadi dan kapasitas politiknya untuk mengalahkan calon Demokrat Hillary Clinton. Perpecahan itu menandakan bahwa Partai Republik sadar akan lemahnya posisi politik presiden dan mungkin merasa semakin bebas melepaskan diri dari dia ketika pemilu semakin dekat.