Jaga Kesehatan Tubuh, Ketahui 7 Fakta dan Mitos Seputar Kesulitan Buang Air Besar

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Buang air besar atau BAB merupakan aktivitas rutin yang dialami oleh semua orang dan kalangan. Kebanyakan orang melakukannya di pagi hari. Karena aktivitas BAB sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh, maka mengalami kesulitan buang air besar bisa menjadi masalah.

Dalam istilah medis masalah sulit buang air besar dikenal dengan konstipasi atau sembelit. Ini bisa terjadi kepada bayi, anak-anak, maupun orang dewasa. Tingkat keparahannya bervariasi tergantung pada pola hidup setiap orang.

Sayangnya, banyak mitos seputar sulit BAB yang sudah lama berkembang di tengah masyarakat dan terlanjur dipercaya. Padahal ada beberapa hal yang perlu diluruskan.

Sudah bukan rahasia lagi kalau kita harus mengonsumsi makanan kaya serat agar BAB lancar, misalnya seperti buah dan sayuran. Serat dapat menambah berat dan membuat feses jadi lebih lembut, sehingga feses mudah dikeluarkan.

Berikut ini beberapa mitos dan fakta mengenai kesulitan BAB seperti yang dikutip dari klikdokter.

1. Harus buang air besar setiap hari

Sebagian besar orang percaya bahwa buang air besar harus setiap hari. Jika tidak, mereka menganggap telah mengalami sembelit. Padahal tidak BAB setiap hari belum tentu kamu mengalami sembelit.

Frekuensi buang air besar yang normal setiap orang bervariasi. Ada yang BAB sebanyak tiga kali dalam sehari, ada juga yang baru BAB setiap 2 hari. Sembelit umumnya ditandai dengan frekuensi BAB yang kurang dari 3 kali dalam seminggu.

2. Tubuh menyerap racun dari feses yang sulit keluar

6 cara aman agar buang air besar lancar. (Via: dailymail.co.uk/Alamy)
6 cara aman agar buang air besar lancar. (Via: dailymail.co.uk/Alamy)

Banyak orang yang khawatir jika kondisi sembelit menyebabkan tubuhnya menyerap kembali racun dari feses yang sulit dikeluarkan. Faktanya, belum ada bukti medis yang cukup untuk menyebutkan kalau feses memproduksi toksin atau racun. Lebih lanjut, laksatif maupun pembersihan usus besar pun tidak terbukti dapat mencegah kanker atau penyakit lain.

3. Menahan buang air besar tidak berbahaya

ilustrasi ingin buang air besar/copyright By AstroStar from Shutterstock
ilustrasi ingin buang air besar/copyright By AstroStar from Shutterstock

Secara umum, rasa sakit perut ingin buang air besar bisa muncul kapan saja dan di mana saja. Ketika kondisi tidak memungkinkan, banyak orang memilih untuk menahan rasa ingin BAB. Sesekali mungkin tidak jadi masalah, namun jika menjadi kebiasaan tentu saja akan merugikan kesehatan.

Terbiasa menahan BAB dapat memperberat kondisi sembelit dengan melemahkan sinyal BAB setelah beberapa waktu. Akhirnya, menahan BAB bisa menyebabkan keluhan sulit BAB kerap muncul terus menerus.

4. Minum kopi membantu mengatasi sembelit

Kafein dalam kopi memang memiliki manfaat menstimulasi otot sistem pencernaan untuk berkontraksi sehingga menyebabkan pergerakan usus. Namun, bukan berarti untuk mengatasi masalah sulit BAB langsung dengan minum kopi.

Di sisi lain, kopi juga bisa merugikan kamu yang sedang mengalami sembelit. Sebab kopi bersifat diuretik, yakni menarik air keluar dari feses. Selain kopi, hindari juga alkohol dan minuman lain yang berkafein tinggi. Meningkatkan konsumsi ir putih atau air mineral adalah salah satu cara untuk mengatasi sembelit.

Ilustrasi Minum Air Putih/copyright shutterstock.com
Ilustrasi Minum Air Putih/copyright shutterstock.com

Pastikan kamu minum air mineral yang berasal dari pegunungan alami, diproses dengan Teknologi Mineral Protection System untuk melindungi kandungan air dan mineral alami.

5. Intoleransi laktosa sebab sembelit

Sumber: Freepik
Sumber: Freepik

Intoleransi laktosa adalah kondisi di mana tubuh tidak dapat mencerna laktosa, yaitu salah satu zat dalam produk susu. Seringkali, keluhannya berupa BAB yang cenderung cair, perut kembung, mudah sendawa atau kentut.

Di sisi lain, intoleransi laktosa juga bisa menimbulkan keluhan berupa sulit BAB, walaupun umumnya lebih jarang. Hal ini disebabkan oleh laktosa yang tidak dapat dicerna tubuh dan akhirnya difermentasi oleh bakteri yang hidup dalam usus.

Gas metana yang dihasilkan saat proses fermentasi laktosa membuat pergerakan makanan dalam usus melambat. Akibatnya, seseorang dapat sembelit setelah mengonsumsi produk susu.

6. Depresi memicu sembelit

Depresi dapat memicu konstipasi atau membuatnya semakin berat. Diperkirakan sekitar sepertiga penderita depresi juga mengeluhkan sulit BAB. Penyebab sulit BAB dapat berkaitan dengan kurangnya serotonin di dalam tubuh penderita depresi. Serotonin ini merupakan hormon yang turut digunakan oleh persarafan di sistem pencernaan.

Selain itu, sulit BAB dapat disebabkan oleh efek samping obat antidepresan yang dikonsumsi. Mengurangi stres melalui meditasi, yoga, dan teknik relaksasi dapat membantu melancarkan sistem pencernaan.

7. Berlibur bisa menyebabkan sulit BAB

Ilustrasi liburan (pixabay.com)
Ilustrasi liburan (pixabay.com)

Kebiasaan BAB sangat berhubungan erat dengan rutinitas sehari-hari. Misalnya saja, BAB dipengaruhi oleh pola makan yang dikonsumsi setiap hari, jadwal BAB, dan beberapa hal lainnya.

Melakukan perjalanan atau sedang liburan dapat mengubah rutinitas dan diet yang akhirnya memicu konstipasi. Maka dari itu, cukupi kebutuhan cairan dan perbanyak gerak Anda saat sedang liburan, sehingga kondisi sulit BAB bisa dihindari.

Pada dasarnya sulit BAB dapat diatasi dengan cara sederhana seperti menambah asupan serat dan air, juga berolahraga. Namun, bila konstipasi berlangsung lebih dari 2 minggu, periksakanlah diri Anda ke dokter.

(*)