Jaga Ketahanan Pangan, Bulog Dorong Pemanfaatan Sagu dan Tapioka

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menyatakan, untuk menjaga ketahanan pangan, pihaknya tidak hanya mengandalkan produksi beras namun juga mengoptimalkan alternatif pangan lain, seperti sagu dan tapioka.

Buwas, sapaan akrab pria ini, bilang, Indonesia memiliki potensi produksi sagu dan tapioka yang besar dan harus dimanfaatkan dengan baik.

"Kalau bicara stok di luar beras, sangat memadai dan cukup, jadi masyarakat nggak usah khawatir, jadi jangan lihat dari beras saja. Ada 5 juta ha lahan sagu yang belum diolah dengan baik, ini nanti juga akan dimaksimalkan oleh Bulog," ujar Buwas dalam dalam Bincang Editor "Ketahanan Pangan di Masa Pandemi Covid-19" yang ditayangkan di Vidio.com, Senin (2/11/2020).

Buwas melanjutkan, sebesar 87 persen lahan sagu berada di wilayah Papua dan belum diolah dengan teknik yang baik. Sisanya tersebar di Bangka Belitung, sebagian Lampung, Sumatera dan beberapa Jawa.

Untuk mendukung optimalisasi produksi sagu, pihaknya juga membangun pabrik pengolahan sagu di 20 wilayah. Nantinya, tepung sagu tersebut bisa diolah menjadi makanan seperti mie.

"Rasanya lebih enak, lebih sehat, ini menurut penelitian. Dan membantu Indonesia mengurangi ketergantungan impor gandum, gandum kan bahan baku mie," kata Dirut Bulog.

Mantan Kabareskrim ini menjelaskan, jika potensi bahan pangan pokok alternatif beras bisa dimaksimalkan, Indonesia mungkin saja akan memiliki cadangan pangan hingga 450 juta ton dalam 1 tahun.

"Kalau dikelola dengan baik, maka 1 tahun bisa punya cadangan pangan sampai 450 juta ton," kata Buwas.

Selain sagu dan tapioka, Bulog juga memaksimalkan potensi hasil pertanian di daerah-daerah dengan nilai yang tinggi. Misalnya, produksi komoditas jagung yang berlimpah di Sulawesi Utara tidak disalurkan ke pulau Jawa karena biaya logistik yang tinggi.

"Makanya kita ekspor misalnya ke Filipina dan itu punya nilai tambah," jelas Buwas.

Dorong Diversifikasi Pangan, Bulog Bakal Bangun Pabrik Sagu

Ilustrasi pangan lokal sagu/pertanian.go.id.
Ilustrasi pangan lokal sagu/pertanian.go.id.

Perum Bulog akan segera membangun pabrik sagu untuk mengoptimalkan potensi sagu yang ada di Indonesia. Menurut data Kementerian Pertanian, potensi lahan sagu Indonesia mencapai 5,5 juta hektare, namun baru dimanfaatkan 5 persennya saja.

Direktur Utama Bulog Budi Waseso menyatakan, rencana pembangunan pabrik ini sudah dimulai dan akan dilakukan di 20 wilayah.

"Ada program Bulog ke depan, yang menjadi prioritas adalah 20 wilayah akan segera kita bangun pabrik pengolahan sagu, termasuk singkong. Ini akan menjadi prioritas," ujar Budi dalam konferensi pers virtual, Selasa (20/10/2020).

Budi menyatakan, pihaknya juga telah bekerjasama dengan pihak swasta untuk membangun pabrik tersebut. Nantinya, jika sagu ini sudah bisa dioptimalkan, maka akan memiliki potensi besar untuk menjadi alternatif pangan pokok selain beras.

"Karena memang, sagu ini bisa diolah macam-macam, bisa untuk tepung, kue, makanana jadi dan lainnya. Ini berpotensi menjadi industri pangan," jelasnya.

Jika sudah dioptimalkan dengan baik, maka sagu juga bisa dikembangkan sebagai salah satu komiditi ekspor. Bulog sendiri sudah bekerjasama dengan pihak swasta untuk memproduksi produk sagu mie, alias mie dari bahan pokok sagu.

"Ini sudah kita publikasikan, sudah kita kenalkan, ini akan kita perluas di seluruh Indonesia," ujarnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: