Jagung Pakan Ternak Masih Impor Jadi Biang Kerok Mahalnya Harga Telur Ayam

Merdeka.com - Merdeka.com - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Azizah Fauzi menyebut bahwa salah satu penyebab naiknya harga telur karena tingginya harga jagung di pasar internasional. Jagung ini merupakan bahan utama pakan ternak.

"Kebutuhan jagung untuk pakan ternak masih membutuhkan impor karena pasokan domestik belum mencukupi kebutuhan. Sayangnya impor jagung pakan ternak masih restriktif karena hanya terbuka untuk BUMN,"ucap Azizah Fauzi, pada keterangan resmi, Jumat (26/8).

Dia mengungkapkan, berdasarkan data Food Monitor yang dihimpun CIPS dari United States Department of Agriculture (USDA), rata- rata produksi jagung Indonesia 2015 hingga 2020 hanya mencapai 11,5 juta ton.

"Sementara tingkat konsumsi tahunannya diperkirakan melebihi 12 juta ton. Selisih antara produksi domestik dan kebutuhan ini dipenuhi dengan impor," imbuhnya.

Ketersediaan dan harga sebuah komoditas tidak hanya bergantung pada kuantitas produksi. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi ketersediaan dan harga jagung antara lain produksi jagung yang tidak stabil sepanjang tahun

Tiga Musim Tanam di Indonesia

Dia membeberkan secara umum terdapat tiga kali musim tanam jagung di Indonesia, yaitu pada Oktober-Februari, Maret-Juni dan Juli-September. Hampir setengah produksi jagung nasional dihasilkan pada musim tanam pertama yang bertepatan dengan musim penghujan. Musim tanam kedua dan ketiga masing-masing hanya menyumbang 37 dan 14 persen produksi.

Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) nomor 25 tahun 2022, menurut Azizah hanya memperbolehkan BUMN dengan API-U untuk mengimpor jagung pakan ternak. Seharusnya pemenuhan kebutuhan jagung perlu didukung dengan membuka lisensi impor untuk pihak swasta.

"Karena telur ayam merupakan sumber protein utama di Indonesia, harga yang tinggi tentu akan mempengaruhi konsumsi protein, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Pembebasan impor jagung memungkinkan produksi komoditas yang lebih efisien," terangnya.

Menurutnya, Indonesia kurang memiliki keunggulan komparatif dalam produksi jagung, dapat mengimpornya dengan harga lebih rendah. Hal ini akan menurunkan biaya produksi ayam sehingga menguntungkan tidak hanya pihak produsen ayam tetapi juga konsumen, terutama yang berpenghasilan rendah, dengan akses kepada ayam dan telur yang lebih murah.

Proteksi Perdagangan

Dengan menghapuskan proteksi perdagangan untuk jagung juga memungkinkan Indonesia memodernisasi industri ayam, menjadikannya lebih efisien dan mungkin mengembangkan keunggulan komparatifnya di masa depan.

"Jika kenaikan harga jagung tidak dapat teratasi segera, pemerintah dan masyarakat perlu waspada dengan kemungkinan terus meningkatnya harga telur dan komoditas seperti daging ayam dan daging sapi ke depannya," kata dia.

Demi meningkatkan ketersediaan dan keterjangkauan jagung dan produk turunannya, pemerintah tidak cukup hanya memusatkan perhatian pada kuantitas produksi domestik.

"Kebijakan yang terpadu dan multisektor dibutuhkan untuk meningkatkan intensifikasi melalui penggunaan benih hibrida, perbaikan logistik termasuk infrastruktur dan peralatan, mendorong investasi swasta dalam penyediaan fasilitas pengering, gudang dan silo," tambahnya. [idr]