Jakarta Amburadul Kata Megawati, Ridwan Saidi: Dia Salah

Hardani Triyoga, Anwar Sadat
·Bacaan 2 menit

VIVA – Budayawan Betawi Ridwan Saidi angkat bicara terkait pernyataan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang menyebut kondisi Jakarta saat ini amburadul. Menurut Ridwan, ucapan Megawati itu keliru jika melihat dari segi pembangunan dan tata kota.

Menurutnya, bila mau menilai Jakarta mestinya mengetahui awal pembangunan Sunda Kelapa.

"Kalau dilihat dari segi pembangunan daerah, dia salah. Dia tidak cukup pengetahuan untuk menilai Jakarta. Dia harus menilai kota Jakarta dengan pengetahuan sejarah yang cukup sejak dari pembangunan pelabuhan Sunda Kelapa tahun 1540," kata Ridwan saat dihubungi VIVA, Kamis 12 November 2020.

Ridwan menjelaskan, ucapan amburadul juga keliru karena dari 1950 sampai dengan saat ini, Jakarta terus berkembang. Tidak ada istilahnya Jakarta semakin mundur atau semakin amburadul.

Dia pun berguyon bilang Jakarta amburadul tapi sebenarnya karena hanya bisa mengumpat di rumahnya.

"Saya khawatir mereka ini cuma ngumpat di rumahnya aja. Terus tebak-tebakan. Sebab, statement itu tidak ada dasarnya sama sekali. Terkesan mereka isolasi dirinya lalu katakan Jakarta begini, begitu ya enggak bisa dong," tutur Ridwan.

Baca Juga: Kritik Jakarta Amburadul, Megawati Banggakan Solo dan Surabaya

Menurut dia, Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur DKI Anies Baswedan semakin rapi dan jadi kota yang modern. Dia pun menyinggung Pemprov DKI yang saat ini membangun stadion bertaraf internasional di Jakarta Utara yang menambah nilai kota Jakarta.

Pun, pembangunan di kawasan lain di Ibu Kota yang terus dilakukan Anies seperti Menteng dan Manggarai.

"Itu daerah Manggarai yang dimulai dari Sutiyoso dilanjutkan Anies tetap bagus. Ada sudut-sudut yang enak dilihat Jakarta. Daerah Menteng juga bagus. Daerah HI masuk ke Menteng bagus," ujar Ridwan.

Untuk diketahui, Megawati mengatakan kondisi Jakarta amburadul. Menurutnya, kondisi Ibu Kota negara saat ini berbeda saat ia dan keluarga awal pindah ke Jakarta dari Yogyakarta di era 1950-an.

Dia bilang demikian karena Jakarta tidak berhasil meraih penghargaan city of intellect atau kota intelektual. Penghargaan kota intelektual merujuk riset yang dipimpin Ketua Senat dan Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Hafid Abbas.

Sementara itu, predikat penghargaan tersebut diraih Kota Semarang, Solo, dan Surabaya. Megawati pun membanggakan tiga kota tersebut yang dipimpin kader PDIP selaku wali kota.