Jakarta - Bali Melalui Jalan Darat, Pengalaman yang Selamanya Membekas di Ingatan

·Bacaan 5 menit

Fimela.com, Jakarta Setiap kali kita melakukan perjalanan, selalu ada cerita yang berkesan. Bepergian atau mengunjungi sebuah tempat memberi kenangan tersendiri di dalam hati. Tiap orang pastinya punya pengalaman atau kisah tak terlupakan tentang sebuah perjalanan, seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Trip Story: Setiap Perjalanan Selalu Memiliki Cerita berikut ini.

***

Oleh: Puji Khristiana Dyah Nugrahaini

Seminggu setelah wisuda kelulusan sarjana, Mia, sahabatku sejak awal kuliah memberikan ide gila sebagai self reward atas keberhasilan kita menyelesaikan program sarjana hanya 7 semester. Pergi ke Bali tanpa pesawat. Alias backpacker luntang-lantung ala mahasiswa pecinta alam. Awalnya aku menolak. "Kalau tujuannya memang self reward, piknik, kenapa nggak pakai pesawat saja? Atau kalau perlu sekalian sewa travel agent. Kita pergi bareng-bareng sama teman-teman lainnya?"

Mia menggeleng tegas. Dia menolak mentah-mentah. Katanya ingin merasakan bagaimana pergi ke Bali menggunakan jalur kereta seperti cerita sepupunya. Baiklah. Tidak ada salahnya menuruti ide gila Mia. Toh sesekali saja. Minimal kita bisa menorehkan cerita perjalanan seru sebelum disibukkan dengan berbagai agenda mahasiswa yang baru saja lulus. Apalagi kalau bukan mencari pekerjaan?

Seminggu setelah aku menyetujui idenya, kami langsung membeli tiket kereta perjalanan. Yaitu kereta api Gaya Baru Malam Selatan jurusan Jakarta (stasiun Senen) - Surabaya (Stasiun Gubeng). Karena jika diucapkan secara lengkap mungkin terlalu panjang, banyak orang menyebutnya dengan singkatam GBMS. Berangkat pukul 10.15 WIB dari stasiun Senen dan dijadwalkan sampai di Stasiun Gubeng pukul 01.35, dengan tarif 104 ribu untuk kelas ekonomi. Lumayan irit juga, pikirku.

Meski kelas ekonomi, tapi ternyata tidak setragis yang kubayangkan. Di dalam kereta tersedia banyak fasilitas yang membuat nyaman perjalanan selama 15 jam ini. Mulai dari TV, AC, toilet yang bersih, stop kontak untuk mengisi daya smartphone, hingga tempat duduk nyaman berbahan kulit yang saling berhadapan. Karena kami tahu perjalanan yang akan kami tempuh cukup panjang, maka kami telah bersiap dengan aneka camilan ringan dan minuman sebagai bekal di perjalanan.

Sesampainya di Stasiun Gubeng, kami istirahat sebentar sambil menunggu keberangkatan kereta selanjutnya untuk melanjutkan perjalanan. Kereta Probowangi jurusan Surabaya (Gubeng) menuju Banyuwangi Baru yang telah kami beli tiketnya berangkat pukul 04.25. Jadi masih ada waktu beberapa jam di stasiun untuk sekadar selonjoran. Meluruskan otot kaki yang nyaris kaku setelah menempuh perjalanan kereta selama 15 jam.

Tepat pukul 04.25, kereta api Probowangi perlahan meninggalkan Stasiun Gubeng menuju Stasiun Banyuwangi Baru. Tak beda dengan kereta GBMS. Kereta api Probowangi juga menyediakan fasilitas yang memadai. Mulai dari AC, toilet yang bersih, stop kontak untuk mengisi daya baterai, Restorasi dan juga TV dengan channel beragam. Untuk bisa menikmati kereta Ekonomi AC ini, kami hanya diwajibkan membayar 56 ribu saja. Harga yang sangat terjangkau untuk menempuk perjalanan selama 7 jam.

Pengalaman yang Tak Terlupakan

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/inlitestudio
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/inlitestudio

Puas tidur di kereta sebelumnya, aku memutuskan terjaga pada perjalanan kereta kali ini. Menikmati setiap pemberhentian kereta di beberapa stasiun. Seperti Stasiun Bangil, Pasuruan, Probolinggo, Leces, Klakah, Tanggul, Rambipuji, Jember, Kalisat, dan stasiun lainnya. Perjalanan sepanjang profinsi Jawa Timur yang dilalui dengan ragam pemandangan. Mulai dari pedesaan, hutan kecil, perkotaan, dan hingga deretan sawah yang hampir panen.

7 jam berlalu tanpa terasa. Tepat pukul 11.40 kami tiba di Stasiun Banyuwangi Baru. Sadar perut terasa keroncongan kami mampir di warung pecel rawon tidak jauh dari stasiun. Sambil melepas lelah, tak terasa sepiring pecel rawon lengkap dengan segelas es teh tandas tak bersisa. Mia memutuskan beristirahat sejenak sambil mencari masjid untuk ishoma. Karena dia tahu bahwa mencari masjid setelah mendarat di pulau dewata adalah hal yang cukup sulit.

Aku memanfaatkan waktu ini untuk mandi. Hampir 28 jam setelah meninggalkan Jakarta kami tidak mandi. Setelah mandi dan istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Ketapang untuk menyeberang ke Bali. Jarak antara stasiun Banyuwangi dengan Pelabuhan Ketapang tidak terlalu jauh. Hanya 500 meter saja. Maka kami putuskan untuk berjalan kaki sambil menikmati aroma udara kota Banyuwangi.

Sesampainya di Pelabuhan Ketapang, kami langsung membeli tiket kapal feri dengan harga 6.500 per orang. Harga yang cukup bersahabat. Penyeberangan dari Pelabuhan Ketapang ke Pelabuhan Gilimanuk Bali cukup sepi pada sore hari. Kami bisa menikmati waktu di kapal feri selama 45 menit untuk sekedar selfie atau mencari bahan pembuatan konten.

Puas kulakan foto, tak terasa kapal feri hampir merapat di pelabuhan Gilimanuk. Wow! Sebuah pemandangan yang cukup instagramable. Akumulasi warna biru air laut berlatar barisan bukit-bukit dengan warna kuning jembatan di pelabuhan dan detail bangunan gapuran khas Bali membuat alam terlihat lebih fotogenik.

Tiba di Pelabuhan, Mia menyarankan menaiki bus tigaperempat menuju Terminal Ubung dengan tarif 50 ribu per orang. Minimal itu yang disarankan oleh sepupunya yang pernah melakukan perjalanan serupa. Denpasar. Itulah kota pertama tujuan kita. Sebuah gapura besar dengan ornamen khas Bali seperti sengaja menyambut kami setelah beberapa meter bus meninggalkan Pelabuhan Gilimanuk menuju Kota Denpasar.

Senja beranjak tumbang. Perjalanan ke Kota Denpasar masih 3 jam lagi. Tapi kami tak pernah khawatir. Di dalam bus banyak penumpang backpacker lain. Mulai dari warga lokal hingga bule dengan kemampuan bahasa Indonesia ala kadarnya. Selama perjalanan dengan bus tiga perempat ini, kami lebih banyak diam. Pasrah pada pak sopir yang mengemudikan busnya dengan sangat sopan.

Sepanjang perjalanan tidak banyak rumah perkampungan yang kami temui. Apalagi gedung-gedung pencakar langit seperti yang banyak tersebar di Jakarta. Di kegelapan, kami lebih banyak melihat pemandangan alam seperti sawah dan pohon-pohon besar. Persis ketika mengadakan perjalanan dari Jakarta ke Puncak Bogor.

Setelah 3 jam perjalanan, akhirnya kami sampai ke Terminal Ubung di Denpasar. Mia menggeliat pelan. Meletakkan tas rangselnya di kursi panjang terminal. Hari sudah malam. Tak perlu menunggu waktu lama. Mia mengeluarkan gadgetnya. Menghubungi seorang teman yang nomor HPnya diberikan oleh sepupu Mia sebelum kami berangkat ke Bali. Wajah Mia terlihat cerah setelah mengakhiri pembicaraannya di telephon. Dia memintaku duduk sebentar. Menunggu seseorang datang menjemputnya.

Dan benar saja. Seorang laki-laki muda berusia 30-an yang memiliki usaha penginapan bagi backpacker di Denpasar datang menghampiri kami. Tak banyak berbasa-basi. Laki-laki tersebut membawa kami ke penginapan miliknya dengan harga sewa 100 ribu per kamar. Cukup ekonomis untuk kita tempati bermalam beberapa hari ke depan selama kami mbolang di Pulau Dewata ini.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel