Jakarta Dikabarkan Bakal Tenggelam 10 Tahun Lagi, Berikut Faktanya

·Bacaan 4 menit

VIVA – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memperingatkan ibu kota Indonesia, Jakarta, terancam tenggelam dalam 10 tahun mendatang. Pernyataannya itu muncul saat Biden berbicara tentang perubahan iklim dalam pidato penyambutan di kantor Direktur Intelijen Nasional AS pada 27 Juli.

Dalam pidatonya di kantor Direktur Intelijen Nasional AS, Presiden negara adidaya itu menyebut bahwa Jakarta terancam tenggelam dikarenakan perubahan iklim yang saat ini sedang menghantui seluruh dunia.
Perubahan iklim menyebabkan naiknya permukaan laut. Ribuan orang bisa kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian dan kehidupan.

Sejumlah ahli memperkirakan Jakarta akan tenggelam pada 2050 mendatang jika tidak ada sebuah tindakan pencegahan. Dalam 10 tahun terakhir, permukaan tanah di Jakarta Utara telah ambles sekitar 2,5 meter. Di sejumlah wilayah, tanah ambles 2,5 cm setiap tahunnya.

Ibu Kota Jakarta dikabarkan akan tenggelam 10 tahun lagi, berikut faktanya:

Naiknya air laut ke permukaan tanah

Dilansir dari situs nasa.gov, ancaman penurunan tanah dan naiknya air laut yang mengakibatkan banjir rob terjadi di Indonesia. Hal tersebut sebenarnya dipaparkan lembaga penelitian Deltares yang berbasis di Belanda. Dengan melakukan model elevasi global menggunakan data Light Detection and Ranging (LiDAR) mereka menunjukkan data yang signifikan.

Meningkatnya suhu global

Dilansir dari laman nasa.gov, dengan meningkatnya suhu global dan pencairan lapisan es, banyak kota pesisir menghadapi risiko banjir yang semakin besar karena kenaikan permukaan laut. Namun, hanya sedikit tempat yang menghadapi tantangan seperti di depan wilayah metropolitan Jakarta, sebuah konglomerasi 32 juta orang di pulau Jawa, Indonesia.

Jakarta terletak disepanjang sungai

Banjir telah menjadi masalah tahunan saat musim hujan karena Jakarta terletak di sepanjang beberapa sungai dataran rendah yang meluap selama musim hujan.

Dalam beberapa dekade terakhir, masalah banjir semakin memburuk, sebagian didorong oleh pemompaan air tanah secara luas yang menyebabkan tanah tenggelam, atau surut, dengan kecepatan tinggi. Menurut beberapa perkiraan, sebanyak 40 persen kota sekarang berada di bawah permukaan laut.

Air laut naik ke permukaan tiap tahun

Dengan rata-rata permukaan laut global yang naik sebesar 3,3 milimeter per tahun, dan di tengah tanda-tanda bahwa badai hujan semakin intens saat atmosfer memanas, banjir yang merusak telah menjadi hal biasa.

Sejak tahun 1990, banjir besar telah terjadi setiap beberapa tahun di Jakarta, dengan puluhan ribu orang sering mengungsi. Musim hujan pada tahun 2007 membawa banjir yang sangat merusak, dengan lebih dari 70 persen kota terendam.

Urbanisasi yang cepat, perubahan penggunaan lahan, dan pertumbuhan penduduk telah memperburuk masalah.

Penggantian luas hutan dan vegetasi lainnya dengan permukaan kedap air di daerah pedalaman di sepanjang sungai Ciliwung dan Cisadane telah mengurangi jumlah air yang dapat diserap oleh lanskap, berkontribusi terhadap limpasan dan banjir bandang.

Penduduk memadati kawasan banjir

Dengan populasi wilayah metropolitan lebih dari dua kali lipat antara tahun 1990 dan 2020, lebih banyak orang memadati dataran banjir yang berisiko tinggi. Selain itu, banyak saluran sungai dan kanal yang menyempit atau tersumbat secara berkala oleh sedimen dan sampah, sehingga sangat rentan terhadap luapan.

Pembangunan dipantai

Menurut salah satu analisis data Landsat, orang telah membangun setidaknya 1185 hektar (5 mil persegi) lahan baru di sepanjang pantai. Sebagian besar lahan telah digunakan untuk pembangunan perumahan kelas atas dan lapangan golf, jelas Dhritiraj Sengupta, ilmuwan penginderaan jauh di East China Normal University.

Perkembangan seperti itu datang dengan risiko karena mereka berada di garis depan pertempuran Jakarta yang tak terhindarkan melawan kenaikan permukaan laut dan gelombang badai, Sengupta memperingatkan.

Pulau buatan paling cepat surut

Pulau-pulau buatan seringkali merupakan jenis tanah yang paling cepat surut karena pasir dan tanahnya mengendap dan menjadi padat seiring waktu. Satelit dan sensor berbasis darat mencatat sebagian Jakarta Utara mengalami penurunan puluhan milimeter per tahun. Di pulau-pulau buatan baru, angka itu melonjak hingga 80 milimeter per tahun, kata Sengupta.

Pembangunan baru dipesisir pantai upaya melindungi kota dari banjir

Beberapa pulau baru dibangun sebagai bagian dari rencana induk Pembangunan Terpadu Pesisir Ibu Kota Nasional Jakarta—sebuah upaya untuk melindungi kota dari banjir dan untuk mendorong pembangunan ekonomi.

Inisiatif utama yaitu dengan pembangunan tanggul laut raksasa dan 17 pulau buatan baru di sekitar Teluk Jakarta. Meskipun pengerjaan proyek dimulai pada tahun 2015, berbagai masalah lingkungan, ekonomi, dan teknis telah memperlambat konstruksi dan mengurangi ruang lingkup.

Rencana untuk membangun tembok laut besar masih ada, namun ada kemungkinan tidak cukup untuk mempertahankan status quo di Jakarta. Dengan meningkatnya tekanan lingkungan, politisi Indonesia berharap untuk memindahkan pusat pemerintahan dari Jakarta ke lokasi baru di pulau Kalimantan.

Penjelasan diatas diambil dari data yang telah dipublish oleh nasa.gov yang berjudul “As Jakarta Grows, So Do the Water Issues.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel