Jaksa Agung ke Anak Buah: Butuh 20 Tahun Bangun Reputasi, Hanya 5 Menit Menghancurkan

Merdeka.com - Merdeka.com - Jaksa Agung ST Burhanuddin mengingatkan kepada seluruh jajarannya untuk memiliki pola pikir dan kerja yang berorientasi pada pengabdian kepada masyarakat dengan integritas dan profesionalitas. Hal ini penting guna mengeliminasi penyalahgunaan kewenangan dalam bertugas.

"Kalian harus menyadari, bahwa menjadi seorang Jaksa itu tidak mudah, karena Jaksa merupakan salah satu penegak hukum dengan lingkup tugas dan tanggung jawab yang berat sekaligus memiliki kompleksitas kerja yang tinggi," ujar Burhanuddin dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (21/9).

Burhanuddin menyampaikan jaksa mengemban banyak tugas yakni sebagai penuntut umum, penyidik, jaksa pengacara negara dan intelijen. Dari beragam tugas itu, kedudukan jaksa juga yang memiliki kewenangan untuk merampas kemerdekaan seseorang. Untuk itu, perlu adanya sikap integritas, profesionalitas dan moralitas.

"Sebagai Jaksa Agung, saya tidak menghendaki hal tersebut, serta saya juga tidak mentolerir segala bentuk penyalahgunaan wewenang, maka gunakan-lah kewenangan yang ada secara arif dan bijaksana," ujar Jaksa Agung.

Sebagai aparat penegak hukum, kata Burhanuddin, Jaksa terikat dengan kode etik perilaku Jaksa yang mengatur tentang kewajiban dan larangan yang harus dipatuhi.

"Oleh karena itu, pelajari dan pahami ketentuan yang tercantum dalam kode etik perilaku Jaksa tersebut agar gerak langkah saudara sebagai Jaksa selalu sesuai dengan norma perilaku Jaksa," sebutnya.

Dia juga mengingatkan untuk seluruh bawahannya untuk menghindari segala bentuk perbuatan tercela dan pelanggaran hukum, karena sulitnya membangun reputasi seorang jaksa yang baik.

"Butuh waktu setidaknya 20 tahun bagi saudara untuk membangun sebuah reputasi baik sebagai seorang jaksa, dan hanya 5 menit saja untuk menghancurkannya. Untuk itu ketika saudara tergoda untuk melakukan penyimpangan, agar pikirkan segala dampak buruk dan risiko yang harus ditanggung oleh saudara, keluarga dan institusi ini," ucapnya.

Terakhir, dia mengingatkan tentang pentingnya menggunakan hati nurani dalam setiap pelaksanaan penegakan hukum saudara sebagai seorang Jaksa. Dia pun mengibaratkan , Penegak hukum tanpa hati nurani ibaratkan hewan buas yang dapat melukai siapa sajam

"Mengapa sampai hati nurani menjadi penting untuk selalu dikedepankan oleh setiap penegak hukum, karena beranjak dari tataran empiris, penegakan hukum dewasa ini cenderung mengedepankan legalitas-formal pada aspek kepastian hukum, daripada keadilan dan kemanfaatan hukum yang lebih substansial bagi masyarakat," ujar Jaksa Agung.

Pernyataan ini disampaikan Burhanuddin dalam rangkaian acara Penutupan Pendidikan dan Pelatihan Pembentukan Jaksa (PPPJ) Angkatan LXXIX (79) Gelombang I Tahun 2022 pada Rabu 21 September 2022 bertempat di Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan Republik Indonesia. [ray]