Jaksa Soal Umpatan Rizieq Shihab: Apa Karena Imam Besar Terdakwa Tidak Bisa Dihukum?

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta Jaksa Penuntut Umum (JPU) mempertanyakan alasan eks Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab mengucapkan kata umpatan di dalam nota keberataan. Padahal, dia adalah seorang tokoh yang mengaku imam besar dari salah satu organisasi islam.

Hal itu disampaikan Jaksa saat hendak mengakhiri membacakan tanggapan atas nota pembelaan terdakwa pada sidang lanjutan RS Ummi. Sidang digelar di PN Jaktim, Rabu (31/3/2021).

"Apakah karena terdakwa yang mengaku sebagai imam besar sehingga terdakwa diperbolehkan seperti itu, apakah terdakwa yang mengaku sebagai imam besar tidak bisa dihukum oleh karena hukum dunia. Sungguh sangat disayangkan sebagai terdakwa selalu mendalilkan Hadits Rasulullah SAW," ujar Jaksa.

Jaksa menilai sikap Rizieq Shihab bertolak belakang dengan visi-misi oganisasinya yang bercita-cita menciptakan akhlakul karimah dengan program revolusi akhlak.

"Setelah mendengar dan membaca nota keberatan terdakwa dan penasihat hukum tedakwa sungguh sangat disayangkan seorang tokoh agama yang mengaku dirinya imam besar dari sebuah organiasi kegamaan. Tapi dari semua ucapan terdakwa dan penasihat hukum tedakwa semua ucapan sangat bertentangan dengan revolusi akhlak," ujar Jaksa.

Lebih Paham Agama

Menurut Jaksa, terdakwa dan penasihat hukum sebagai seorang yang lebih paham tentang agama mempunyai strata pendidikan tinggi sering merendahkan orang lain khususnya terhadap Jaksa Penuntut Umum yang sering diumpat dengan kata-kata kurang pantas dari segi akhlakul karimah. Apalagi diucapkan disidang terbuka umum secara live dan disaksikan oleh jutaan penonton.

"Seorang tokoh panutan yang mengaku imam besar menymapiakan dengan kata kata hinaan seperti tidak beradap, keterbelakangan intelektual, dungu, pandir dan lain sebagainya," ujar dia.

Sementara, Jaksa mengungkapkan pada prinsipnya semua manusia adalah ciptaan Allah SWT.

" Semua di dunia ini memiliki kesamaan derajat di mata Allah SWT dan yang membedakan hanyalah ketakwaan. siapa yang bisa ukur ketawaan manusia di mata Allah SWT hanyalah Allah SWT," tandas Jaksa.

Saksikan Video Terkait Berikut Ini: