Jaksa Yakini Ferdy Sambo 2 Kali Tembak Kepala Belakang Brigadir J

Merdeka.com - Merdeka.com - Jaksa penuntut umum (JPU) meyakini adanya tindakan Ferdy Sambo yang melepaskan dua kali tembakan kepada Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J pada bagian kepala, ketika penembakan di rumah dinas Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Keyakinan JPU ini termuat dalam pertimbangan draft tuntutan terdakwa Ricky Rizal alias Bripka RR yang dibacakan dalam sidang perkara dugaan pembunuhan berencana Brigadir J, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Senin (16/1).

Mulanya, JPU menyebut Richard Eliezer alias Bharada E melepaskan tiga atau empat kali tembakan ke tubuh Brigadir J yang sekarat. Lalu, Sambo maju dan melepaskan dua tembakan di kepala yang menyebabkan Brigadir J tewas.

"Bahwa bersesuai fakta persidangan, berdasarkan keterangan saksi Richard Eliezer, kemudian saksi Ferdy Sambo menghampiri korban Nofriansyah Yosua Hutabarat yang tergeletak di dekat tangga depan kamar mandi dalam keadaan tertelungkup masih bergerak-gerak kesakitan," kata Jaksa dalam tuntutan Bripka RR.

"Lalu untuk memastikan benar-benar tidak bernyawa lagi saksi Ferdy Sambo yang sudah memakai sarung tangan memegang senjata api dan menembak sebanyak 2 kali mengenai tepat kepala bagian belakang sisi kiri korban sehingga korban meninggal dunia," tambah JPU.

Kemudian, tembakan Ferdy Sambo menembus kepala bagian belakang sisi kiri Brigadir J menembus hidung. Akibatnya, membekas luka bakar pada hidung sisi kiri karena lintasan anak peluru.

"Dan rusaknya tulang dasar tengkorak pada dua tempat yang mengakibatkan kerusakan tulang dasar rongga bola mata bagian kanan dan menimbulkan resapan darah pada kelopak bawah mata kanan yang lintasan anak peluru telah menimbulkan kerusakan pada batang otak," katanya.

Sambo Sempat Bantah Tembak

Sebelumnya, Terdakwa Ferdy Sambo menegaskan tidak ikut menembak Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J ketika insiden penembakan di rumah dinas Komplek Perumahan Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Klaim itu disampaikan Sambo, saat hadir sebagai saksi dalam perkara dugaan pembunuhan berencana Brigadir J atas terdakwa Richard Eliezer alias Bharada E, Kuat Ma’ruf, dan Ricky Rizal alias Bripka RR.

Berawal ketika Hakim Ketua Wahyu Iman Santoso menanyakan berapa kali Bharada E menembak Yosua. Lantas, Ferdy Sambo menjawab lima kali. Hal itu diketahui usai kejadian penembakan.

"Kalau memang saudara jujur, saya pengen nanya ini pertanyaan terakhir dari saya. Berapa kali Richard menembak?" tanya hakim Wahyu saat sidang di PN Jakarta Selatan, Rabu (7/12).

"Setelah kejadian baru saya tahu lima kali," kata Ferdy Sambo.

Meski tahu berapa kali tembakan dari Bharada E, namun Ferdy Sambo tetap kukuh dengan jawabannya tidak ikut menembak.

"Setelah kejadian, menurut saudara lihat, kan saudara di depan ya, di sebelahnya ya?" tanya hakim.

"Saya sudah sampaikan Yang Mulia. Jadi kejadiannya begitu cepat," tegas Ferdy Sambo.

"Saudara ikut nembak nggak?" cecar kembali hakim.

"Saya sudah jawab di awal, saya tidak ikut nembak," jawab Ferdy Sambo.

Namun hakim kembali mengulas hasil autopsi luka tembak masuk pada tubuh Yosua. Autopsi menyimpulkan ada tujuh luka tembak masuk, dan enam luka tembak keluar. Satu peluru bersarang di tubuh Yosua.

"Kalau saudara katakan lima, terus yang dua siapa yang nembak?" tanya hakim, heran.

"Saya tidak tahu," jawab mantan Kadiv Propam tersebut.

"Apakah ada orang lain nembak?" cecar hakim.

"Saya tidak tahu," jawab Ferdy Sambo.

"Ya, nanti hakim yang akan menyimpulkan," kata hakim. [rhm]