Jalan berliku menjadi ilmuwan papan atas

MERDEKA.COM. Selama kuliah S-1 hingga S-3 di Universitas Shizuka, Jepang, pada 1988-1999, Warsito Purwo Taruno memfokuskan kajiannya soal instrumentasi bidang tomografi. Ini merupakan teknologi untuk memindai berbagai macam objek dari luar hingga kondisi dalam tanpa harus merusak objek. Peranti ini terdiri dari sistem sensor, elektronika, dan komputer.

Dalam dunia kesehatan, tomografi sudah dikenal sejak 1972. Saat itu, teknologi tomografi masih sebatas pada pencitraan tiga dimensi. Dalam perkembangannya hingga 1988, tomografi berkembang dari pencitraan dua dimensi statis menjadi dinamis.

Namun Warsito mampu mengubah tomografi tiga dimensi statis menjadi dinamis menggunakan listrik statis atau tomografi kapasitansi listrik berbasis medan listrik statis/Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT). Penemuan ini dia capai saat menjalani studi di Universitas Ohio, Amerika Serikat, sejak akhir 1999 sampai 2004.

“Puncak penemuan itu justru saat saya penelitian di laboratorium kimia Universitas Ohio pada 2003. Mulanya saya fokus pada gelombang ultrasonik,” kata Warsito saat ditemui merdeka.com kantornya di kawasan Alam Sutera, Tangerang Selatan, Jumat pekan lalu.

Ketika itu, dia diminta mencitrakan penghilangan minyak dalam reaktor kimia. Basis kajiannya semula menggunakan gelombang ultrasonik mau tidak mau harus diubah dengan gelombang listrik. Menurut dia, gelombang listrik lebih mudah menembus materi minyak saat mengalir dalam kecepatan tinggi waktu pemindaian.

Sejak penemuan itu, Warsito sudah berpikir temuannya itu bisa dipakai di bidang medis, terutama buat mendeteksi jenis penyakit dalam tubuh manusia dengan cara dipindai.

Atas prestasinya ini, kalangan ilmuwan kimia dunia mulai memperhitungkan Warsito. Apalagi pembimbingnya di Universitas Ohio adalah Profesor Liang-Shih Fan, satu dari 100 maha guru terbaik dalam bidang teknik kimia selama seabad terakhir.

“Saya diminta mengembangkan di Amerika Serikat dengan dana riset tidak terbatas dan jaminan nama mentereng,” ujar Warsito. Di akhir kontraknya di Universitas Ohio pada 2004, Warsito diberi lahan untuk mengembangkan perusahaan milik kampus dalam bidang teknologi seperti kawasan Lembah Silikon.

Tidak mudah bagi Warsito mengabaikan semua tawaran itu. Dia sejatinya ingin bersanding dengaan ilmuwan-ilmuwan papan atas Amerika. “Saat itu saya terbayang bisa berkumpul dengan para peneliti besar di kampus Princeton sekali seminggu setiap sore,” katanya sambil tersenyum.

Namun bapak empat anak ini ingin penemuannya bisa dikembangkan dan dimanfaatkan di Indonesia. Akhirnya dengan tekad bulat, pada 2004 Warsito memutuskan balik ke tanah air. Dia ingin membuat lembaga riset bergengsi. Keluarganya juga diboyong dan tinggal di kawasan Tangerang Selatan.

Keputusannya terbilang nekat. Dia tahu kondisi di Indonesia tidak mendukung penelitian tingkat tinggi seperti bidang kajiannya. Tapi dia memperkirakan dana pensiun dini dari statusnya sebagai peneliti di Universitas Ohio cukup untuk memulai mimpinya itu.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.