Jalan Kaki, Pilihan Bugar di Bulan Puasa

TEMPO.CO, Jakarta - Olahraga tidak menjadi pantangan bagi orang yang berpuasa. "Kita harus menetapkan terlebih dulu apa tujuan berolahraga," kata Michael Triangto, dokter spesialis kedokteran olahraga. Hal ini terkait dengan pemilihan jenis, waktu, serta intensitas olahraga, katanya.

Andaikata tujuannya ingin menjaga kebugaran tubuh, olahraga yang bisa dilakukan orang yang berpuasa adalah melakukan jalan kaki. Pemilihan waktunya adalah di pagi hari usai salat Subuh. Jalan kaki selama tiga puluh menit setiap hari, ujar Michael, cukup untuk menjaga kebugaran tubuh.

Justru kalau lebih berat dari itu, kemungkinan besar terjadi dehidrasi. Akibatnya berisiko membatalkan puasa, bahkan membahayakan kondisi kesehatan seseorang. Dehidrasi juga membuat sakit kepala serta kondisi drop karena cairan di dalam tubuh kurang. Selain itu, dehidrasi dapat membuat orang jadi kurang nyaman dan emosional. Padahal, dalam berpuasa kita diminta untuk menjaga kesebaran.

Ternyata efek pembakaran kalori dari jalan kaki di pagi hari membuat orang bertahan hingga sore hari. Pada pukul 14.00-15.00 tubuhnya tidak akan loyo dan mengantuk. "Dengan jalan kaki otot jantung, paru-paru, dan otot-otot rangka akan terlatih dengan gerakan aerobik," kata Michael, Direktur Slim+Health Sport Theraphy.

Menurut dia, jalan kaki harus dilakukan secara terukur. Caranya dengan mengukur denyut jantung, yaitu 60-80 persen dari denyut jantung maksimal. Rumus denyut jantung maksimal adalah 220 dikurangi usia.

Contohnya, seseorang berumur 20 tahun, maka denyut jantung maksimal adalah 200 kali. Berarti training zone-nya 60-80 persen dari 200, yaitu antara 120-160 denyut jantung. Bila ketika berolahraga denyut jantung sudah melebihi angka itu, intensitasnya harus dikurangi.

Jika tujuan olahraga untuk mempertahankan kekuatan otot, maka dapat dilakukan pada siang hari, antara pukul 14.00-15.00. Bila jalan kaki di pagi hari bentuk latihannya adalah kardio, untuk mempertahankan otot bentuk latihannya adalah kardio dan beban. "Proporsinya fifty-fifty kardio dan beban, dengan catatan tidak boleh berlebihan. Hanya sekedar melatih kekuatan

saja."

Saat ini banyak kantor yang menyediakan sarana fitness untuk karyawannya. Menurut Michael, fasilitas itu bisa dimanfaatkan untuk berolahraga di siang hari. Jika sarana itu tidak ada, ada resep praktis yaitu menggunakan beban badan sendiri, misalnya push-up, sit-up, dan pull-up.

Latihan tersebut bisa dilakukan selama 45-60 menit dengan intensitas 70-90 persen dari denyut jantung maksimal. Mengapa lebih berat? "Kan, sebentar lagi buka puasa," kata Michael.

Andaikata tujuan olah raga untuk mempertahankan atau meningkatkan massa otot, sebaiknya dilakukan menjelang buka puasa atau pada malam hari setelah salat tarawih. Perbanyak latihan beban selama 1 sampai 1,5 jam. Intensitasnya pun bisa lebih tinggi, yaitu 80-90 denyut jantung maksimal.

AMIRULLAH

Berita Lain:

Hikmah Salat Malam di Bulan Ramadan

Berbagi Lewat Jejaring Sosial

Paria Kambu dan Lawa

Waspadai Hipnotis saat Mudik Lebaran

Selama Lebaran, Lintasan Kereta Api Dijaga Ketat

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.