Jalan Panjang Mewujudkan Kemandirian Vaksin Rotavirus di Indonesia

Merdeka.com - Merdeka.com - Masih segar dalam Reza Amalia (29) warga Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ketika pada tahun 2019 keponakannya masih berusia lima bulan menderita diare. Saat itu, sang keponakan divonis menderita Rotavirus.

Rotavirus, kata Reza, merupakan nama yang asing. Sepemahaman Reza, saat itu keponakannya hanya terkena diare pada umumnya. Namun setelah divonis terkena Rotavirus, Reza pun berupaya mencari tahu tentang berbagai informasi mengenai virus yang menyerang bagian pencernaan ini.

"Saya browsing-browsing juga waktu itu. Sedih karena lihat keponakan saya sakit. Kemudian ingin tahu dan saya mencari di internet apa itu Rotavirus," kata Reza, Jumat (10/6).

Berawal dari mencari tahu tentang Rotavirus yang menyerang sang keponakan, Reza pun mendapati informasi bahwa ada vaksin Rotavirus yang sudah bisa diberikan pada bayi.

Dua tahun setelah sang keponakan terkena Rotavirus, Reza kemudian melahirkan. Tak ingin mengalami peristiwa serupa, Reza memilih untuk memberikan vaksin Rotavirus pada anaknya.

"Dari pengalaman keponakan saya, akhirnya anak saya, saya vaksin Rotavirus," ungkap Reza.

Reza membawa sang anak ke salah satu klinik di daerah Kabupaten Sleman, DIY. Saat itu, Reza harus mengeluarkan uang mencapai sekitar Rp400 ribu untuk vaksin tersebut.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan ada penambahan tiga jenis vaksin dalam program imunisasi lengkap. Tiga tambahan vaksin ini adalah vaksin HPV, PCV dan Rotavirus. Budi Gunadi membeberkan penambahan tiga jenis vaksin ini untuk menekan angka kematian ibu dan anak di Indonesia.

Budi Gunadi menyebut kematian ibu di Indonesia banyak disebabkan oleh kanker. Utamanya kanker payudara dan kanker servik. Sedangkan kematian anak paling banyak dikarenakan adanya infeksi dan paling tinggi karena diare dan pneumonia.

"Dari 11 vaksin (wajib) menjadi 14. Khusus untuk PCV dan Rotavirus ditargetkan untuk anak-anak di bawah usia lima tahun," kata Budi Gunadi dikutip dari laman YouTube Kementerian Kesehatan, Senin (16/5).

Berbicara tentang vaksin Rotavirus yang saat ini diwajibkan oleh pemerintah, tak bisa lepas dari perjuangan para peneliti di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) atau yang dulunya bernama Fakultas Kedokteran (FK) UGM.

Jalan panjang UGM menghasilkan vaksin Rotavirus ini tak lepas dari sosok Prof. Dr. Sri Suparyati Soenarto. Yati demikian dia biasa disapa, pada awal tahun 70an sudah melakukan penelitian tentang diare pada anak. Penelitian ini dilakukan saat dirinya mengambil pendidikan dokter spesialis anak.

Saat itu Yati menemukan satu dari beberapa pasien yang ditangani di RSUP Dr Sardjito meninggal dunia karena diare. Diare itu menyebabkan dehidrasi pada pasien. Ketika itu, Yati belum tahu apa penyebab pasien mengalani diare.

Cerita vaksin Rotavirus ini berawal saat tahun 1976, Yati yang saat itu merupakan salah seorang dosen muda di FKKMK UGM dikirim untuk mengikuti simposium di Singapura. Saat itu, Ruth Bishop yang merupakan penemu virus Rotavirus menjadi salah seorang pembicara simposium dan membahas tentang virus temuannya yang menyebabkan diare pada anak.

Yati menduga kasus diare yang dialami pasiennya itu disebabkan karena Rotavirus. Maka Yati hadir di simposium itu dan mencoba mencari jawaban dari kasus yang dialami pasiennya dulu.

Ketika itu, Yati menceritakan dirinya mendatangi Ruth Bishop untuk berbincang tentang virus Rotavirus tersebut.

"Begitu Ruth Bishop turun, saya langsung mendatanginya. Waktu itu dengan percaya diri saya mengajak Ruth Bishop untuk berkolaborasi. Saya bilang, 'anda memang menemukan virus itu tapi di negara saya Indonesia banyak kasus yang serupa. Bagaimana kalau kita kolaborasi untuk mengembangkan penelitian Rotavirus'," ujar Yati saat ditemui di rumahnya di kawasan Karanggayam, Kabupaten Sleman, Sabtu (14/5).

Berawal dari obrolan tersebut kemudian terjadilah kerja sama antara UGM dengan University of Melbourne tempat Ruth Bishop bekerja. Kemudian di tahun 1977, kerja sama antara dua universitas ini dilaksanakan. Para peneliti gabungan dari dua universitas ini kemudian terjun melakukan penelitian atas kasus diare yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia salah satunya Ketika itu di Kabupaten Gunungkidul, DIY.

"Waktu itu orang masih beranggapan ketika terjadi diare itu disebabkan karena salah makan. Kemudian kami lakukan pengambilan sampel feses dan diteliti. Belum banyak yang tahu ap aitu virus Rotavirus saat itu," ungkap Yati.

Yati menerangkan saat itu orang baru mengidentifikasi tentang disentri atau kasus diare yang disebabkan karena bakteri. Kemudian diambillah sampel-sampel feses dari orang yang mengalami diare. Kemudian sampai pada satu kesimpulan awal jika feses berdarah dan berlendir itu disebabkan karena adanya bakteri Disentri sementara jika tidak ada itu kemungkinan disebabkan oleh virus.

"Ketika itu kami catat. Gejala-gejalanya seperti itu. Saat itu Fakultas Kedokteran sudah memunyai laboratorium. Nah, saya sempat mengajak Ruth Bishop untuk ke laboratorium ini yang kebetulan dia melihat sebuah mikroskop baru di sana. Dia kemudian bilang, kalau mikroskop jenis yang sama dengan di laboratorium UGM itu mikroskop yang dipakainya saat menemukan virus Rotavirus. Kemudian kami maksimalkan mikroskop tersebut untuk menguji sampel-sampel yang kami ambil," kenang Yati.

Perempuan kelahiran 5 Februari 1944 ini kemudian menyimpulkan dari hasil sampel-sampel yang diambil bahwa diare yang dialami saat itu disebabkan oleh Rotavirus. Sebagian bayi yang menderita diare karena Rotavirus, kata Yati, memiliki kualitas hidup yang rendah karena mengalami muntah terus menerus, berak berwujud cair, susah mengonsumsi makan dan usus halusnya tak lagi berfungsi baik.

Saat mengungkapkan tentang diare disebabkan oleh virus ini, hasil penelitian Yati ini sempat dipandang sebelah mata oleh para dokter lainnya. Ketika itu, pengetahuan penyebab virus disebabkan oleh bakteri dan bukan virus. Namun perlahan tapi pasti, Yati mulai menyakinkan teman-teman sejawat maupun seniornya di dunia kedokteran tentang hasil temuan penyebab diare adalah karena virus.

"Temuan ini mengubah semua pandangan tentang penyebab diare. Termasuk mengubah pandangan tentang terapi penyembuhan diare," terang Yati.

Yati menjabarkan bahwa dari penelitian ini ditemukan ada empat jenis varian Rotavirus yaitu G1, G2, G3 dan G4. Kemudian di tahun 2000an ditemukan varian Rotavirus yang dinamai G5.

Istri dari Prof. Dr. dr. Soenarto Sastrowijoto ini selain mengetahui penyebab diare pada anak ini juga mengenalkan cara pengobatan sederhana utamanya untuk memberikan pengobatan di daerah-daerah yang ketika itu belum terjangkau layanan kesehatan. Pengobatan ini dengan memakai oralit yang berisi gula jawa maupun gula batu sebagai pengganti cairan karena dehidrasi.

"Ya waktu itu kan pelayanan kesehatan belum seperti saat ini aksesnya. Banyak daerah-daerah terpencil yang tak terjangkau fasilitas kesehatan. Kalau seperti sekarang enak, kurang cairan ya tinggal diinfus saja. Dulu tidak seperti itu, makanya saya mengenalkan penggunaan oralit untuk mengganti cairan. Ya bahan dasar oralit ini saya cari dari bahan-bahan yang mudah didapat warga di sekitar daerahnya yaitu gula Jawa atau gula batu," ucap Yati.

Penelitian terhadap Rotavirus ini ini terus dikembangkan Yati bersama Mudroch Children's Research Institute (MCRI) Australia di mana nama Ruth Bishop juga ada di sana. Secara bertahap pada medio 90an, penelitian tentang Rotavirus antara UGM dan MCRI ini terus mengalami perkembangan. Ketika itu ditemukan bahwa adanya respons sistem imun terhadap vaksin dan kemampuan melindunginya dari diare. Temuan ini berdasarkan dari penelitian fase pertama yang dilakukan di Australia dan New Zealand.

Vaksin Rotavirus pertama kemudian diciptakan dan dinamai Rotarix dan Rotateq di tahun 1998 dan mulai dipasarkan pada tahun 1999. Ketika itu Indonesia tidak mampu untuk membeli vaksin ini karena harganya yang tinggi. Untuk mengatasi permasalahan ini, pengembangan vaksin Rotavirus pun dikembangkan salah satunya atas inisiasi dari Yati. Pengembangan vaksin ini kerja sama antara UGM, MCRI, University of Melbourne dan Biofarma.

Vaksin buatan UGM dan MRCI ini berbeda dengan vaksin Rotavirus yang sebelumnya ada. Vaksin ini dinamai RV3-BB.

"Vaksin selama ini yang beredar hanya dapat diberikan untuk bayi berusia lebih dari enam minggu. Padahal ancaman Rotavirus juga bisa dialami pada bayi yang baru lahir. Ketika itu kami coba mengembangkan vaksin yang bisa diberikan sedini mungkin, minimal usia 3 minggu pada bayi," urai Yati.

Yati menuturkan jika uji klinis telah dilakukan pada vaksin RV3-BB ini pada 1649 bayi di 25 puskesmas dan rumah sakit di wilayah Kabupaten Sleman, DIY dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Dari hasil uji klinis diketahui pada 94 persen bayi yang merampungkan tiga kali dosis vaksin RV3-BB ini terlindungi dari Rotavirus hingga satu tahun pertama.

Dari hasil pengembangan vaksin Rotavirus kerja sama UGM, MCRI dan Biofarma ini, Kementerian Kesehatan pun kemudian memasukkan ke dalam daftar vaksin wajib yang akan di dalam Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN). Rencananya, vaksin ini akan mulai diberikan di tahun 2022 ini.

Menanggapi masuknya vaksin Rotavirus dalam vaksin wajib ini, Yati pun angkat bicara. Yati mengaku senang dan bersyukur kerja sama banyak pihak ini mampu bermanfaat bagi banyak orang.

"Hasil penelitian kami dipakai kemudian jadi vaksin itu sudah Alhamdulillah sekali. Saya sama sekali enggak pernah berpikir nama saya dimunculkan, saya selalu berpikir melakukan sesuatu untuk orang banyak. Sudah bisa dipakai untuk negara dan orang banyak saja saya sudah bersyukur," urai Yati.

"Ini hasil kerja orang banyak. Saya itu kalau punya sesuatu entah ilmu atau hal baru selalu saya ajak orang lain entah itu junior saya maupun murid saya untuk bergabung. Saya harus mengajak orang banyak untuk terlibat karena saya tidak abadi. Kalau saya tidak mengajak dan berbagi ilmu pada yang lain, kalau saya mati bagaimana? Kan jadi tidak ada yang meneruskan tho," imbuh Yati.

Yati menambahkan selama proses penelitian tentang Rotavirus, dirinya selalu melibatkan banyak peneliti-peneliti muda untuk terlibat. Harapannya, penelitian tentang Rotavirus ini bisa terus berkembang dan bermanfaat bagi banyak orang.

"Ada tipikal orang yang kalau punya ilmu baru malah disimpan dan hanya untuk dirinya saja. Kalau saya tidak, saya punya ilmu yang saya bagikan. Saya senang bisa berbagi dan sekarang saya lihat banyak peneliti-peneliti muda yang muncul dan melanjutkan penelitian saya ini," pungkas perempuan berusia 78 tahun ini. [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel