Jalan Terjal Eko Yuli di Olimpiade Tokyo, Konflik dengan PB PABSI

·Bacaan 2 menit

VIVAEko Yuli Irawan berhasil merebut medali perak cabang angkat besi kelas 61 kg di Olimpiade Tokyo 2020.

Eko mencatatkan total angkat 302 kg dalam pertandingan yang berlangsung di Tokyo International Forum, Minggu 25 Juli 2021.

Persembahan dari Eko merupakan medali kedua tim Indonesia di Olimpiade kali ini. Sebelum Eko, Indonesia sudah lebih dulu meraih medali perunggu dari lifter putri Windy Cantika Aisah di kelas 49 kg.

Bagi Eko, ini menjadi kali keempat secara beruntun dia membawa pulang medali dari pentas Olimpiade. Sebelumnya pria kelairan Metro Lampung tersebut melakukan hal serupa pada 2008, 2012 dan 2016.

Pada 2008 di Beijing, Eko Yuli meraih perunggu. Kala itu dia turun di nomor 56 kilogram. Dia mampu membuat total angkatan 288 kilogram.

Empat tahun berselang, Eko Yuli kembali mengulangi pencapaiannya ketika tampil di London pada 2012. Dia naik ke nomor 62 kilogram dan berhasil membuat total angkatan 317 kilogram.

Pada 2016 lalu, Eko Yuli semakin bersinar. Tampil di Rio de Janeiro, dia memperbaiki prestasi dengan membawa pulang medali perak dalam kesempatan itu.

Dan di Tokyo, Eko Yuli kembali mendulang perak. Dia kalah bersaing dengan lifter asal China, Li Fabin.

Kini Eko Yuli pun tercatat sebagai atlet Indonesia yang paling banyak menyumbang medali Olimpiade bagi Indonesia.

Dia berhasil melewati catatan legenda angkat besi Lisa Rumbewas yang sukses meraih medali pada Olimpiade 2000, 2004, dan 2008.

Meski demikian, raihan itu tidak dengan mudah didapat Eko. Apalagi, sebelum Olimpiade kali ini ia pernah berpolemik dengan Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABSI).

Konflik Eko dan PB PABSI sudah terjadi sejak Januari lalu. Puncaknya Eko memutuskan meninggalkan Pelatnas Kwini, Jakarta, saat tahu PB PABSI membatalkan komitmen untuk memanggil Lukman sebagai pelatihnya.

Sementara, PB PABSI menilai memiliki pertimbangan sendiri untuk tidak memenuhi permintaan tersebut.

Konlik itu pun sampai melibatkan Kementerian pemuda dan olahraga (Kemenpora) dan Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) untuk menengahi.

NOC Indonesia pun bersedia memfasilitasi permintaan Eko Yuli soal pemenuhan haknya tampil di Olimpiade Tokyo dan masalah pelatih Lukman

Hal itu diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal NOC Indonesia, Ferry Kono. Keputusan ini diambil dengan berbagai pertimbangan setelah NOC Indonesia bertemu dengan Eko Yuli pada akhir Maret lalu.

Kendati demikian, NOC Indonesia tak hanya sekadar memberikan bantuan. Mereka juga menegur keras sikap Eko yang mangkir dari panggilan untuk mengikuti pemusatan latihan nasional.

“Dalam minggu ini, NOC Indonesia akan mengirim surat undangan kepada Coach Lukman untuk membantu melatih Eko. Jika kemudian Eko menjalani latihan terpisah itu masalah teknis. Sebab, kita harus tahu Eko juga tetap ditangani dan mendapat program dari pelatih untuk persiapan menuju Olimpiade Tokyo,” kata Ferry dalam keterangan tertulis NOC Indonesia yang diterima VIVA beberapa waktu lalu.

“Yang patut disyukuri berdasarkan koordinasi NOC Indonesia, PABSI, dan Eko disimpulkan memang selama ini tak ada yang dikeluarkan dari pelatnas. Eko juga sudah sepakat berlatih kembali,” ujar Ferry.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel