Jalur Rempah, Contoh Nyata Diplomasi Budaya Antarbangsa Sejak Lama

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Jalur rempah dapat menjadi pijakan dalam melihat kembali berbagai kemungkinan kerja sama antarbangsa. Pijakan tersebut untuk mewujudkan persaudaraan dan perdamaian global yang mengutamakan pemahaman antarbudaya; penghormatan dan pengakuan atas keberagaman budaya beserta warisannya; memiliki semangat keadilan, kesetaraan dan saling berkontribusi; serta menjunjung tinggi harkat martabat kemanusiaan.

Diplomasi budaya sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Nenek moyang kita sudah melakukannya dengan rancangan yang cukup canggih dan dengan semangat ‘tangan di atas’.

"Sebagai bangsa, sudah tiba saatnya kita untuk memajukan kerja sama internasional, termasuk kerja sama teknik dan budaya, terutama dengan negara-negara berkembang, atas dasar kemanusiaan. Sangat banyak yang bisa kita tawarkan untuk berbagi dengan bangsa-bangsa lain karena keberagaman peradaban dan budaya kita," kata Ketua Dewan Pembina Yayasan Negeri Rempah, Hassan Wirajuda, dalam siaran pers tentang penyelenggaraan International Forum on Spice Route (IFSR) yang diterima Liputan6.com, Jumat, 17 September 2021.

Wirajuda berkata, diplomasi ‘tangan di atas’ yang mengutamakan kontribusi ini tidak semata untuk mengangkat Indonesia dan menjatuhkan yang lain. Inisiatif untuk aktif berkontribusi dilandasi oleh kesadaran bahwa tidak ada satu negara pun yang dapat berdiri sendiri tanpa dukungan negara lain.

"Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama antarbangsa yang yang lebih bermakna dan berkesinambungan. Sejarah juga telah menunjukkan bahwa Jalur Rempah dari masa ke masa merupakan contoh nyata diplomasi budaya telah dipraktikkan di segala lini oleh individu, komunitas masyarakat, hingga tingkatan negara bangsa," kata Wirajuda.

Belajar dari dinamikanya di masa lalu, ia menyebut Jalur Rempah sangat relevan untuk menjadi rujukan dalam mencari warna diplomasi Indonesia yang mengedepankan interaksi dan kehangatan dialog di berbagai bidang dan lapisan masyarakat.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Ruang Silaturahmi

Rempah-rempah (Liputan6.com/Komarudin)
Rempah-rempah (Liputan6.com/Komarudin)

Ketua Yayasan Negeri Rempah, Kumoratih Kushardjanto, menambahkan, Jalur Rempah bukan sekadar jalur perdagangan. Menurut dia, Jalur Rempah tak ubahnya seperti ruang silaturahmi danpertukaran antarbudaya yang melampaui ruang dan waktu.

"Karena kekayaan rempah-rempah kita, Nusantara dari masa ke masa menjadi simpul penting pertukaran antarbudaya yang mempertemukanberbagai gagasan, konsep, ilmu pengetahuan, agama, bahasa, hingga budaya, yang berkontribusi penting dalam membentuk peradaban dunia," urainya.

Karena itu, ia menilai narasi Jalur Rempah penting untuk selalu dibahas lantaran luasnya spektrum yang terkandung. Ia menyebut Jalur Rempah relevan menjawab tantangan-tantangan kontemporer, seperti ketahanan pangan, perubahan iklim, pengentasan kemiskinan, dan kesetaraan. "Di situlah pentingnya kita belajar, membaca dan mendengar dari berbagai perspektif," ucap Kumoratih.

Bukan Hanya Pengakuan UNESCO

Peluncuran Website Jalur Rempah dan Anugerah Karya Budaya Rempah Nusantara. (Liputan6.com/Henry)
Peluncuran Website Jalur Rempah dan Anugerah Karya Budaya Rempah Nusantara. (Liputan6.com/Henry)

Jalur Rempah yang diajukan pemerintah Indonesia sebagai Warisan Dunia ke UNESCO bagaikan gayung bersambut. Upaya ini meningkatkan antusiasme masyarakat yang setidaknya sejak 2014 telah menggulirkan narasi Jalur Rempah dalam berbagai kegiatan yang bersifat sporadis.

Yayasan Negeri Rempah dan Jaringan Masyarakat Negeri Rempah, sebuah jejaring simpul komunitas yang tersebar di beberapa provinsi bahkan mancanegara, semakin gencar memberikan ruang untuk menyuarakan gagasan-gagasan tentang Jalur Rempah di masyarakat. Meski demikian, Kumoratih mengingatkan bahwa pengakuan sebagai warisan dunia bukanlah tujuan utama.

"Narasi besar Jalur Rempah itu hanya sebuah pintu masuk agar kita dapat memaknai keberagaman yang membentuk Indonesia hari ini. Apa gunanya kita mendapatkan status world heritage kalau kita sendiri tidak punya pemahaman terhadap apa yang diamanahkan oleh dunia untuk kita jaga?" lanjutnya.

Penyelenggaraan International Forum on Spice Route (IFSR) yang ketiga akan digelar Yayasan Negeri Rempah pada 20-23 September 2021 secara daring. Acara tersebut mengusung tema Bridging Differences, Fostering Intercultural Understanding yang akan dihadiri pembicara dari dalam dan luar negeri.

Infografis Daerah Penghasil Rempah di Indonesia

Infografis Daerah Penghasil Rempah di Indonesia. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Daerah Penghasil Rempah di Indonesia. (Liputan6.com/Abdillah)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel