Jalur Tikus Manusia Perahu Sampai ke Indonesia

TEMPO.CO, Jakarta - Ribuan manusia perahu dari Afganistan, Pakistan atau Iran ingin mengadu peruntungan di Australia. Mereka rela menempuh jalur berliku, melawan ombak, demi menjadi sopir taksi atau kuli di Negeri Kanguru.

Laporan utama Tempo edisi 11 Juni 2012 berjudul "Wajah Sindikat Manusia Perahu" mengungkap jalur tikus dan menantang bahaya. Itu yang dilakukan Khaliqdad Jamdad dan keluarganya Agustus tahun lalu saat memutuskan untuk memboyong keluarganya ke Australia.

Dia tak punya pekerjaan tetap di Kabul, Afganistan. Kadang berjualan beras, kadang menjadi tukang bangunan. Apa pun yang bisa menghasilkan uang. Setelah menjual rumah dan isinya, Khaliqdad punya uang tunai US$ 23 ribu atau sekitar Rp 211 juta. Dia lalu mencari agen yang bisa mengatur perjalanannya ke tanah harapan. Ini bukan hal sulit di Afganistan.

"Saya sudah pernah tinggal di Australia selama setahun," katanya kepada Tempo. Dulu, dia juga masuk lewat jalur ilegal, naik kapal laut dan terdampar di Pulau Christmas. "Sekarang saya ingin anak-anak saya ikut menikmati hidup yang lebih baik."

Agen yang sanggup mengatur perjalanan keluarga Khaliqdad bernama Ramazan Ali. Tarifnya US$ 20 ribu sekitar Rp 186 juta. Menurut kebiasaan di banyak keluarga Afganistan dan Pakistan, uang sebanyak itu tidak langsung dibayarkan kepada sang agen. Khaliqdad menitipkannya kepada seseorang, yang bakal menyerahkannya kepada Ramazan, setelah mereka selamat sampai Australia. (Baca: Pedagang Karpet Penyelundup Manusia Perahu )

Pada hari yang disepakati, Khaliqdad dan keluarganya menyeberang ke Pakistan. Di sana mereka disambut dua agen lain, kolega Ramazan. "Namanya Hussein Ali dan Haji Kholam," katanya. Khaliqdad lalu menerima tiket menuju Bangkok, Thailand. Perjalanan pun dimulai.

Di Bandara Suvarnabhumi, sudah ada orang yang menjemput keluarga Khaliqdad. Agen lokal ini orang Thai asli. Dengan mobil, keluarga ini lalu dibawa ke Malaysia. Semua dokumen perjalanan mereka--paspor, visa, bekas tiket--dibuang. Sekarang mereka resmi menjadi imigran gelap.

Perhentian berikutnya adalah Terminal Larkin, Johor Baru. Di sini keluarga Khaliqdad bergabung dengan puluhan imigran lain. Ada yang dari Iran, Irak, Suriah, Pakistan, dan banyak negara rawan konflik lain. Mereka lalu dibawa ke daerah Sungai Rengit, kawasan hutan bakau di selatan Johor Baru. (Baca juga: Nelayan Pengirim Manusia Perahu Dibayar Rp 10 juta)

Di sepanjang sungai itu ada rumah-rumah mungil 5x6 meter untuk menampung mereka. Lokasinya yang strategis dan tertutup itu membuatnya ideal sebagai titik pelarian ke negeri transit selanjutnya: Indonesia.

Pada Agustus lalu, ketika keluarga Khaliqdad berada di sana, seorang agen penyelundup lokal Malaysia sibuk menyewa sejumlah sampan kecil untuk menyeberangkan mereka ke Batam, Kepulauan Riau. Menurut seorang nahkoda kapal, pengungsi yang mau langsung ke negeri Koala kudu merogoh kocek sampai 15 ribu ringgit atau lebih dari Rp 45 juta. "Kalau cuma sampai Batam, hanya 2.000 ringgit," katanya. Mereka diangkut dengan sampan bermotor yang biasa disebut kapal pompong. Perjalanan makan waktu 2-3 jam.

Khaliqdad dan rombongannya lolos dari radar polisi. Begitu sampai di Batam, mereka berangkat ke Bandara Hang Nadim. Agen lokal di sini--kali ini orang Indonesia--sudah menyediakan tiket pesawat dan dokumen lain.

Perhentian terakhir mereka adalah Cisarua, Jawa Barat. "Di sana kami ditempatkan di sebuah rumah sewaan di Kampung Anyer," kata Khaliqdad. Selama delapan bulan berikutnya, keluarga Khaliqdad hidup di sana. Sampai suatu sore, awal April lalu, ketika telepon genggam Khaliqdad berdering. Agennya menelepon: ada kapal ke Australia. Tak sampai sehari, keluarga itu harus bersiap pergi.

TIM TEMPO

Berita Terpopuler Lainnya

Menelusuri Sindikat Manusia Perahu

Jalur Tikus Manusia Perahu Sampai ke Indonesia

Pedagang Karpet Penyelundup Manusia Perahu

Nelayan Pengirim Manusia Perahu Dibayar Rp 10 juta

KPK Bongkar Mafia Pajak di Balik Tommy

Wakil Ketua DPR: Maklumi Anggota yang Mengantuk

BCA Bawa Sudono Salim Jadi 12 Bankir Terkaya Dunia

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.