Jangan Anggap Sepele Stunting, Begini Cara Mencegahnya

·Bacaan 3 menit

VIVAStunting merupakan masalah kesehatan serius yang hingga kini masih menjadi momok bagi Indonesia. Pemerintah telah menargetkan penurunan stunting hingga 14 persen pada 2024. Namun, karena pandemi COVID-19, penanganan stunting menghadapi banyak tantangan.

Menurut Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018, sebanyak 30,8 persen anak Indonesia mengalami stunting. Yang ditandai dengan kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK).

Salah satu upaya Indonesia dalam mencegah stunting, Kementerian Kesehatan telah meluncurkan kampanye Tumpeng Gizi Seimbang pada 2013, dilanjutkan dengan Isi Piringku pada 2016 hingga saat ini.

Spesialis gizi klinik, Dr. Nurul Ratna Mutu Manikam, M.Gizi, Sp.GK, mengatakan, untuk mencegah stunting, ibu bisa melakukan langkah-langkah pencegahan, di antaranya menjalankan rekomendasi Isi Piringku.

"Yakni dalam 1 piring makan harus tersedia lengkap, mulai dari makanan pokok, lauk-pauk, dan sayur atau buah-buahan," ujarnya saat Live di Instagram @Ibu2Canggih kolaborasi dengan @isipiringku_id dan Danone Indonesia, Jumat 20 Agustus 2021.

"Komposisi Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan RI terdiri dari makanan pokok (sepertiga porsi) dan sayur (sepertiga porsi), serta sisanya adalah lauk-pauk dan buah-buahan (sepertiga porsi). Namun untuk balita, porsi lauk perlu ditambahkan lebih banyak," lanjut dia.

Nurul menambahkan, makanan pokok yang dimaksud bukan hanya nasi, tapi bisa divariasikan dengan kentang, singkong, jagung, sagu, ubi, dan lain-lain. Sedangkan lauk-pauk, bisa berupa protein hewani daging sapi atau ayam atau unggas, ikan, telur, serta protein nabati, seperti tahu, tempe, dan produk olahannya. Sementara sayur dan buah untuk si kecil, bisa berupa sawi, bayam, pepaya, jeruk, dan sebagainya.

"Menu makanan yang disiapkan harus bervariasi. Dalam satu menu harus ada makanan pokok, lauk pauk berupa protein hewani dan nabati, dan juga ada sayur. Buah juga ditambahkan sebagai makanan selingan pada jadwal pemberian MPASI (makanan pendamping ASI)," kata dia.

Menurut Nurul, stunting pada anak bisa dicegah sedini mungkin. Hal yang dapat orangtua lakukan saat anak masih berusia di bawah 5 tahun adalah memenuhi nutrisi optimal sejak seribu hari pertama kehidupannya, yaitu sejak hamil hingga usia anak 3 tahun, serta memberikan ASI eksklusif minimal 6 bulan.

Lebih lanjut Nurul menerangkan, saat anak menginjak usia 6 bulan, kenalkan MPASI yang mengandung gizi seimbang yang berisi zat gizi makro (karbohidrat, protein, lemak) dan zat gizi mikro (vitamin dan mineral dari sayur dan buah).

"Jangan lupa juga untuk pantau kenaikan berat dan tinggi badan secara teratur, serta mengikuti program imunisasi dasar. Jika ibu mencurigai anak mengalami stunting, segera periksakan ke dokter dan lakukan langkah-langkah sesuai dengan rekomendasi dokter," ujar Nurul.

"Atau sederhananya, anak tampak memiliki perawakan lebih pendek dibandingkan anak seusianya. Tetapi, anak yang terlihat pendek belum tentu stunting karena gejala stunting ini harus dilihat secara keseluruhan oleh dokter," kata Nurul.

Nurul menjelaskan, penyebab stunting pada anak di Indonesia beragam. Mulai dari kekurangan energi kronik pada ibu hamil, kurangnya pengetahuan ibu, penyakit infeksi berulang pada anak, sanitasi yang kurang, hingga layanan kesehatan yang terbatas.

"Jika anak mengidap stunting, sistem imunnya bisa kurang baik sehingga anak mudah sakit. Selain itu, kecerdasannya juga berada di bawah rata-rata sehingga prestasi belajarnya tidak bisa maksimal," tuturnya.

"Langkah pencegahan stunting harus dimulai dari sekarang demi masa depan anak yang lebih baik. Salah satunya dengan menjalankan rekomendasi makan sehat dan seimbang ala Isi Piringku," kata Dr. Nurul.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel