Jangan Disepelekan, Osteoporosis Bisa Intai Usia Anak

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Penyakit-penyakit tidak menular saat ini, bukan lagi hanya menyerang usia lanjut (lansia) tapi juga mengintai kelompok anak dan remaja. Salah satunya, yang juga kerap diabaikan, adalah penyakit pada tulang alias osteoporosis.

Osteoporosis merupakan penyakit yang diakibatkan oleh berkurangnya kepadatan tulang yang berdampak pada tulang yang rentan patah. Menurut Ketua Umum Perhitungan Osteoporosis Indonesia (PEROSI), dr Bagus Putu Putra Suryana, SpPD-KR, usia berapa pun bisa terserang penyakit tulang tersebut, bahkan anak-anak sekalipun.

"Kalau dari awal memang pertumbuhan tulangnya tidak bagus. Jadi persepsi yang salah di masyarakat memang dikatakan osteoporosis (terjadi) pada lansia. Pada anak-anak, pada orang dewasa pun bisa mengalami osteoporosis," ujar dokter Bagus, dalam acara virtual bersama Anlene bertajuk Hari Aktivitas Fisik dan Hari Kesehatan Sedunia, baru-baru ini.

Penyebab utamanya sendiri adalah sumber nutrisi yang tak mencukupi sejak kecil, yakni kalsium dan vitamin D. Faktor lainnya yang juga ikut berperan besar adalah minimnya aktivitas fisik. Apalagi saat ini, era pandemi membuat masyarakat malas bergerak dan berolahraga. Imbasnya, kepadatan tulang menurun dan membuatnya rentan patah.

"Sehingga patah tulang bisa terjadi pada usia berapa saja. Osteoporosis pada anak-anak itu bisa mengalami patah tulang juga," kata dia.

Senada, Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga, Kementerian Kesehatan RI, dr. Riskiyana Sukandhi Putra, M.Kes, menyebut bahwa menurut WHO, 1 dari 4 orang dewasa dan 3 dari 4 remaja umur 11-17 tahun tidak memenuhi standar aktivitas fisik yang dianjurkan.

Sementara di Indonesia, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2018, sebanyak 33,5% masyarakat kurang aktivitas fisik. Tingkat kebugaran erat kaitannya dengan aktivitas fisik karena orang yang cukup melakukan aktivitas fisik maka tingkat kebugarannya akan baik.

Dalam situasi pandemi COVID-19 masyarakat dianjurkan menjalani aktivitas dari rumah saja, hal ini memicu gaya hidup sedentari dan kurang aktivitas fisik. Kita tahu bahwa gaya hidup sedentari berisiko menyebabkan penyakit tidak menular seperti hipertensi, stroke, diabetes, penyakit jantung, dan lainnya.

"Meskipun dalam situasi pandemi, perilaku hidup sehat aktif harus tetap dilakukan karena investasi kesehatan jantung, paru dan termasuk juga kesehatan tulang, sendi, otot sejak usia dini penting untuk kesejahteraan secara menyeluruh di setiap tahapan kehidupan," tutur dokter Riskiyana.