Jangan Kudet, Ini Cerita Yudi Handoyo Jadi Presenter tvOne

Syahdan Nurdin
·Bacaan 4 menit

VIVA – Kisah Yudi Handoyo menjadi presenter tvOne tak lepas dari perjalanan hidupnya masa kecil di Palembang dan saat kuliah di Bandung.

Ketertarikannya dengan dunia broadcasting, Yudi rasakan saat masih kecil. Waktu itu, ia senang menonton tv berita. Ia juga gampang terharu saat menyaksikan berita penyanyi Nike Ardila meninggal dunia, begitu juga peristiwa tsunami Aceh.

"Ada kepikiran, enak ya jadi presenter berita, terlihat wibawa, ganteng, keren, terus bermanfaat gitu ngasih informasi ke banyak orang," jelas pria kelahiran Palembang, 1 April 1988.

Keinginan Yudi makin kuat saat di bangku SMA. Waktu itu, ia nyaris terpilih jadi presenter berita di tv lokal, Palembang TV. Namun, karena masih SMA, ia ditolak. "Wajah saya masih anak anak, saya di-cut," jelas Yudi Handoyo, Jumat, pekan ini.

Lulus SMA, pada 2006, Yudi kuliah di Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung. Ia mengambil Desain Kamunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain. Yudi Handoyo lulus kuliah tahun 2012.

Nah, waktu kuliah di Itenas Bandung, karena duit anak kos yang makin tipis, kiriman orangtua sering habis, Yudi cari kerja freelance supaya dapat uang tambahan.

Yudi mencoba casting jadi penyiar radio. Lalu ia melamar ke banyak radio, dan diterima di PRFM pada 2010. Di sini ia jadi wartawan tulis, wartawan radio, dan penyiar radio di PRFM.

Di PRFM, Yudi sering meliput kegiatan Klub Persib Bandung, musibah banjir, kebakaran, longsor, kecelakaan, dll. "Saya tuh tipe pekerja keras, kalo ngejar berita, anak-anak bilang saya milita," jelas Yudi yang juga pernah menjadi marketing herbal saat kuliah.

Waktu terus berjalan. Saat ada lomba presenter berita Korp Protokol Mahasiswa (KPM) di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Yudi ikut mendaftar. Ia penasaran ingin membuktikan jadi presenter berita tv bisa atau tidak.

Pada waktu itu, jurinya ada presenter Prabu Revolusi dan Charles Bonar Sirait. Pesertanya ada 100 orang. Ternyata, Yudi masuk final. Di final, MC-nya Andromeda Mercuri.

Yudi mengaku sudah kenal dengan Andromeda dari zaman SMA. Di situ Andro sudah di tvOne. Yudi bertanya-tanya soal tvOne. Ternyata, dalam lomba itu, Yudi tidak menang. Hanya dapat peringkat 4. Yang pertama dimenangkan oleh Fristian Griec Humalanggi.

Setelah lomba presenter di Unpad, Yudi ternyata diterima kerja di Bandung TV sebagai news anchor, bahkan pada tahun 2013 Yudi mendapat penghargaan dari KPID Awards kategori berita tv.

Kaier Yudi terus naik. Pada tahun 2013 itu juga, Yudi mulai melamar ke tv-tv nasional. Ia sempat nyaris diterima di NET.TV, tapi saat lagi negosiasi gaji di NET.TV, ia dihubungi tvOne. "Saya dihubungi Mba Sabrina, HCD tvOne, katanya saya keterima, langsung pilihan saya ke tvOne," jelas Yudi yang bangga tvOne menjadi tv berita terdepan.

Cerita Yudi belum berakhir. Keinginannya tak sesuai. Di tvOne, Yudi ternyata ditempatkan di bagian reporter dokumenter dan talkshow. Jauh dari ekspektasi sebenarnya, di news dan presenter.

"Ya, sudah saya jalanin aja dengan maksimal, lagi pula saya agak minder dengan presenter-presenter di tvOne yang ganteng dan cantik cantik banget," jelas Yudi yang orangnya pendiam dan menyukai menggambar dan mendengarkan musik ini.

Yudi Handoyo pun menjalani tugas-tugasnya di departemen dokumenter dan talkshow dengan profesional. Namun, sewaktu-waktu ia juga diminta untuk membantu departermen news.

Saat itu, kadang Koordinator Liputan News minta Yudi backup tim live report karena kurang orang. Ia jalani beberapa kali live buat news. Ternyata, lama-lama dirinya dinilai lumayan saat live report.

"Pada 2016, Mba Dwi Anggia manggil saya, disuruh casting presenter, dan ternyata langsung keterima dan seminggu kemudian siaran di Kabar Dunia, Kabar Siang dan Kabar Pagi," jelas Yudi yang kini membawakan program Kabar Arena Pagi dan Best World Boxing.

Selama menjadi reporter dan presenter tvOne, Yudi Handoyo sering mendapatkan liputan momen-momen besar dan wawancara eksklusif. Misalnya wawancara pertama dengan Budi Waseso saat jadi ketua BNN, kemudian wawancara para menteri; Menpora, Menkumham, Mensos, Mendagri.

Ia juga wawancara tokoh lainnya, seperti Erik Thohir, Anis Baswedan, Prabowo Subianto, Sandiaga Uno, artis Maria Ozawa, dan pelatih-pelatih Timnas.

Tak hanya itu, ia juga liputan bencana erupsi gunung Sinabung, gunung Kelud, longsor Banyumas, juga membongkar beberapa kasus penganiayaan PRT, kasus JIS, kasus panti asuhan Samuel, dan lainnya.

Yang tak kalah menariknya liputan khusus Timnas di Chiangmai Thailand, liputan Asian Games, Sea Games Filipina, Piala Asia U-23 Vietnam, Piala AFF U-23 Kamboja, Piala AFF Singapura, dan masih banyak lagi.

"Kalau ceritain yang menarik, udah gak kehitung. Kalo senengnya, saya bersyukur bisa liputan keliling dunia, namun cerita liputan sedihnya juga banyak," jelas Yudi yang dikenal workholic, kalau sudah kerja lupa waktu sampai menginap di kantor.