Jangan Memaksakan Diri Berkorban untuk Orang yang Tak Menyukaimu

Fimela.com, Jakarta Mencintai diri sendiri bukanlah tindakan egois. Justru dengan mencintai diri sendiri, kita bisa menjalani hidup dengan lebih baik. Di antara kita ada yang harus melewati banyak hal berat dalam hidup sampai rasanya sudah tak punya harapan apa-apa lagi. Namun, dengan kembali mencintai diri sendiri dan membenahi diri, cahaya baru dalam hidup akan kembali bersinar. Melalui salah satu tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba My Self-Love Story: Caramu untuk Mencintai Diri ini kita akan memetik sebuah inspirasi baru yang dapat mencerahkan kembali hidup kita.

***

Oleh: Dwi Astuti

Ini adalah cerita masa laluku.

Awal mula masa remaja yang tak kuhadapi dengan baik. Memasuki usia di mana aku memakai seragam putih biru, bukan lagi putih merah, senang bukan main rasanya saat itu. Aku sekolah di kota bertemu teman baru, lingkungan baru dan bau buku tahun ajaran baru yang sangat kunantikan.

Awalnya aku pikir semua akan menyenangkan sesuai apa yang aku bayangkan, namun hal lain diluar dugaanku terjadi. Seperti sebelumnya, tugas pelajar adalah belajar tanpa memikirkan hal lain, itu yang kujalani dulu. Aku punya banyak teman dan kami sama-sama senang belajar, tapi teman baruku sekarang berbeda. Belajar bukan hal pokok yang mereka jadikan acuan.

Aku kaget karena di kota penampilan begitu diperhatikan, sementara yang aku tahu berpenampilan sesuai aturan sekolah adalah cukup. Aku tak tahu kalau jam tangan Baby-G menjadi primadona murid perempuan di sekolahku, potongan rambut pun ternyata ada banyak jenis dan selalu berganti setiap musim, bedak ini itu dan lainnya. Untungnya hal itu tidak begitu mempengaruhi kehidupan remajaku. Aku masih bisa menjadi diriku sendiri, remaja desa yang tetap berpegang teguh pada buku tata tertib sekolah, apa yang tidak ada dan tidak aku miliki tidak aku ambil pusing, sampai pada suatu hal yang membuat semua dari hidupku berubah.

Aku berteman dengan teman dari daerah yang aku pikir mereka bisa sepemahaman denganku, namun aku salah. Usia kami sama-sama remaja namun mereka begitu lihai melakukan body shaming. Mulai dari mengomentari bentuk wajah ovalku yang selalu dibanding-bandingkan dengan orang lain, mereka bilang bentuk wajahku jelek, mengomentari tubuhku yang kurus, mengomentari anak rambut di kepala yang tumbuhnya berdiri tegak, mengomentari rambutku yang lurus panjang tapi katanya jelek seperti ekor kuda, mata yang begini, alis yang begitu, telinga yang seperti ini, hidung yang seperti itu dan hal yang menurutku saat itu cukup menyakitkan untuk didengar. Aku yang masih remaja mendengar kata-kata itu untuk pertama kalinya tentu saja sedih.

Menyalahkan Diri

Ilustrasi. (Dok.Unsplash)

Aku mulai menyalahkan diriku kenapa aku hidup dengan tubuh seperti ini, melihat wajahku berulang kali, kembali menangis jika mendengar kata-kata itu. Lebih suka mengurung diri di kamar, takut bertemu orang dan sering menutup wajahku atau menunduk ketika berbicara dengan orang lain. Aku merasa menjadi manusia paling jelek di dunia, tidak percaya diri ketika harus presentasi di depan kelas dan otomatis fokus belajarku jadi hilang, rasanya aku tidak ingin sekolah daripada harus mendengarkan komentar jahat tentang tubuhku. Aku jadi menyalahkan Tuhan kenapa memberiku hidup seperti ini.

Bagaimana dengan temanku? Mereka biasa saja melontarkannya, tetap tertawa dengan gembira tanpa memikirkan kata-kata yang mereka lontarkan terus menerus itu telah membuat hidupku hancur. Aku, masih saja berteman dengan mereka, bagiku saat itu aku tidak mau satu orangp un membenciku dan aku harus melakukan sesuatu agar mereka semua menyukaiku. Nihil, aku malah semakin merasa sakit dan bahkan depresi.

Ibu prihatin dan menasihatiku agar mencari teman yang baik. Teman yang baik akan menerima kita apa adanya dan selalu mendukung kita untuk terus maju ke arah yang lebih baik. Tiga tahun kata-kata ibu aku abaikan, aku anggap ibu justru tidak mengerti posisiku, bagaimana aku harus menjauhi mereka, mereka mungkin akan terus mem-bully dan aku takut ini semakin membuatku terpuruk.

Segala cara aku lakukan, mulai dari jadi mengesampingkan orangtuaku dan mendahulukan kepentingan “teman”, rela menolong ini dan itu, rela meminjami uang, barang padahal aku juga membutuhkannya, jangankan terima kasih, sifat mereka tetap saja. Tetap suka melakukan shaming dan bahkan cenderung melakukan perudungan. Jika mereka ada masalah aku yang selalu dijadikan sasaran pelampiasan amarah. Terpuruk dan rasanya ingin mati, itu yang aku rasakan saat itu. Aku jujur tak berani bercerita pada orangtuaku, semua aku pendam sendiri.

Ibu Meninggal

Ilustrasi./(ATCHARIN SIMALHEK/Shutterstock)

Sampai akhirnya ibuku meninggal dunia. Ibuku satu-satunya teman dalam hidupku, yang selalu mendengarkan segala ceritaku tanpa men-judge dan tak hentinya mendukung segala kegiatanku. Aku.... rasanya sudah benar-benar mati. Aku bertanya lagi kepada Tuhan, apa yang Tuhan inginkan, kenapa masih memberiku hidup jika menghancurkanku seperti ini.

Memasuki masa putih abu-abu aku berdoa semoga tidak sekelas lagi dengan “mereka”. Dan Tuhan mengabulkannya, aku menangis haru, aku tahu Tuhan selalu ada dan mendengarkanku. Dan kata-kata almarhumah ibu benar adanya, teman yang baik akan menerima kita apa adanya dan selalu memberi dukungan kebaikan pada kita, dan mungkin berkat itu aku mendapatkan teman yang benar- benar baik.

Rasanya aku tidak perlu lagi terus-menerus membuat orang lain suka kepada kita, mengorbankan diri sendiri agar orang lain menyukai kita. Tidak perlu. Tidak perlu juga memaksakan terus berbuat baik pada mereka yang sudah jelas tidak menyukai kita, berlaku sewajarnya saja pada mereka. Karena masih banyak orang baik yang bisa memperlakukan kita dengan baik.

Duniaku berubah lagi, aku sudah menjadi mahasiswi, pemikiranku lebih terbuka lagi. Aku telah melupakan mereka yang menyakitiku dulu, aku menyayangi tubuhku, ini anugerah Tuhan yang paling indah. Aku harus bersyukur telah “dipinjami” tubuh yang kuat ini dari Tuhan, apa yang “mereka” lakukan dulu padaku bukan tugasku untuk membalas tapi tugas Tuhan.

Menjadi Manusia yang Lebih Baik

ilustrasi./Photo by Đàm Tướng Quân from Pexels

Tugasku adalah menjadi manusia yang terus belajar menjadi lebih baik, melakukan hal baik yang aku bisa, bersyukur, dan mempersiapkan diri menjadi ibu yang baik agar anak-anakku nanti juga bisa menjadi pribadi yang positif dan selalu menebar kebaikan. Tugasku adalah mencintai diriku luar dan batin dan membebaskannya dari seluruh perasaan negatif.

Sekarang aku sudah menikah, suamiku menerimaku apa adanya, anak-anakku pun tumbuh ceria, aku punya teman walau tak banyak tetapi mereka sangat baik dan tulus, aku menjalani hidup dengan hati yang jauh lebih bahagia. Untuk “mereka” saya mungkin tidak bisa memutus tali pertemanan begitu saja, namun karena kepribadian mereka hingga kini tidak berubah, jadi saya memutuskan membatasi hubungan dengan mereka.

Semoga cerita saya menjadi pembelajaran bagi semua bahwa tidak perlu memaksakan berbuat baik dan membuat seluruh orang menyukai kita. Pembelajaran juga bagi kita wanita calon ibu agar mengajarkan self-love dari berbagai aspek pada anak-anak kita sejak dini dan mengawasi lingkup pertemanan mereka. Segala yang ada pada diri kita tubuh kita, pemikiran kita, dan keluarga tercinta kita adalah anugerah Tuhan yang diciptakan spesial untuk kita, tidak bisa dibanding-bandingkan dengan milik orang lain.

#ChangeMaker