Jangan Mendewakan Jaringan 5G

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kementerian Komunikasi dan Informatika atau Kominfo beberapa hari yang lalu mengumumkan operator telekomunikasi yang memenangkan lelang pita frekuensi 2,3GHz pada rentang 2.360-2.390MHz yang nantinya akan digunakan untuk jaringan 5G.

Mereka adalah PT Smart Telecom Tbk (Smartfren), PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) dan PT Hutchison 3 Indonesia (Tri Indonesia). Masing-masing dari perusahaan telekomunikasi ini mengajukan penawaran Rp144.867.000.000.

Baca: Smartfren, Tri Indonesia dan Telkomsel Menangkan Frekuensi 5G

Dengan diumumkannya pemenang frekuensi untuk jaringan 5G diharapkan juga jaringan generasi kelima itu bisa cepat diimplementasikan di Indonesia. Karena, sudah banyak negara yang menyediakan jaringan terbaru tersebut. Meski begitu, pemerintah diminta jangan terlena oleh iming-iming jaringan 5G yang super cepat.

Menurut Country Director Fortinet Indonesia, Edwin Lim, teknologi dan kejahatan selalu saling berkejar-kejaran. "Pada dasarnya jaringan 5G membawa dimensi baru. Penggunaan digital akan semakin masif, sangat cepat, tidak ada lag, dan halus," katanya, Selasa, 22 Desember 2020.

Ia mengingatkan kejahatan siber ketika jaringan 5G sudah beroperasi adalah serangan swarm. Hacker atau peretas akan melakukannya di latar belakang yang memanfaatkan perangkat berkemampuan 5G, sehingga membuka peluang melakukan serangan yang lebih canggih dan dahsyat.

Serangan siber akan menggunakan swarm dari perangkat-perangkat yang berbahaya, atau disebut swarmbots, untuk mengidentifikasi dan menargetkan vektor-vektor serangan berbeda dan secara serentak memungkinkan kecepatan dan skala yang sangat besar.

Kejahatan siber juga telah membuat kemajuan dalam mengembangkan dan menyebarkan serangan swarm. Serangan ini membutuhkan kekuatan pemrosesan dalam jumlah besar dan memungkinkan swarm individu berbagi informasi secara efisien dengan swarmbots.

"Swarmbots bisa komunikasi satu sama lain, melakukan serangan secara terstruktur, baik parsial maupun masif. Serangan ini bisa cepat berkembang jika penyedia jaringan 5G tidak memiliki mekanisme proteksi. Artinya, pipa atau jaringan 5G yang positif bisa termakan oleh jaringan negatif (hacker)," tegas Edwin.

Ia melanjutkan, jika jaringan positif 'termakan' yang negatif, memungkinkan para hacker menemukan dengan cepat, berbagi, dan menghubungkan kerentanan keamanan. Lalu, mereka mengubah metode serangan untuk mengeksploitasi apa yang ditemukan.

"Kami menyarankan kepada perusahaan telekomunikasi penyedia jaringan 5G untuk menerapkan pengamanan, baik untuk pribadi maupun korporasi, dengan menggunakan konsep yang lebih canggih. Karena, kalau bicara serangan siber maka kita akan berpacu dengan waktu soal perlindungan," jelasnya.