Jangan Ragu The Power of Sedekah, Mengenal Titik Awal Arumi Food Membuka Usaha Masakan Rumahan

·Bacaan 5 menit

Fimela.com, Jakarta Banyak hal yang bisa menjadi alasan untuk memulai sebuah usaha. Sebagian mungkin ingin mengejar passion, ada lagi yang ingin menjadi bos untuk dirinya sendiri. Apapun alasannya, semua itu bisa menjadi hal yang memotivasi diri untuk segera mewujudkannya.

Begitu pun yang dialami Romi, owner Arumi Food yang kini telah dikenal kualitasnya menghadirkan masakan khas Minang yang dijual secara online di berbagai platform. Kini Arumi Food juga hadir di platform ManisdanSedap.com yang merupakan bagian dari KLY (KapanLagi Youniverse) sebagai Digital Media Network yang juga menaungi Liputan6.com, Merdeka.com, KapanLagi.com, Dream.co.id, Brilio.id, Fimela.com, Bola.com, Bola.net, dan Otosia.com ini memudahkan penikmat kuliner menemukan dan memesan menu PO dari berbagai daerah.

Berawal dari keinginan untuk sedekah, Arumi Food kini berkembang menjadi usaha rumahan yang mampu bersaing di era digital. Namun, tidak ada yang mudah saat memulai langkah pertama. Kisah dari Romi dalam mendirikan Arumi Food ini bisa menjadi inspirasi buat kamu yang juga ingin membangun bisnis sendiri, Sahabat Fimela.

Nazar yang Dibuat Saat Menantikan Keturunan

Kehidupan rumah tangga yang dijalani Romi dan sang istri bisa dibilang penuh tantangan. Selain harus menjalani long distance marriage alias LDM Jakarta – Bandung karena tuntutan profesi yang berbeda, mereka pun mendambakan kehadiran buah hati yang selalu dinantikan. Hingga usia 6 tahun pernikahan, Romi dan istri harus terus memupuk kesabarannya melakukan berbagai terapi dan pengobatan demi mendapatkan momongan.

Sampai pada akhirnya di tahun 2018, tanpa sengaja ia memiliki keinginan untuk membuat usaha. "Sekitar tahun 2018, ketika saya pulang kerja tanpa sengaja hati saya berceletuk, bahwa saya ingin membuat usaha tapi sebagian dari rezeki yang saya dapatkan bisa saya donasikan kepada fakir miskin dan anak yatim piatu dalam bentuk bantuan biaya pendidikan tanpa tidak harus meminta bantuan kepada orang lain. Saya ingin memberikannya dari hasil keringat saya sendiri. Mudah mudahan nazar ini bisa memudahkan kita mendapatkan keturunan celetuk saya dalam hati saya," ceritanya dalam sesi wawancara bersama tim Fimela.com.

Saat sang istri memutuskan untuk meneruskan Pendidikan S3 di Jakarta, tanpa diduga ia mendapatkan beasiswa penelitian di Belanda. Tak hanya itu saja, kabar baik lain juga hadir karena sang istri tercinta akhirnya mengandung buah hati yang selama ini sudah dinanti.

Kehidupan di Belanda yang Mengubah Segalanya

Berangkat ke Belanda, bisa dibilang Romi, istri, dan Arumi sang anak hanya bermodal nekat karena dengan keterbatasan dana. Beberapa bulan kemudian, Romi berusaha mencoba mencari kerja namun sayangnya hal tersebut sulit dilakukan karena terbentur bahasa. Ia pun mendapatkan saran dari teman-teman Diaspora untuk menjual makanan khas Minang.

Namun, rencana ini tentu bukan hal yang mudah terlebih untuk orang yang tidak pernah memasak. Butuh waktu setahun untuk mengenal bumbu dan belajar masak secara otodidak. Apalagi banyak tantangan yang dihadapi, seperti sulitnya menemukan rempah-rempah di Belanda dan adanya perbedaan bumbu dapur di Belanda dengan di Indonesia.

Bawang merah di Belanda berbeda dengan di Indonesia (c) Shutterstock
Bawang merah di Belanda berbeda dengan di Indonesia (c) Shutterstock

“Contoh sederhananya seperti bawang merah, yang dijual di Belanda itu adalah shallot. Memang bawang ini berwarna merah tapi ukurannya hampir mirip dengan ukuran bawang bombay dan aroma serta rasanya berbeda dengan bawang merah yang biasa kita gunakan. Sedangkan bawang merah di Indonesia cenderung berukuran lebih kecil dengan ketajaman dan bau bawang yang khas. Bawang merah di Belanda bisa membuat kita menangis dua kali lipat," cerita Romi kemudian.

Tantangan Bisnis Kuliner di Belanda

(c) Instagram/the_arumi_food
(c) Instagram/the_arumi_food

Setelah proses uji coba dan tes rasa berkali-kali untuk meyakinkan diri bahwa masakannya layak dijual, Romi akhirnya mulai memberanikan diri untuk berjualan. Namun, ia menemukan tantangan lain karena prosedur berjualan di Belanda ternyata harus memiliki izin usaha. Proses mendapatkan izin juga nggak semudah itu, karena harus melalui proses pengujian seperti kebersihan tempat usaha, jenis usaha, dan turn over.

"Salah satu cara yang kita bisa jalani adalah share kitchen yang dinaungi oleh pemerintah Belanda. Perbedaanya adalah skala produksinya tidak sebesar restoran melainkan melayani sedikit pesanan. Terinspirasi dari platform usaha milik pemerintah Belanda itu, maka awalnya nama usaha kami itu adalah Arumi Kitchen, dan setelah di Indonesia menjadi Arumi Food," lanjut Romi.

Masa-masa awal berjualan juga menjadi momen yang penuh tantangan bagi Romi. Rasa cemas pun muncul apakah ada yang mau membeli produk makanan yang ia jual. Tapi, hasilnya ternyata di luar ekspektasi.

"Tetapi yang terjadi di saat pertama kali saya open PO untuk salah satu masakan itu ternyata melebihi dari ekspektasi saya. Antusiasme pasar jauh melebihi dari perkiraan kami, hal ini yang membuat kami menjadi lebih semangat dan dukungan dari keluarga mulai datang," ceritanya kemudian.

Kembali ke Indonesia, Tantangan Lain pun Hadir

(c) Instagram/the_arumi_food
(c) Instagram/the_arumi_food

Begitu kembali ke Indonesia, tantangan lain pun dihadapi oleh Arumi Food yang dikembangkan oleh Romi. Permasalahan di negeri sendiri ternyata lebih kompleks, mulai dari standar bahan yang berubah, harga tidak stabil, hingga persaingan ketat karena banyak seller lain yang menjual makanan serupa.

“Kita harus benar-benar selektif dalam mencari target market untuk setiap jenis produk. Pandemi juga mempengaruhi penjualan. Di sini saya mulai berpikir keras bagaimana memanfaatkan modal yang sedikit tetapi tetap efektif saat pandemi. Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada memulai membenahi masalah satu per satu,” ungkap Romi.

(c) Instagram/the_arumi_food
(c) Instagram/the_arumi_food

Romi mulai membuat standar makanan yang menjadi ciri khas Arumi Food yang menjadi pembeda dengan masakan sejenis. Ia pun berusaha mencari target market yang lebih terarah demi mempertahankan bisnis. Arumi Food memiliki beberapa menu andalan seperti Rendang Sapi, Rendang Hati, Rendang Paru, dan Rendang Telur. Bagi pecinta makanan pedas, mereka menawarkan Ayam Cabe Hijau, Bebek Cabe Hijau, Dendeng Kering, Dendeng Basah serta Bumbu Ikan Bakar Arumi.

Tak hanya sampai di situ saja, Romi juga sudah memiliki rencana pengembangan Arumi Food ke depannya. Ia ingin mengembangkan usaha melayani jasa catering service untuk perusahaan, pemerintah, hotel, pernikahan, dan berbagai acara lainnya. Untuk penjualannya sendiri, produk Arumi Food kini sudah mulai melayani permintaan di luar negeri seperti Singapura, Jerman, dan Belanda. Saat ini, Arumi Food juga telah memiliki reseller di Bali, Jerman, dan Belanda.

Penasaran seperti apa cita rasa masakan khas Minang yang diusung oleh Arumi Food? #AyoPO sekarang dengan mengunjungi ManisdanSedap.com!

Yuk PO Sekarang di ManisdanSedap!

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel