Jatuh Bangun Wirausahawan Surabaya Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Surabaya - Randy Permana (29) wirausahawan asal Surabaya berbagi cerita jatuh bangun dirinya dalam usaha di tengah pandemi Covid-19. Dia mengaku mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah akibat wabah virus yang melanda Indonesia pada awal Maret 2020.

Randy menceritakan, sebelum pandemi Covid-19, dirinya berbisnis sebagai agen travel pada enam tahun lalu yang melayani perjalanan wisata luar negeri dan domestik. Rombongan wisatawan yang ditanganinya juga cukup banyak.

Namun saat wabah virus corona menyerang Indonesia, dia merugi sekitar Rp 200 juta rupiah karena harus mengembalikan uang pelanggan dari menjual aset dan meminjam dari bank. Pasalnya, uang yang sudah diberikan pelanggannya dibayarkan kepada pihak travel.

"Saya berhutang bank karena untuk mengembalikan uang-uang dari peserta-peserta travel saya, agar mereka tidak rugi dan melihat saya orangnya bertanggung jawab, tapi mereka gak perlu tahu kalau saya berhutang bank," tuturnya, Selasa (12/1/2021).

Dengan sikap seperti itu, maka pelanggan pria yang akrab disapa Randyprmn di Instagram tersebut merasa tidak kecewa. Dan ketika dia mencoba menjual produk apapun kepada pelanggannya maka produknya terbeli karena telah terbangun kepercayaan atau trust building.

"Dari situ mereka merasa saya amanah, saya bertanggung jawab dan ketika saya mencoba menjual apapun di saat pandemi. Mereka sangat mensupport sekali dengan trust building itu, karena percaya karena kita baik sama orang maka hasilnya orang itu akan baik dengan kita," ucapnya.

Setelah menutup agen travelnya, Randy mencoba mencari kesempatan usaha untuk bertahan hidup dan dia melihat peluang di awal pandemi Covid-19 dengan menyediakan jasa penyemprotan disinfektan, namun tidak bertahan lama karena banyak kampung maupun perumahan melakukan semprotan disinfektan mandiri.

Kemudian dia beralih ke usaha kuliner khas Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan membuka Sei Sapiku bersama teman lamanya. Alhasil kini dirinya memiliki puluhan gerai makanan di beberapa kota di Indonesia, dua diantaranya difungsikan sebagai dapur pusat yakni di Jakarta dan Surabaya.

Tak puas dengan hasil tersebut, Randy yang juga ingin membantu meringankan beban pemerintah dengan mengurangi angka pengangguran. Pemuda berusia 29 tahun tersebut melihat peluang lainnya yakni membuka gerai seluler Ibros untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran daring yang ditetapkan pemerintah sebagai upaya memutus rantai penyebaran Covid-19. Karena ketika membuka lini bisnis baru maka dapat menyerap tenaga kerja baru.

Panjang Mengeluh

"Kita melihat apa sih yang lagi ramai dijual, apa sih market yang lagi tinggi, apa sih yang memang orang-orang banya diperlukan di era pandemi ini. Ya itu kita jualan seperti itu," tegasnya.

Randy juga berpesan kepada masyarakat agar tak selalu mengeluh melainkan melihat peluang dari segala kondisi dan situasi. Namun ketika membuka usaha maka harus bisa dipercaya dan amanah serta menerapkan prinsip ATM (Amati, Tiru, Modifikasi).

"Jadi amati peluang yang ada saat ini kita coba untuk meniru, setelah meniru ini minimal sudah standar sudah sama baru kita modifikasi untuk lebih baik," tuturnya.

Saksikan video pilihan di bawah ini: