Jawa Tengah jadi percontohan pengembangan EBT tingkat nasional

Jawa Tengah terpilih menjadi percontohan dalam upaya pengembangan energi baru terbarukan (EBT) tingkat nasional oleh Institute for Essentiol Services Reform (IESR).


Direktur Eksekutif IESR Febby Tumiwa melalui keterangan pers tertulis yang diterima ANTARA di Semarang, Selasa, mengatakan pengembangan EBT di Indonesia tidak bisa dilakukan tanpa ada komitmen kuat pemerintah pusat maupun daerah dan Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Ganjar Pranowo berkomitmen penuh terkait hal itu.


"Komitmen Jawa Tengah dalam pengembangan EBT sangatlah kuat. Ini terbukti bagaimana Jateng merencanakan pembangunan energi daerahnya dan di RPJMD-nya yang konsentrasi pada EBT. Ini pelajaran penting bagi daerah lain di Indonesia dan harus dicontoh," katanya.


Selain itu, Jateng mengalokasikan anggaran untuk mendukung pengembangan EBT, dimana daerah lain belum banyak yang melakukan itu.


"Ini perlu kita contoh, dan harapan kami daerah lain juga mencontoh Jateng bagaimana pengembangan EBT serta memobilisasi peran masyarakat," ujarnya.


Pada tataran teknis, lanjut Febby, Jateng juga sudah melakukan pengembangan EBT dengan energi surya yang dibuktikan banyak gedung-gedung pemerintahan yang sudah memasang PLTS Atap untuk tenaga surya.


"Seperti rumah sakit, tempat pelayanan sosial dan lainnya. Pada tahun 2019, PLTS Atap di Jateng sebesar 0,15 MWp dan tahun 2021 sudah meningkat jadi 12,1 MWp. Selain PLTS Atap, Jateng juga sudah mengembangkan pembangkit listrik dari gas rawa, gas metan, tenaga air dan lainnya. Kalau ini bisa diterapkan di daerah lain juga, tentu akan luar biasa," katanya.


Secara khusus, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo diundang oleh IESR sebagai salah satu co-chair Civil20 (C20 Indonesia) untuk sharing keberhasilan pengembangan EBT dalam rangkaian acara G20 Side Event dan Energy Transition Working Group (ETWG) Meeting di Bali.


Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan pengoptimalisasian EBT saat ini mau tidak mau harus dilakukan sebab energi fosil semakin langka dan harganya semakin mahal.


"Maka komitmen-komitmen terkait EBT ini harus segera kita eksekusi. Memang kami sadar ini mahal, berat dan tidak mudah, tapi harus gerilya dengan kekuatan lokal yang ada," ujarnya.


Menurut Ganjar, Jateng memiliki banyak potensi EBT yang belum dioptimalkan seperti panas matahari, gas rawa, geothermal, angin dan air yang tersebar di banyak daerah di Jateng.


"Ya meski belum berhasil-berhasil amat, kami sudah memulai, kami mencoba mencari kekuatan lokal dan partisipasi dari masyarakat, untuk jalan pelan-pelan meskipun kecil. Beberapa desa sudah jalan bagus dan ini yang paling penting adalah, masyarakat bisa mandiri energi," katanya.


Berdasarkan data dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jateng, tercatat lebih dari 2.000 desa di Jateng telah mandiri energi dengan memanfaatkan EBT di daerahnya masing-masing dan hal itu akan terus digenjot agar lebih maksimal.

Baca juga: IESR sebut pemerintah daerah berperan penting dalam transisi energi

Baca juga: Kementerian ESDM giatkan pengembangan EBT berbasis masyarakat