Jawab Tantangan Global, Presidensi G20 di Bali Dapat Dukungan dari Sekjen PBB

Merdeka.com - Merdeka.com - Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di New York, Amerika Serikat (AS) (26/10), mendukung penuh penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali pada November nanti.

"Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersolidaritas penuh dan mendukung kepemimpinan Presidensi G20 Indonesia. Ini merupakan sebuah pencapaian diplomatik yang luar biasa di tengah kondisi global hari ini," ujar Sekjen Guterres dikutip dari Antara di Jakarta, Jumat (28/10).

PBB mengapresiasi langkah Indonesia dalam memimpin forum negara-negara G20 untuk menjawab tantangan global yang semakin kompleks. Adapun tema besar penyelenggaraan G20 kali ini adalah ‘Recover Together, Recover Stronger’ yang dimaksudkan untuk mendorong pemulihan ekonomi dunia pasca pandemi Covid-19.

Sebagai Presidensi G20, Indonesia mengawal tiga isu prioritas utama yang memerlukan kolaborasi global, yakni mengenai arsitektur kesehatan global, transisi energi berkelanjutan, serta transformasi digital dan ekonomi.

Terkait isu arsitektur kesehatan global, Menko Airlangga juga memaparkan kepada Sekjen PBB terkait keberhasilan Indonesia dalam mengusulkan Financial Intermediary Fund sebagai dana kesiapsiagaan, pencegahan, dan respon terhadap pandemi sebesar USD 1,4 miliar.

Dalam melaksanakan peran sebagai Presidensi G20, Indonesia terus melakukan koordinasi kebijakan global yang berkontribusi terhadap tata kelola dunia yang lebih seimbang, membuat G20 lebih adaptif terhadap krisis, dan memperjuangkan kepentingan nasional di forum global.

"Kita (Indonesia) telah menyelenggarakan lebih dari 440 forum pertemuan yang dilaksanakan menuju perhelatan puncak G20 pada November 2022 mendatang," ungkap Menko Airlangga kepada Sekjen PBB.

Banggakan Ketahanan Pangan

Dalam Pertemuan ini, Menko Airlangga juga membanggakan ketahanan pangan Indonesia dalam posisi surplus di tengah memanasnya konflik antara Rusia dan Ukraina dalam beberapa waktu terakhir.

"Ketahanan pangan Indonesia relatif kuat dengan adanya surplus produksi pangan dan ketersediaan pupuk untuk ke depannya," kata Airlangga dalam keterangannya.

Terkait penanganan dampak konflik Rusia dan Ukraina di sektor pangan, Menko Airlangga menyampaikan apresiasi atas upaya Sekjen PBB dalam pembentukan Global Crisis Response Group (GCRG) dan Black Sea Initiatives. Perjanjian tersebut akan berlangsung selama 120 hari dari bulan Juli dan akan berakhir pada bulan November ini.

"Pemerintah Indonesia mendukung perpanjangan Black Sea Initiatives hingga melampaui November 2022,” ungkap Menko Airlangga. [idr]