JBIC akan Biayai Proyek Pembangunan EBT di Indonesia

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu dengan Gubernur Japan Bank for International Cooperation (JBIC) Nobumitsu Hayashi di Hotel Imperial Tokyo, Jepang, Senin (25/7) lalu. Dalam pertemuan tersebut membahas sejumlah proyek yang dibiayai JBIC di Indonesia.

Airlangga mengatakan JBIC memiliki spesialisasi dalam memberikan pembiayaan di sektor energi. Beberapa proyek infrastruktur utama yakni Pembangkit Listrik Tanjung Jati-B, Jawa 1, dan pembangkit panas bumi Sarulla dan Muara Laboh, serta proyek LNG Tangguh.

"Proyek-proyek ini menyediakan sumber energi yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan ekonomi Indonesia," kata Airlangga dalam keterangan resminya, dikutip di Jakarta, Selasa (26/7).

Airlangga mengatakan fokus Indonesia beberapa tahun ke depan untuk memulihkan ekonomi dan kembali mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi dan berkelanjutan yang salah satunya didukung oleh ketersediaan infrastruktur energi. Pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk melaksanakan transisi energi ke Energi Baru dan Terbarukan (EBT) untuk mencapai Nationally Determined Contributions (NDC) pengurangan emisi karbon 29% pada 2030.

Pemerintah Jepang juga telah melakukan banyak kolaborasi dengan Indonesia dalam pengurangan emisi karbon. Salah satunya melalui skema Joint Crediting Mechanism (JCM). "Skema ini juga sedang dipertimbangkan sebagai bagian dalam kerja sama pendanaan JBIC dengan Indonesia dalam program transisi energi," kata dia.

Dalam pertemuan tersebut Airlangga juga membahas proyek Masela yang akan menjadi semakin strategis. Terutama pasca perang Ukraina dan Rusia dan karena melonjaknya kebutuhan gas dari negara-negara G7.

Gas menjadi sangat penting karena dapat digunakan sebagai bahan baku ammonia dan pupuk. Gas juga bisa digunakan membangun methanol, salah satu blending untuk biofuel. "Nilai investasi proyek ini mencapai USD 19,85 miliar," kata dia.

Namun demikian, proyek ini mempunyai tantangan ke depan antara lain adanya percepatan transisi energi, persyaratan dekarbonisasi, dan perubahan industri hulu migas. Sehingga perlu dievaluasi dan diidentifikasi ulang mengenai ruang lingkup proyeknya.

Gubernur JBIC, Hayashi menyebut Indonesia merupakan negara strategis dan mitra kerja penting. Dia pun berjanji akan memberikan dukungan dalam proyek-proyek energi bersih yang dibuat Indonesia. "Dukungan JBIC di bidang energi dengan mendukung listrik 11,6 GW yang sangat membantu pembangunan ekonomi Indonesia," kata dia.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita. Agus berharap agar ada proyek-proyek industri manufaktur yang besar di Indonesia dapat didukung oleh JBIC. Hayashi pun menyambut baik dan menjanjikan akan terus mendukung investasi perusahaan Jepang di industri manufaktur, khususnya sektor otomotif. [azz]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel