Jejak-jejak fakta Indonesia layak promosikan toleransi beragama

Presidensi G20 yang diemban Indonesia pada 2022 di Nusa Dua, Bali, tidak hanya menunjukkan bahwa negara kita layak menjadi tuan rumah kegiatan besar tempat bertemunya para pemimpin negara-negara besar di dunia, namun juga menjadi simbol bersatunya agama-agama lewat kegiatan tambahan Forum Agama 20 (R20).

Di tempat utama berkumpulnya tokoh-tokoh agama dan kepercayaan di dunia, yakni di Pulau Bali, Indonesia telah menunjukkan di Tanah Hindu itu, Nahdlatul Ulama, organisasi Islam besar, bersama Liga Muslim Dunia tidak ada persoalan dalam penerimaan satu sama lain. Acara itu diawali dengan penampilan seni-seni bernuansa Islam.

Selain menyajikan fakta bahwa umat Hindu Bali menerima kegiatan internasional yang digagas oleh organisasi Islam, Indonesia juga memamerkan pada seluruh delegasi R20 bahwa di negara kepulauan dengan penduduk mayoritas Islam ini, umat Hindu tumbuh dan tetap aman mempertahankan identitas ke-Hindu-annya tanpa terganggu.

Ketika kegiatan sampingan dari R20 yang diinisiasi oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya itu, peserta diajak mengunjungi Pondok Pesantren Sunan Pandanaran di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Di pondok pesantren asuhan K.H. Mu'tashim Billah itu ratusan peserta R20 disuguhi seni modern dengan lagu Bahasa Inggris bernuansa perdamaian, dengan "Heal the Wolrd" yang dipopulerkan penyanyi dunia Michael Jackson. Di pesantren ini Indonesia menunjukkan bahwa umat Islamnya tidak berpaham kaku, misalnya, anti pada musik dan seni. Bahkan pesantren itu menunjukkan sikap penghormatan lintas iman yang tulus sehingga para delegasi merasa nyaman berada di tempat itu.

Kemudian, Indonesia makin menunjukkan kapasitasnya sebagai negara yang penduduknya mayoritas Muslim, namun sangat melindungi minoritas, termasuk kekayaan sejarah peninggalan masa lalu Hindu, dengan tetap dipeliharanya situs Candi Kimpulan di Kampus Universitas Islam Indonesia (UII) di Sleman.

Pemimpin kampus dari yayasan Islam itu bukannya menghancurkan situs tersebut, melainkan justru memeliharanya. Keberadaan situs itu akan menjadi warisan besar bahwa kerukunan beragama di negeri ini bukan hanya menjadi fakta sejarah masa lalu, tapi hingga kini dan akan lestari di masa depan.

Di luar fakta-fakta yang tersaji dalam rangkaian langsung kegiatan R20, bukti-bukti bahwa mayoritas melindungi minoritas dan minoritas pandai menempatkan diri di tengah mayoritas juga sangat banyak dan bisa kita promosikan.

Fakta itu, antara lain, dapat kita saksikan kerukunan umat di sejumlah desa di Kabupaten Jember, Jawa Timur, seperti Desa Sukoreno, Kecamatan Umbulsari, atau di Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo.

Di Kabupaten Banyuwangi, indahnya toleransi itu bisa kita saksikan di Desa Sumbergondo, Kecamatan Glenmore, dan desa-desa di sekitarnya. Di Jember dan Banyuwangi, umat Islam dengan Kristen dan Hindu saling mendukung dalam kegiatan keagamaan yang berbeda. Kalau Idul Fitri, tetangganya yang Kristen dan Hindu ikut menikmati makanan hari raya. Demikian juga ketika Natal atau Galungan dan hari raya lain tiba, Umat Islam juga menikmati jajan hari raya itu. Mereka juga saling membantu agama lain yang sedang menyiapkan perayaan agama.

Beralih ke utara dari Jember dan Banyuwangi, yakni di Kabupaten Situbondo, dengan melihat warga di Desa Wonorejo, Kacamatan Banyuputih. Wilayah itu mendapat julukan Desa Kebangsaan karena kerukunan warganya yang berbeda agama. Mereka tidak saja rukun karena saling menghargai perbedaan keyakinan agama, melainkan juga dalam melestarikan budaya, seperti sedekah Bumi dan lainnya.

Kita kembali menengok Bali. Di Kelurahan Dauh Waru, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana, ada Pondok Pesantren Assiddiqiyah yang salah satu pengurusnya orang Bali asli yang beragama Hindu.

Fakta itu menunjukkan bahwa Islam yang direpresentasikan oleh pemimpinnya atau kiainya, pandai membawa diri di tengah mayoritas umat beragama Hindu. Sang kiai tidak menggunakan paham kaku bahwa sebagai lembaga pendidikan agama, pesantrennya harus diurus oleh orang Islam semua, tidak boleh ada campur tangan dari umat agama lain.

Makna kedua dari keberadaan pesantren itu adalah bahwa umat Hindu di Bali menunjukkan kedewasaan dan keluwesannya dalam beragama. Mereka tidak memandang agama lain dan segala aktivitasnya adalah musuh atau ancaman. Bagi orang Bali yang Hindu, semua adalah semeton atau kerabat. Dalam Islam, mereka yang tidak seiman juga merupakan saudara, paling tidak saudara se-Tanah Air atau dalam konteks lebih luas saudara sesama manusia.

Masih di Bali, ada organisasi Persaudaraan Hindu-Muslim Bali (PHMB) dengan tokohnya salah satu keturunan raja di Puri Gerenceng, Pemecutan, Kota Denpasar, yakni AA Ngurah Agung. Umat Islam dan Hindu di Bali sering berkumpul pada hari-hari raya dua agama itu.

Saat perayaan Idul Fitri, Gung Ngurah, panggilan akrab A.A. Gurah Agung, mengumpulkan umat Islam di Puri Gerenceng. Agar umat Islam tidak ragu dengan kehalalan saat hendak menikmati hidangan, Gung Ngurah mengundang penjual makanan yang Muslim untuk menyediakan makanan di acara kerukunan itu.

Begitulah serpihan-serpihan fakta kerukunan beragama di Indonesia. Tidak berlebihan kalau banyak kalangan meyakini bahwa Indonesia akan menjadi kiblat dunia dalam kerukunan beragama dengan pegangan dasar dan fondasi utamanya adalah nilai-nilai dalam Pancasila.


Editor: Achmad Zaenal M